Avengers: Age of Ultron (2015), Komposisi Dramatisasi dan Ketenangan dalam Film Heroes

Ngadem.com – Ada dua sosok baru yang dihadirkan dalam film Avengers: Age of Ultron (2015). Mereka adalah tokoh yang dikenal sebagai The Twins. The Twins dipernakan oleh sosok perempuan (Wanda) dan laki-laki (Pietro). Si perempuan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi otak, telekinesis, atau memanipulasi batin. Yang laki-laki, memiliki kekuatan bergerak dengan cepat. Meskipun mereka muncul sebentar dalam salah satu scene di film Ant-Man (2015), namun The Twins tetap ditengarai sebagai sosok baru. Entah bagaimana, namun pada awalnya saya jadi menduga-duga; jangan-jangan Avengers ini lama-lama akan serupa dengan X-Man, dengan berhamburnya tokoh-tokoh ‘super’. Kemudian akan ada judul film super heroes bertajuk Avangers vs. X-Man. Yup.. Itu konyol sekali.

Well, kenapa saya langsung bahas Si Twins? Kedua manusia super ini adalah tokoh yang menarik. Di samping saya yakin –bahwa kalian pasti tahu siapa saja dan kemampuan apa saja yang ada dalam kelompok Avengers. Yosh!! Avengers: Age of Ultron (2015) dimulai dengan pencarian tongkat milik Loki. Rupanya, tongkat itu sedang dimonopoli oleh suatu pihak yang menguasai The Twins. Setelah tongkat berhasil direbut, Stark melakukan analisis terhadap kekuatan yang dikandungnya. Dan dia berpikir bisa lebih mengoptimalkan lagi kekuatan yang ada dalam tongkat. Ia juga menganalogikan: jika berhasil bumi akan aman, bahkan alien pun dapat ikut party di klub. Dan ini yang dikatakan dr. Banner (Hulk): “Satu-satunya yang mengancam planet ini adalah manusia.” Wuusshh.. Kalimat yang menyegarkan!

Memanfaatkan intelegensi gennya, Stark berhasil. Ia berhasil menciptakan mesin yang memuat kecerdasan buatan bernama Ultron. Sayangnya, ia melakukan eksperimen tersebut tanpa diketahui oleh anggota Avengers yang lain, kecuali Banner tentu saja. Dan sayangnya lagi, Stark atau Bunner tak ada di tempat (laboratorium pembuatan) ketika Ultron berhasil digabungkan (komponennya) oleh Jarvis (si komputer). Dan sayangnya lagi, Ultron mampu masuk dan menentang jaringan atau sistem Jarvis. Yah.. Memang banyak ‘kesayangan retoris’ dalam film ini.

Saya cukup tertarik dengan dramatic dan ‘kesantaian’ yang dihadirkan dalam film ini. Dan saya setuju dengan rating 7,5. Sebab, sedramatik apapun film ‘heroes’ akhirnya ‘biasanya’ mudah ditebak. Tak terkecuali dengan film ini. Wanda The Twins bergabung dengan Avengers. Vision, yang merupakan produksi selevel dengan Ultron, juga bergabung dengan Avengers. Harus ada yang dikorbankan: Pietro. Dan akhirnya, ada adegan epilog yang menandakan, “Masih ada kelanjutannya lho!” Yah. Begitulah.

Komentar

Written by Muhammad Hanif

Kontributor Ngadem.com - Pemuda kekinian asal Bantul yang menggandrungi dunia film dan sinematografi, Sedang sibuk menyususn skripsi berasaskan Kajian Ekranisasi di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.