Belajar Kehidupan Bersama Ketoprak Mataram

Ketoprak mataram

Ngadem.com – Sajian seni trasdisi yang ngademke pikiran ditengah rutinitas kesibukan. Sejenak meluangkan waktu disela gerimis yang tak kunjung usai. Melihat sebuah pertunjukan yang tak lekang oleh waktu. Ya, ketoprak Mataram yang dibawakan oleh keluarga kesenian Jawa RRI Yogyakarta.

Pertunjukan yang digelar secara rutin tiap bulan ini mampu menyedot animo masyarakat dari seluruh penjuru Yogyakarta. Selain sebagai hiburan, pertunjukan ini juga sebagai sarana pembelajaran lintas generasi. Karena, penontonnya berasal dari semua kalangan masyarakat dan memiliki latar belakang yang berbeda. Hanya ada satu alasan yang menyatukan mereka, yaitu cinta akan seni tradisi sebagai pusaka dalam kebudayaan Jawa.

Bagi penikmat seni yang tidak bisa datang di auditorium RRI Yogyakarta dapat menikmatinya melalui siaran langsung RRI Yogyakarta. Sedikit berbeda dengan yang disaksikan di panggung. Karena pertunjukan yang disajikan secara visual diubah dalam bentuk auditif yang mebuat pendengar berimajinasi seakan melihat secara langsung cerita yang di bawakan keluarga kesenian Jawa RRI Yogyakarta tersebut. Melalui imajinasinya pendengar bebas membayangkan wajah, pakaian suasana, juga ruang dan waktu saat cerita berlangsung.

Ketoprak mataram

Serasa menyusuri peradaban timur tengah ketika suara gamelan beralun mengantarkan cerita “Dewi Maya” (Mayat Hidup) pada tanggal 3 Februari 2016. Dengan kemasan nuansa Jawa dibalut kelucuan komedi, keluarga kesenian RRI Yogyakarta mengisahkan seorang putri cantik dari kerajaan Egypte bernama Dewi Maya yang cantik jelita.

Awal cerita, Dewi Maya menolak Sultan Hanun yang akan memperistrinya. Dengan kekuasaannya Sultan Hanun memaksa Dewi Maya untuk diperistri dan mau melayaninya. Kemudian datang Panglima Yudas (yang diperankan Angger Sukesno) untuk menyelamatkan Dewi Maya. Perkelahian tidak terhindarkan. Saat Panglima Yudas hampir kalah, datanglah Panglima Mahdi untuk membantunya. Akhirnya Sultan Hanun dapat dikalahkan.

Sebagai imbalan atas jasa kedua Panglima tersebut, Raja Egypte memberikan Dewi Maya sebagai istri dari salah satu penglima tersebut. Raja Egypte memberikan kebebasan kepadn Dewi Maya untuk memilih satu diantara dua Panglima. Pilihan Dewi Maya jatuh pada Panglima Yudas. Hal itu membuat Panglima Mahdi kecewa dan sakit hati.

Panglima Mahdi yang terbakar api cemburu menculik Dewi Maya kemudian memaksa untuk melayani Panglima Mahdi. Beruntung kejadian itu diketahui oleh Panglima Yudas dan seluruh jajaran kerajaan Egypte. Panglima Yudas dan Panglima Mahdi berkelahi. Perkelahian tersebut dimenangkan oleh Panglima Yudas dengan kematian Panglima Mahdi.

Ketoprak mataram

Sebelum kematiannya, Panglima Mahdi menulis pada selembar kain dengan darah dari jari yang telah ia gigit. Isi dari surat tersebut pada intinya adalah selama masih ada matahari yang terbit dari timur dan tenggelam ke barat, Panglima Mahdi akan tetap mencintai Dewi Maya. Mayat Panglima Mahdi disimpan dalam museum Egypte sebagai mumi disandingkan dengan surat yang telah ia buat dengan darahnya.

Singkat cerita, ada empat saudagar yang hendak membuat sayembara siapa yang berani masuk ke dalam museum egypte semalaman penuh akan mendapatkan seluruh harta dari tiga saudagar yang lain. Salah satu saudagar tersebut yang diperankan oleh Dalijo Angkring menyanggupi sayembara itu. Dengan rasa takut ia perlahan memasuki museum hanya dengan sebatang lilin. Ia melihat sebuah surat yang terletak di dekat mumi, kemudian ia baca. Ternyata surat tersebut adalah surat wasiat Panglima Mahdi. Setelah dibacanya surat tersebut, mumi Panglima Mahdi bergerak, berjalan sebagai mayat hidup.

Mayat hidup pangeran Mahdi berjalan mencari Dewi Maya. Dalam perjalanannya ia menemukan putri dari kasultanan Cirebon. Diambilnya putri itu dan diakuinya sebagai Dewi Maya. Sultan Cirebon mengejar mumi bersama dengan calon suami putri tersebut. Tertangkaplah mumi itu dan kemudian ia bakar sesobek kain dari tubuh mumi. Setelah itu mumi kembali tertidur dan pertunjukan berakhir.

Begitulah jalan cerita Dewi Maya (Mayat Hidup) yang dibawakan keluarga kesenian Jawa RRI Yogyakarta pada tanggal 3 Februari 2016 di Auditorium RRI Yogyakarta Jl. Afandi (gejayan) Yogyakarta. Namanya juga Yogyakarta, penonton dalam menyaksikan pertunjukan yang dikemas sangat bagus itu tidak dipungut biaya.

Berkesenian bukan masalah materi, melainkan masalah kesenangan yang ada dalam diri setiap manusia. Kepuasan batin setiap individu tidak bisa dibeli hanya dengan uang.

Written by Ibnul Fadli

Kotributor Ngadem.com - Lelaki Jogja tulen. Suka gamelan dan bercerita.