Ngadem di Air Terjun Silo Leter dan Watu Lumbung

Prolog; Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman di tanggal 9 Juli 2015. Jika ada perbedaan dalam hal informasi yang terkait dengan situasi sekarang, kami mohon maaf. Sebab kedua air terjun ini masih dalam tahap pembangunan dan akan dilakukan perbaikan. Btw, sebelum membaca, kami segenap crew Ngadem.com mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas insiden yang terjadi di Air Terjun Sedudo pada Selasa, 21 Juli 2015 pukul 16.00 WIB. Semoga keluarga korban yang ditinggalkan dipenuhi kelapangan ikhlas yang dalam. Amin.

***

Ngadem.com – Nganjuk. Kota kecil ini tak ada habisnya menggugah rasa penasaran saya untuk lebih meng-explore sisi-sisi keindahan wisatanya. Ada begitu banya tempat wisata di kota dengan julukan Kota Bayu Ini. Sebut saja Air Terjun Sedudo yang beberapa waktu lalu dikunjungi Miss Indonesia 2014, Elvira Devinamira. Meski saat itu saya sedang tak di Nganjuk, setidaknya saya ikut berbangga hati seorang Miss datang ke tempat di mana saya dilahirkan.

Selain Air Terjun Sedudo, ada tempat lain yang tak kalah sejuk dan alami di antara punggung-punggung Gunung Wilis. Konon, Gunung yang masih asri ini memiliki 8 air terjun yang belum terjamah  para wisatawan. Selain itu, beberapa waktu lalu saya sempat membaca berita tentang temuan air terjun baru di Nganjuk. Air terjun ini ada dua jumlahnya, namanya masih belum disahkan oleh Bupati Nganjuk dan pesonannya tak kalah dengan air terjun di tempat lain. Merasa penasaran dengan hal terebut, saya pun meluangkan waktu untuk segera bergegas mengunjunginya. Dan, satu minggu yang lalu, ditemani dengan “sesepuh” dari Desa Meko, saya berhasil mengunjunginya.

Apa Yang Istimewa?

Air Terjun Baru Nganjuk Sawahan

Dari papan nama yang tertera, diketahui bahwa dua temuan air terjun ini bernama: Silo Leter dan Watu Lumbung. Berada di Desa Bendolo, Kecamatan Sawahan atau sekitar 40 kilometer dari pusat kota Nganjuk, Jawa Timur. Untuk mencapainya, saya harus melewati jalan berliku yang cukup parah. Karena terbilang tempat wisata baru, akses jalannya memang belum 100 persen jadi. Saya dihadapkan pada kenyataan bahwa motor bebek tak cukup mampu melalui medan berliku-liku tersebut. Untungnya saya bersama orang-orang kuat otot yang tak gentar melaluinya –meski beberapa kali harus menyumet udut. Di tempat tujuan, saya di suguhkan dengan pesona alam milik Gunung Wilis yang masih sangat alami. Udaranya segar dan masih ada monyet liar yang bergelantungan di beberapa titik. Kedua tempat ini memang layak dijadikan wisata adventure yang tak kalah dengan tempat lain. Agar lebih gampang, saya akan membahasnya kedua air terjun ini secara terpisah.

Tujuan Pertama Adalah Air Terjung Watu Lumbung

Di tempat ini, motor masih bisa masuk sampai ke posisi air terjun. Saya harus melewati hutan-hutan pinus yang berkerlipan karena pantulan sinar matahari. Sepanjang jalan ada begitu banyak kelokan yang jarang dilalui orang-orang. Beberapa batu kali disusun untuk menjadi media penghubung antara kali kecil dan jalan setapak. Saat akan mencapai lokasi, saya bertemu dengan pos pertama, ini adalah pintu masuk utama di mana tiket dikenakan bagi pengunjung. Selain itu, hanya di pos inilah yang menjual makanan minuman ringan atau bensin atau minuman bersoda. Saya dan teman-teman sempat mampir sebentar di tempat ini, mengisi bensin dan memesan kopi. Kami pun disambut oleh beberapa orang dengan senyum dan tatap mata yang ramah.

“Mau ke air terjun, Mas?” tanya seorang pemuda paruh baya.

“Iya, Pak. Masih jauhkah?” Jawab teman saya.

“Lumayanlah. Tapi akses jalannya masih agak sulit, Mas. Mau bagusin jalan susah. Proposal sudah kami buat dan ajukan ke Dinas Perhutani, tapi belum ada tanggapan sampai sekarang,” timpal seorang Bapak yang saya lupa menanyakan siapa namanya.

Perjalanan kami lanjutkan. Dari pos pertama, ada pos kedua. Pos kedua inilah tempat di mana pengunjung harus memarkir kendaraan dan berjalan kaki untuk bisa mencapai ke Air Terjun Silo Leter. Namun, saat itu kami bablas dulu ke Air Terjun Watu Lumbung. Jarak Air Terjun Watu Lumbung dari pos kedua kira-kira 2 KM. Sesampainya di tempat, ada beberapa batu kali yang menutup air terjun. Ada juga toilet kayu yang bisa digunakan untuk ganti baju. Space-nya cukup lega untuk berkumpul dan foto-foto. Tinggi air terjun kira-kira 30 meter dan bisa untuk berenang.

