Hai FilmMaker, 5 Cerpen Sastra Ini #Ntap! Juga Lho Kalau Kamu Angkat ke Film

Ngadem.com – Umumnya, sebuah film diangkat berdasarkan kisah nyata atau terilhami dari sebuah novel dan cerita pendek. Ya, sebut saja Negeri Lima Menara, Laskar Pelangi, Perempuan Berkalung Sorban, Filosofi Kopi, Pendekar Tongkat Emas, Marmut Merah Jambu, dan sederet kisah-kisah lainnya. Transformasi karya sastra—baik novel maupun cerpen—ke dalam bentuk film dikenal dengan istilah ekranisasi. Nah, ngomong-ngomong soal ekranisasi, kali ini kami ingin berbagi sedikit ulasan tentang “5 cerpen sastra yang layak diangkat jadi sebuah film”. Tertantang untuk membuatnya?

1. Jadilah Saksi, Betapa Kuatnya Doa dalam Cerpen Alesia

kutipan cerpen

Di awal cerita, kita langsung disuguhi sebuah dialog yang memilukan. Dialog tercetus dari seorang ibu kepada anaknya. “Kalau ibu pergi, Alesia, berjanjilah untuk tidak bersedih terlalu lama.” Benar, cerpen karya Sungging Raga ini berkisah tentang seorang anak bernama Alesia yang mempunyai keinginan kuat untuk menggantikan penderitaan Sang Ibu yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Alesia terus berdoa, memohon kepada Tuhan agar ibunya selalu diberi kesehatan.

Sampai pada suatu ketika, hadirlah sosok Malaikat yang mengetuk pintu rumahnya. Alesia lantas berpikir; jika Malaikat telah datang, berarti Malaikat itu ingin mencabut nyawa ibunya. Alhasil, Alesia kemudian menyusun sebuah siasat. Ia melakukan tindakan di luar nalar, yakni dengan melakukan upaya bunuh diri agar sosok Malaikat itu mencabut nyawanya terlebih dahulu—sehingga nyawa Ibunya bisa terselamatkan. Tapi malang, ternyata dugaan Alesia meleset. Ya, sebenarnya Malaikat itu ingin menyampaikan kabar gembira tentang kesembuhan Ibunya. Perhatikan dialog berikut ini!

“Tapi dokter bilang, tidak ada lagi obat yang bisa menyembuhkan penyakit saya.” (ucap ibunya, Ed)

“Tidak. Masih ada satu obat yang tak dipikirkan oleh dokter mana pun.”

“Apa itu?”

“Doa… Anak gadismu yang setiap pagi dan petang selalu mendoakan kesembuhan ini. Anakmu yang sepanjang hari selalu berharap kau kembali seperti sedia kala. Jadi, aku dikirim untuk mengabarkan kesembuhanmu sesuai yang telah ditakdirkan. Nikmatilah…”

Cerpen yang sempat dimuat di harian Kompas ini memang layak ditransformasikan ke dalam bentuk karya visual. Alurnya pun terasa begitu filmis, karena terdiri dari beberapa adegan yang saling mengikat satu sama lain. Twist di akhir cerita pun cukup berhasil, sehingga mampu mengejutkan pembacanya. Ya, secara keseluruhan, cerpen ini memang berpotensi untuk digubah ke dalam bentuk yang lain, film misalnya.

2. Sepotong Senja untuk Pacarku, Sebuah Kisah yang Akan Mengantarkanmu Pada Kenangan-Kenangan Masa Lalu

cerpen sastra

Alina tercinta, bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja—dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Kalimat di atas muncul di awal paragraf cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma. Ya, hampir keseluruhan cerpen ini didominasi dengan quote-quote khas kawula muda. Coba perhatikan penggalan kalimat berikut ini.

“Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa.”

