Review Buku Me-Wahib: Memahami Toleransi, Identitas dan Cinta di Tengah Keberagama(a)n

Ngadem.com Kamu seringkali bersemuka dengan sesuatu yang membuat kamu merasa dimarjinalkan; sebuah perlakuan tidak adill, dan di negara yang terdiri dari berbagai etnis ini, tak jarang identitas dijadikan sebagai alasan sebuah kekerasan.

***

Saya dari Madura, Jatmiko dari Jawa, Bosco dari Papua, Winie dari Lampung, Burhan dari Lombok, Wonga dari NTT, Umay dari Sunda. Kami semua pernah bertemu, makan bersama, pernah bertukar pikiran soal identitas, sehingga tak ada alasan bagi kami untuk ragu untuk berbagi kebudayaan masing-masing, bahkan di wilayah yang sangat sensitif; agama.

Tidak jarang identitas sangat rawan dirangsang untuk memicu anarkisme. Bisa saja aku dan kamu bermusuhan karena aku Persepam dan kamu Arema, aku Persib dan kamu Persija, aku Real Madrid dan kamu Barcelona. Hal remeh itu, yang kita bangun tanpa pikir panjang, terkadang tidak sadar hal remeh tersebut dapat menjadi api kecil di sebuah hutan belantara yang pohon jiwanya kering kerontang.

Kalau kamu membaca buku Me-Wahib: Memahami Toleransi, Identitas dan Cinta di Tengah Keberagaman akan sangat banyak menemukan perbedaan-perbedaan yang telah mengusik banyak orang. Taruhlah Na’imatur Rofiqoh melalui esainya Pergolakan Asmara dalam Sengketa Keberagama(a)n (hal. 3) yang berbagi pengalaman melalui pergolakan batin dan pikirannya terkait dengan cinta yang dihimpit oleh perbedaan agama. Di negeri yang berbendara merah-putih ini, toleransi terhadap cinta beda agama masih lemah, dan memiliki tendensi yang tidak serius dalam mengambil kebijaksanaan.

Bahkan, toleransi beda agama tersebut tidak ada di Indonesia. Sekali lagi, biasanya terjadi sebuah percekcokan antara keluarga besar dari dua sang pencinta. Kalau pun ada, tak pelak salah satu dari kedua belak pihak sang pencinta akan pindah agama. Upaya-upaya tersebut dilakukan karena ada hubungannya dengan kesahihan pernikahan. Belum ada pasangan suami-istri yang agama dari mereka tetap seperti semula. Dan di tengah perbedaan kepercayaan tersebut, toleransi terus menjadi pondasi rumah tangga yang tenteram (hal. 16).

Lydia Agustina melalui esai Garam dan Terang Toleransi jauh lebih ekstrem dari kegelisahan-kegelisahan Na’imatur Rofiqoh. Intoleransi yang terjadi pada Lydia perihal agama Kristen yang minoritas dan Islam sebagai yang mayoritas membuat teror mental terhadap Kristen. Ini terjadi saat Lydia masih di bangku sekolah, dan seorang guru bertanya, “Lydia, orang Kristen Tuhan-nya kok tiga sih?” (hal. 36). Atau pada saat pelajaran agama (Kristen) di suatu kelas, terjadi gedoran pintu dari luar dan teriakan berbunyi “ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!” kemudian langkah-langkah kaki menjauh sambil tertawa (hal. 37).

Pada suatu hari, kisah Lydia, temannya bernama Danu berkata kepada Dwi yang Islam dan berkata, “Masuk Kristen yuk, ke Gereja Yuk!” Lydia saat itu naik pitam karena perbuatan Danu dan hampir menamparnya. Sekalipun sebuah bercandaan, bagi Lydia, hal itu tidak wajar dan bahkan terbilang seperti bercandaan orang yang tidak terdidik. Saat itulah Lydia mulai menunjukkan kematangan pengalaman hidupnya, agama bukanlah sebuah bahan candaan, dan tidak seharusnyalah “agama” dijadikan candaan (hal. 38).

Fenomena yang demikian oleh Lydia dianggap sebagai sebuah sikap yang tidak menunjukkan toleransi, sikap sopan antarsesama manusia. Apa yang dikeluhkan oleh Lydia mengingatkan saya pada perkataan Amartya Sen dalam bukunya Identity and Violence: The Illusion of Destiny, kurang lebih begini: bahwa kita seharusnya menghadapi manusia sama dengan kita menghadapi kitab suci masing-masing.

Amartya Sen dalam buku tersebut memang fokus membahas ilusi identitas dengan tajam. Ini pula yang telah membuat Naufil Istikhari Kr menulis esai Jalan Menikung Toleransi Pemikiran Wahib untuk Tanah Kelahirannya Sendiri. Esai ini bagi saya sangat serius dibanding dua esai-esai yang lain. Naufil menguak toleransi dalam agama yang dihubungkan dengan konflik Syiah-Sunni di Sampang dan membuat kaum Syiah diasingkan. Ironisnya, hingga kini tak ada dialog atau perdamaian antardua aliran tersebut, yang membaut pihak minoritas menjadi terteror dan rudin.

Naufil berkata, “Gagasan yang ditawarkan Wahib sejatinya cukup aplikatif (melalui catatannya) untuk mendamaikan kelompok Sunni-Syiah yang bertikai di tanah kelahirannya. Hanya sayangnya, orang Sampang sendiri tidak banyak yang tahu bahwa pernah ada nama Ahmad Wahib yang dilahirkan di sana dan memiliki pemikiran yang menyegarkan” (hal. 88).

Ada sembilan esai di dalam buku mungil ini yang ditulis oleh para pemenang esai Ahmad Wahib Award tahun 2012-2014. Esai-esai dalam buku ini membicarakan toleransi dari pelbagai perspektif dan pengalaman masing-masing esais. Topik toleransi tersebut, yang disandarkan dengan catatan Ahmad Wahib yang berjudul Pergolakan Pemikiran Islam (LP3ES: 2003-Cetakan Keenam) akan mengajak kamu untuk rekreasi yang kontemplatif. Renungan-renungan itu, sepanjang kamu memiliki kegelisahan yang sama terkait dengan toleransi di bumi kita ini, hakikatnya adalah untuk menghargai perbedaan. Selamat mengembara!

Identitas Buku

  • Judul: Me-Wahib: Memahami Toleransi, Identitas dan Cinta di Tengah Keberagama(a)n
  • Pengarang: Na’imatur Rofiqoh, dkk.
  • Penerbit: PUSAD Paramadina
  • Terbitan: Mei 2014
  • ISBN: 978-979-772-048-3

Review Buku Me-wahib

Written by Mawaidi D. Mas

Kontributor Ngadem.com - Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Suka baca, menulis dan jalan-jalan. Menurut zodiak, lebih suka bekerja di dunia penerbitan.