Akses Jalan Air Terjun Watu Lumbung: Terbilang sulit karena banyaknya bebatuan, tanah liat, kali-kali, ranting pohon dan beberapa batu kali besar yang menghadang jalan. Saran saya, gunakan motor trail atau sejenisnya. Jangan dandan terlalu necis, sebab saya jamin make up kalian akan luntur. Hihi…

Tujuan Kedua Adalah Air Terjun Silo Leter

Ada sedikit kejanggalan saat saya membaca papan nama Silo Leter. Sebab sebelumnya, menurut media yang beredar, nama air terjun ini adalah Tetes Embun. Namun setelah saya mengkonfirmasi ke penjaga pos, ternyata nama tersebut diganti supaya lebih unik dan mudah diingat. Perjalanan untuk sampai ke tempat ini cukup melelahkan. Setelah putar balik dari Air Terjun Watu Lumbung, saya dan teman-teman harus memarkir kendaraan di Pos Kedua dan mulai berjalan kaki kira-kira 100 meter. Di lokasi air terjun saya menjumpai beberapa monyet liar yang bergelantungan kesana-kemari. Suara-suara serangga bersahutan seperti menyembut kedatangan kami.

Saat sampai di lokasi dan mencoba mengambil video, kami dikejutkan dengan jatuhnya buah (saya lupa buah apa) dari atas air terjun. Ternyata, itu adalah monyet yang mungkin mencoba mengajak kami berkenalan. Air terjun ini lebih tinggi dari Watu Lambung, mungkin kira-kira 40 meter-an. Tak ada fasilitas sebagai penunjang. Hanya ada air terjun dan buih-buih rembesan air di sebelah kanan. Di sini, aroma alam benar-benar terasa. Wanginya berbeda dari tempat wisata alam yang pernah saya kunjungi sebelumnya.

Akses Jalan Air Terjun Silo Leter: Terbilang sulit karena banyaknya bebatuan, tanah liat, kali-kali, ranting pohon dan beberapa batu kali besar yang menghadang jalan. Saran saya, gunakan motor trail atau sejenisnya. Jangan dandan terlalu necis, sebab saya jamin make up kalian akan luntur. Hihi…

Harga Tiket Dan Rute Jalan Ke Air Terjun Silo Leter dan Watu Lumbung

Untuk harga tiketnya sebesar Rp. 5.000 permotor. Dengan harga ini, kamu bisa memasuki kedua air terjun sekaligus. Hanya saja, saat di Air Terjun Silo Leter kamu akan ditarik biaya parkir sebesar Rp. 1.500 permotor. Cukup murah, untuk ukuran wisata alam. Untuk rute jalannya, kamu bisa melalui Banjarsari – Gelur – Proliman – Empalgading – Mbomo – Bendolo. Disarankan untuk memakai kendaraan roda dua, sebab rute jalannya berkelok-kelok dan untuk trasnportasi umum hanya sampai Banjarsari saja.

Fasilitas di Air Terjun Silo Leter dan Watu Lumbung

Terbilang kurang. Mungkin karena akses jalannya yang masih dalam tahap pembenahan. Hanya ada satu toilet bambu berbungkus plastik di Air Terjun Watu Lumbung. Jarak paling dekat dari pemukiman ada di Pos Satu. Sebagai pengingat, di Pos ini pengunjung bisa beristirahat dan mengisi bensin. Untuk harga makanannya terbilang cukup terjangkau. Jadi tak ada salahnya untuk sekedar mampir di pos ini sambil menyiapkan tenaga.

Akses Jalan Ke Air Terjun Silo Leter dan Watu Lumbung

Terbilang sulit karena banyaknya bebatuan, tanah liat, kali-kali, ranting pohon dan beberapa batu kali besar yang menghadang jalan. Saran saya, gunakan motor trail atau sejenisnya. Jangan dandan terlalu necis, sebab saya jamin make up kalian akan luntur. Hihi…

Tips

Jangan gunakan pakaian ketat, sebab akses jalannya terbilang rumit dan akan sedikit menyulitkan dalam berkendara. Gunakan motor yang memang dikhususkan untuk medan berat. Bisa saja bawa motor bebek atau matic, dengan catatan motor dalam keadaan prima. Bawalah cemilan atau minuman sebelum menuju lokasi, sebab tak ada warung di sekitaran kedua Air Terjun (warung paling dekat adalah di Pos Pertama). Jangan buang sampah sembarang, jangan pacaran sembarangan, jangan coret-coret sembarang, dan jangan buang kenangan sembarangan.

Sekian dari saya, bila ada yang kurang dan ada yang ditanyakan jangan sungkan untuk mengisi kolom komentar di bagian bawah.

Salam Ngadem!

Foto-foto Air Terjun Silo Leter dan Watu Lumbung

Written by Reshie Fastriadi

Kontributor Ngadem.com – Pemuda beruntung yang lahir dan besar di lingkungan berbeda. Telanjur jatuh cinta pada dunia otak kanan dan Nasi Pecel khas Nganjuk. Sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah dan menata hati dari bisikan setan yang terkutuk.