Tentu, quote-quote yang tersaji seperti kalimat di atas sangat mewakili keadaan hati seorang remaja. Artinya, cerpen ini sangat berpotensi untuk ditransformasikan ke dalam bentuk film dengan mengambil sudut pandang, serta sasaran, yakni kaum-kaum ABG (Anak Baru Gede). Nah, dengan banyaknya quote yang nongol di sana-sini, kita dituntut untuk lebih eksploratif dan kreatif dalam mengolah alur film. Karena tidak mungkin pula, kita akan menghadirkan quote dalam keseluruhan film. Pasalnya, jika kita memaksakan hal itu, tentu penonton akan menjadi bosan dan ingin segera meninggalkan film yang kita sajikan. So, siap-siap mengolah alur biar lebih menarik ya, Sob!

3. Menggambar Ayah, Cerpen yang Syarat Akan Ironi

Quote cerpen

Menggambar Ayah merupakan cerpen karya AS Laksana yang sangat menggugah perasaan. Terlebih bagi seorang bocah yang merasa kehilangan karena ditinggal pergi ayahnya. Dalam cerpen tersebut, diceritakan bahwa ada seorang anak yang terlahir karena hubungan di luar nikah. Sejak di dalam rahim Sang Ibu, anak itu terus berupaya untuk tetap bertahan hidup, meskipun Sang Ibu telah memasukkan racun/ obat penggugur kandungan ke dalam tubuhnya.

Singkat cerita, anak itu pun kemudian lahir dan tumbuh dengan sewajarnya. Dan karena sejak lahir ia tak pernah melihat sosok ayahnya, Si Anak lantas menggambar kelamin laki-laki—di tembok-tembok, di tempat-tempat keramaian—sebagai wujud lain seorang ayah. Nah, dari cerita itu pula, kita bisa melihat bagaimana sebuah kisah ironi bekerja di alam bawah sadar kita. Dan tentunya, alasan tersebut sudah cukup kuat; jika kamu hendak menggarap cerpen ini ke dalam bentuk film.

4. Berbagi Kisah Cinta Beda Agama dalam Cerpen Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon?

film sastra

Bagi pembaca awam, cerpen karya Eko Triono ini memang agak sulit dipahami. Setidaknya butuh waktu lebih dari sembilan kali penanakan nasi untuk menemukan esensi ceritanya. Akan tetapi, bagi kamu yang merasa tertantang untuk menggubahnya menjadi tontonan yang menarik, cerita ini memang pantas untuk kamu perhitungkan. Dan mengenai persoalan sulit atau tidaknya, seharusnya hal itu kamu singkirkan terlebih dahulu.

Nah, alasan kenapa kami memasukkan cerita ini ke dalam daftar “5 cerpen sastra yang layak diangkat jadi sebuah film” adalah sebagai berikut. Pertama, cerpen ini memang mempunyai kualitas yang cukup baik. Hal itu terbukti dari pemuatannya di salah satu media terbesar di Indonesia, yakni harian Kompas. Kedua, karena cerpen ini mempunyai alur yang cukup stabil. Ketiga, setting tempatnya pun cukup mudah untuk dijangkau, yakni di dalam sebuah bus. Keempat, adalah cara si tokoh yang fasih mengolah dialognya.

Sebenarnya, selain keempat alasan di atas, terdapat pula karakter yang cukup kuat dalam diri si tokoh. Salah satu contohnya terdapat dalam penggalan kalimat berikut ini, Dan kau mulai bercerita soal bulan. (Cerita yang tidak kusukai karena alasan pribadi).”

Kalimat di atas menunjukkan bahwa karakter tokoh dalam cerita ini cukup kuat. Hal itu ditambah lagi dengan pernyataan berikut ini, “Aku minta izin padamu untuk merasa gembira, tepuk tangan, dan berkata, bahwa barangkali, putramu itu akan menjadi seorang filsuf, atau, penyair. (Meski sebenarnya aku muak dengan kebahagiaan kalian, dan, benci mengatakan pujian palsu).”

