Review Buku Ensikoplakdia: Koplak Menyehatkan ala Djokolelono

Ngadem.com – Melalui terjemahan-terjemahannya, sebagai pembaca saya paham Djokolelono adalah sosok yang cerdas. Di banyak terjemahan novelnya ia tidak hanya sekadar menerjemahkan sebuah bahasa, di tangannya, karya sastra juga memiliki ruh sebagaimana posisi dia tak jauh dengan posisi pengarang (aslinya).

Saya tidak berteman dengan Djokolelono di dumay facebook maupun di dunia kesehariannya. Saya mengenalnya lewat karya dan banyak terjemahannya terutama karya sastra. Ketika mendapati buku Ensikoplakdia kesan pertama adalah gagasan Djokolelono yang konyol tetapi brilian. Tindakan-tindakan semacam ini kita kenali dengan akrab sebagai perbuatan koplak. Dan tidak semua orang mampu seperti Djokolelono, alih-alih menjadi koplak, bisa saja jika konyol dan tidak brilian tindakan-tindakannya akan didaktis.

Di jaman sekarang istilah didaktis yang artinya “menggurui” itu sangat sensitif di banyak tempat. Kalau pada mulanya kita mengenali kata “menggurui” sebagai sikap yang moralis, dan kita jumpai di tempat-tempat belajar, berbeda dengan jaman sekarang yang sudah mengalami perluasan makna. Siapapun akan dicaci jika tiba-tiba menjadi sok bijak dan sok pintar di hadapan khalayak. Sejatinya siapapun itu barangkali tidak sadar kalau dirinya bertindak didaktif. Lawan tuturnya, yang menganut ajaran bahwa kebenaran itu tidak tunggal, beruntung tidak langsung melepas celana kemudian aksi balik badan dan menungging.

Serba-salah. Serba-benar. Begitulah kehidupan-kehidupan yang mencoba menggeser identitas modernisme. Dalam buku Ensikoplakdia ini Djokolelono mencoba mengembalikan yang real di masa sekarang ke masa yang lampau. Djokolelono mencoba memberi keterhubungan terhadap realitas masa kini dengan realitas masa lalu. Ia membuat garis makna yang berterima.

Djokolelono menyebut tulisan-tulisannya sebagai ceritera yang ia tulis salah satunya di akun facebooknya. Jangan dibayangkan tulisan di dalam buku ini akan senyinyir yang kita dapati di beberapa akun media sosial yang lain. Kehidupan yang serba-salah dan serba-benar ini, termasuk status facebook Djokolelono, menjadi pengecualian terhadap kenyinyiran yang sudah ada.

Ini perihal penamaan sebuah kota di daerah Jawa Tengah misalkan. Pada jaman dahulu kompeni kalau bicara selalu diawali dengan “zooo” sebagaimana yang kita lihat di pementasan ludruk, lenong atau ketoprak. Kata Djokolelono mungkin memang begitu karena si Belanda belum lancar bahasa Indonesia hingga bilang “zooo” sambil mikir-mikir hendak bicara apa. Ceritanya begini, gubernur jenderal Belanda blusukan ke keraton Surakarta. Pagi-pagi dia sudah jalan-jalan mengelilingi istana mungkin mencari tukang boti. Kebetulan hampir bertubrukan dengan Sunan di sudut istana yang juga jalan-jalan. Keduanya kaget. Gubernur jenderal Belanda berseru “Zooo, Sunan!” lalu Sunan berseru pula “Lhoooo, Tuan!” dari sanalah nama Solo berasal. (hlm.12).

Cerdik, cerdas dan usil. Kita perlu melingkari kata “blusukan” dalam ceritera ini. Dalam konteks sekarang, kita tentu paham istilah tersebut muncul sejak nama Jokowi mencuat ke permukaan dengan segala hal unik dari dirinya. Kemudian banyak orang-orang penting melakukan serupa walau sebenarnya tidak disengaja atawa sebaliknya.

Ceritera ini agak serius dan hanya beberapa orang yang akan tertawa. Begini, di Babylon (nama negara, ngga haram, kata Djokolelono) 4000 tahun yang lalu, sudah menjadi tradisi bagi para ayah dari pengantin perempuan untuk memberi menantu lelakinya persediaan mead (bir madu) selama sebulan sehabis upacara pengantinan. Selama sebulan itu si pengantin pria harus terus-menerus minum bir madu ini—mungkin untuk ‘obat kuat’.  Karena tradisi ini maka masa sebulan setelah jadi pengantin itu disebut bulannya madu. Dan kini menjadi Bulan Madu. (hal.45).

Bumi Makin Unyu

Review Buku Ensikoplakdia

Setelah ceritera asal-usul usil asal-asalan, bagian selanjutnya adalah Bumi Makin Unyu. Kalau di bagian Asal-usul Usil Asal-asalan terdapat 36 ceritera, maka di bagian ini ceritera tersebut berjumlah 16 saja. Di bagian ini saya menganggapnya sebagai ceritera dengan kualitas humor yang kritis dan satir. Misalkan dalam ceritera berjudul Sifat Nabi. Begini kisahnya:

Novi protes pada gurunya, Pak Hendra WWW, “Pak kenapa jawaban saya di nomor 4 disalahkan?” Pak Guru melihat lembar jawaban Novi dan berkata, “Ya, kamu hanya menjawab sifat Nabi Cuma tiga, yang benar kan empat: sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Novi protes lagi, “Tapi Pak, kan Fathonah sudah ditangkap KPK!”

 

Saya dan tentu pembaca teringat seorang politikus yang terlibat dalam kasus suap impor daging sapi si Ahmad Fathonah. Berbekal humor tersebut, Djokolelono dengan lincah memainkan fakta ke dalam bentuk ceritera dengan satir. Djokolelono tidak akan mengambil konteks ceritera pelajaran di kelas dengan soal ujian mengenai sifat-sifat Rasulullah kalau tidak hendak menyindir pada politikus lain, dengan berkedok agama, tetapi upaya mengendarai atas nama agama tersebut ternyata sekadar ingin menjadi maling.

Dalam ceritera berjudul Menjelang 2015. Begini kisahnya dengan seorang narator orang pertama dan sekaligus menjadi tokoh satu-satunya di dalam kisah ini: “Lima menit sebelum jam 12 malam, tanggal 31 Desember nanti, aku akan pesan piza. Kalau pizanya datang, aku akan bilang ‘Brengsek! Aku pesan piza ini tahun lalu! Aku enggak mau bayar!”

Dalam ilustrasi, terdapat adegan seorang pria membanting kardus piza ke tembok. Tampak piza tersebut berhamburan ke luar kardus.

Untuk kamu, selamat membaca! :)

Identitas buku:

  • Judul: Ensikoplakdia
  • Pengarang: Djokolelono
  • Ilustrasi Isi: M. Isnaeni
  • Penerbit: Pastel Books
  • Cetakan: I, Oktober 2015
  • Tebal: 92 halaman
  • ISBN: 978-602-242-787-2

Written by Mawaidi D. Mas

Kontributor Ngadem.com - Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Suka baca, menulis dan jalan-jalan. Menurut zodiak, lebih suka bekerja di dunia penerbitan.