Puya ke Puya: Novel yang Akan Mengajakmu Jalan-jalan ke Tana Toraja

Ngadem.com – Bila sastra yang sanggup ikut mengembangkan kebudayaan adalah sastra yang sanggup mengangkat ketegangan antara realita dengan apa yang seharusnya terjadi, maka benar Budi Darma berkata seperti itu, dan dalam konteks novel Puya ke Puya misalkan. Sastra yang mempunyai gema adalah sastra yang dengan jitu mengangkat korban keadaan, kata Budi Darma lagi. Kutipan-kutipan tersebut saya dapatkan pada makalahnya yang berjudul “Sastra dan Kebudayaan”.

Kutipan tersebut saya kontekstualisasikan pada novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang. Novel pemenang keempat sayembara novel DKJ tahun 2015 ini berlatar Toraja yang ada di daerah Sulawesi. Rambu solo adalah salah satu kebudayaan yang agung di masyarakat Toraja. Keberadaannya yang kita kenal sebagai ritual mengantarkan arwah ke surga tersebut merupakan kepercayaan masyarakat yang ada sampai saat ini. Novel ini telah “mengencingi” kebudayaan tersebut dengan menggerakkan satu tokoh bernama Allu Ralla.

Sekarang, akan saya ceritakan bagaimana konflik-konflik yang ada dalam novel ini.

Allu Ralla adalah seorang mahasiswa jurusan Sastra di sebuah kampus yang ada di Makassar. Ayahnya bernama Rante Ralla merupakan kepala adat di Toraja. Rante Ralla meninggal dunia. Rante Ralla tidak sempat mengumpulkan banyak harta sebelum kematiannya tiba. Allu selaku ahli waris yang sah ayahnya didesak pulang dari Makassar untuk melakukan rambu solo. Allu tidak mau tunduk pada adat. Mayat ayahnya akan dikuburkan di Makassar. (hal. 10).

tes

Selain tidak ada uang untuk melakukan rambu solo, adat yang hanya membebani manusia menurut Allu. Adat seharusnya tidak mengekang dan menyesuaikan keadaan. Dengan keputusan yang diambil Allu, para kerabatnya tidak setuju; ibu dan paman Marthen tidak sepakat. Alasannya, tak ada ceritanya bangsawan pelit. Rante Ralla adalah kepala adat. Keputusan yang dipilih Allu hanya akan membuat wajah kerabatnya tercoreng. (hal. 33).

Dengan banyak pertimbangan dan sebuah rahasia, rambu solo untuk Rante Ralla dilaksanakan. Pertama, Allu menjual tanah tongkonan milik leluhurnya yang dari turun temurun dipertahankan kepada perusahaan tambang. Kedua, Allu didesak menikah oleh pacar pertamanya bernama Malena, walaupun modal pernikahannya diambil dari uang mencuri mayat bayi di pohon tarra. (hal. 109).

Di dalam perspektif yang menginginkan adanya moralitas, Allu Ralla melakukan penghianatan. Ritual rambu solo yang suci menjadi ternodai dengan berhianatnya Allu kepada para leluhur. Di dalam perspektif yang lain tokoh Allu telah melakukan kebenaran. Pemberontakannya terhadap adat yang mengekang sekurang-kurangnya memberikan perenungan filosofis bahwa rambu solo dilakukan hanya karena ingin dipuja masyarakat.

Yang disebut Budi Darma di atas, soal sastra yang sanggup mengangkat ketegangan antara realita dengan apa yang seharusnya terjadi, terdapat pada tindakan-tindakan Allu pada gerakannya dengan cara memberontak terhadap nilai-nilai budaya yang disalahgunakan.

***

Novel Puya ke Puya memiliki sebuah pengaruh yaitu paham untuk mempertanyakan sesuatu hal yang paling dasar. Mengapa adat harus mengekang bagi yang tidak mampu? Apa pengaruh adat terhadap manusia? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak ada dalam dialog para tokoh. Tetapi di dalam diri para tokoh, pada Allu Ralla terutama, secara implisit gejolak ingin mempertanyakan sesuatu terus muncul. Contoh dalam sebuah dialog antara Allu dan ambenya:

“… Bukankah adat tidak boleh kaku? Batu saja bisa dipahat, masa iya adat harus terus menjadi bongkahan batu, Ambe?”

Kekayaan yang dimiliki novel ini adalah teknik cara berpindahnya sudut pandang. Setiap tokoh dalam novel ini, baik Rante Ralla sebagai mayat, Allu Ralla dan Tina Ralla istri kepala adat, atau Tina Ralla sesosok arwah bayi yang dikubur di dalam tubuh pohon tarra; dapat memiliki karakter sebuah sudut pandang yang khas antartokoh.

Pembaca sangat rugi jika melewatkan novel budaya yang dikarang oleh mahasiswa kelahiran 1994 ini—yang bagus dan kata Budi Darma dalam sebuah endorsmentnya, kualitas karya Faisal Oddang tidak kalah dengan kualitas pengarang-pengarang lain yang sudah mapan.

Identitas Buku:

Judul                : Puya ke Puya

Pengarang       : Faisal Oddang

Penerbit          : Kepustakaan Gramedia Populer

Cetakan           : Pertama, Oktober 2015

Tebal               : xii + 218 halaman

ISBN                 : 978-979-91-0950-7

Written by Mawaidi D. Mas

Kontributor Ngadem.com - Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Suka baca, menulis dan jalan-jalan. Menurut zodiak, lebih suka bekerja di dunia penerbitan.