Secara garis besar, cerpen ini berkisah tentang hubungan percintaan dua sejoli yang mempunyai perbedaan keyakinan. Sampai pada suatu ketika, hubungan mereka pun kandas, dan salah satunya memilih untuk menikah dengan seseorang yang—mungkin saja—tidak dicintainya. Pernikahan itu pun akhirnya menghasilkan garis keturuhan, yakni lahirnya seorang anak laki-laki bernama Zafin.

Gimana Sob, pasti kamu udah punya bayangan, kan? Soalnya, cerita tentang perbedaan agama itu kan sering banget dialami oleh banyak orang. Dan seharusnya, kamu bisa dong melihat potensi yang ada dalam cerita ini? Selamat mencoba ya, Sob! :)

5. Cerpen Surga Anak-Anak Menyuguhkan Kisah Tentang Perbedaan Agama dari Sudut Pandang Seorang Anak

cerpen film

Naguib Mahfouz merupakan seorang penulis kelahiran Kairo. Ia memenangkan hadiah nobel kesusastraan di tahun 1988. Dalam perjalanan hidupnya, Naguib pernah menulis sebuah cerita pendek yang cukup kontroversial di zamannya, yakni cerpen yang berjudul Surga Anak-anak. Nah, pertanyaannya, kenapa cerpen kontroversial ini layak diangkat menjadi sebuah film? Alasannya adalah sebagai berikut.

Pertama, kita lihat dari segi penceritaannya. Ya, cerpen ini memang syarat akan petuah-petuah hidup, khususnya dari aspek kerukunan antar umat beragama. Kedua, cerpen ini menyuguhkan adegan-adegan yang terasa begitu filmis; dengan menampilkan dialog antar tokoh yang mendominasi keseluruhan cerita, sehingga menjadi tampak seperti naskah drama. Ketiga, cerpen ini mampu memainkan psikologi pembacanya, yakni dengan menampilkan adegan pertanyaan seorang anak kepada bapaknya (pertanyaan-pertanyaan polos dari seorang tentang perbedaan agama). Berikut contohnya.

“Bapak!”

“Ya?”

“Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”

“Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”

“Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”

“Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”

“Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Dari dialog singkat tersebut, kita seakan-akan digiring dalam sebuah pertanyaan yang cukup mendasar, yakni tentang perbedaan agama. Selanjutnya, dalam cerita tersebut, kita pun akan dikejutkan dengan pertanyaan Si Anak berikut ini.

“Kenapa saya seorang Islam?”

“Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”

“Dan Nadia?”

“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”

“Apa karena bapaknya berkacamata?”

“Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”

Dari kutipan dialog di atas, kita bisa merasakan adanya jiwa seorang anak yang selalu merasa penasaran dan selalu menuntut jawaban dari Si Bapak.

“Siapa yang lebih baik?”

Si Bapak berpikir sejenak, lalu berkata:

“Orang Islam baik, dan orang Kristen juga baik.”

“Tentu salah satu ada yang lebih baik.”

“Ini baik, dan itu juga baik.”

“Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”

“Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang tetap harus seperti bapak dan ibunya.”

“Tapi kenapa?”

Selanjutnya, perhatikan dialog ini!

“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”

“Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?”

“Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain.”

“Apa bedanya, Pak?”

Nah, tentunya dari dialog-dialog di atas, kamu sudah bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau cerita ini diangkat ke dalam sebuah film, kan? Selamat mencoba ya, Sob!

Oke, itulah kelima cerpen sastra yang layak diangkat jadi sebuah film. Semoga dengan membaca ulasan di atas, kamu jadi tertantang untuk berkarya dan membuat sebuah tontonan yang lebih berbobot. Selamat beraksi, Sob! ;)

Komentar

Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Kalimantan Papua Sulawesi Sumatera Wisata Yogyakarta
Satu Lagi Pantai Tersembunyi di Malang: Pantai Ngledakan Ciut
Leuwi Tonjong: Pesona Wisata Baru di Garut yang Sungguh Instagramable
Kenalkan, Bukit Cendana Wisata Baru di Kulonprogo, Jogja