Bertemu Komunitas Sastra di Jogja, Ngopinyastro

Tulisan ini adalah catatan pengalaman pertama bertemu dan berkenalan dengan Komunitas Ngopinyastro, Komunitas Sastra di Yogyakarta.

Tidak ada mimbar apalagi podium, panggung pertunjukan bagi Komunitas Ngopinyastro adalah ruang kosong di antara meja-meja dan kursi-kursi warung kopi. Panggung Komunitas Ngopinyastro merupakan panggung bebas, siapa saja adalah sama, mereka yang membaca puisi di panggung Ngopinyastro boleh membebaskan diri dari tuntutan pekerjaan dan status sosial sejak dari lahan parkiran, boleh tidak.

Aku pesan secangkir kopi kepada si pelayan yang menawarkan sederet menu, kupilih kopi hitam volume sedang. Sementara menunggu pesanan tiba, seorang perempuan usia maba datang dengan membawa setumpuk buku, sambil menawar, “Silahkan, Mas, bacakan puisinya di depan atau ingin membacakan karya dari penyair-penyair di buku ini, monggoh jangan sungkan, gratis, Mas.”

Dermawan Bahasa, begitu lah sebutan bagi mereka yang datang dalam agenda open-mic Komunitas Ngopinyastro. Semua yang datang bebas menjadi siapa saja, seperti aku seorang perantau di Yogyakarta yang hanya ingin melupakan segenap hiruk pikuk kota. Seiring mereka para Dermawan Bahasa membacakan puisinya, aku tertarik untuk ikut serta, membaca puisi yang kutulis di gawaiku dari tahun-tahun yang lewat.

Puisi dirayakan sekaligus dihargai dalam meja-meja kopi, mungkin ini hal baru bagiku, panggung yang tanpa mimbar bisa saja membuat seorang penyair ternama diacuhkan atau malah sebaliknya. Lampu yang remang dipudarkan asap rokok, candaan dan sinyal wifi. Seorang Dermawan bahasa membacakan puisi di sana, di panggung dengan kelir hitam, “Wiji Thukul!” katanya, gelegar dari suaranya menghidupkan tatapan mata para pengunjung, mematikan langkah pelayan-pelayan dan melanggengkan detak jam berdecak keras.

Seorang lagi membacakan puisi Goenawan Mohammad “pada keramik tanpa nama itu…” sementara pengunjung melanjutkan obrolan. Selayaknya warung kopi dengan suara riuhnya, Dermawan Bahasa ditantang untuk diperhatikan atau diacuhkan saat menjajaki panggung Ngopinyastro.

Aku di sini bebas untuk menjadi siapa saja, boleh jadi aku seorang buruh, raja atau istri simpanan. Dalam pikiran, Ngopinyastro seperti ruang dan jalan, aku bisa jadi seorang migran lewat puisi dan ekspresi, memasuki ruang kelas yang lain.

Malam semakin tua saat akan kubacakan puisiku, pengunjung masih ramai, aku berdebar dipukuli detik jam.