Review Buku Melihat Api Bekerja: Upaya Terselubung Aan Mansyur Membuat Pembaca Baper!

Ngadem.com – Nama M Aan Mansyur sudah tak asing lagi di kalangan penikmat sastra. Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, ini telah menerbitkan beberapa buku, antara lain: Cinta yang Marah (2009), Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012), Kukila (2012), dan lain sebagainya. Puisi-puisinya pun telah tersiar di pelbagai media massa. Dan baru-baru ini, sebuah situs di internet mengabarkan, bahwa beberapa puisinya akan nongol dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2. Selain itu, buku puisi yang akan saya bahas kali ini, pun menjadi nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa ke-15.

Ya, tak perlu diragukan lagi. Pilihan kata yang terjalin dengan apik dalam buku ini, pasti akan membuat kita tersihir dan terpana setelah membacanya. Dan pada akhirnya, kita pun akan terhanyut dalam imajinasi dan suasana yang melankolis. Aan memang cukup piawai dalam mengolah diksi. Oleh karena itu, rasanya tidak terlalu berlebihan jika saya menyebut buku ini sebagai sarana untuk membuatmu baper!

Coba perhatikan penggalan puisi di bawah ini.

Di kafe itu, orang-orang
berbahagia demi menghibur
kesedihan mereka. Aku berbahagia
karena selalu bisa sedih pernah
memiliki.

(Menyimak Musik di Kafe, hal. 126)

Pemilihan kata yang bersifat paradoks, memungkinkan pembaca untuk sejenak merenung dan berpikir—sebelum akhirnya mengiyakan atau menolak pernyataan tersebut.

Barangkali, penggalan puisi di atas dasari oleh bentuk pencarian identitas diri, atau ekspresi pembebasan diri dari seseorang yang merasa jenuh pada rutinitas. Tapi yang lebih penting, dalam hal ini, adalah Aan yang telah berhasil menggiring pembaca agar turut hanyut dalam arus bahasa yang diolah olehnya.

Selain itu, hal positif yang dapat kita temukan dalam kumpulan puisi ini adalah banyaknya quote. Sebagai kawula muda, munculnya kata-kata/kalimat indah dalam karya sastra—terlebih yang dapat dijadikan quote—tentu akan menjadi nilai tambah. Pasalnya, banyak kawula muda kita yang begitu gandrung menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menunjukkan siapa dirinya. Banyaknya media sosial tersebut, “mengharuskan” kawula muda untuk aktif membuat “status”. Ya, agar bisa disebut up to date. Katakanlah begitu. Dan saya rasa, kita tak perlu naif untuk mengakuinya. Dalam buku ini, Aan juga banyak menampilkan quote-quote tersebut. Misalnya dalam penggalan puisi berikut ini.

Aku akan datang ke rumahmu,
memegang semua benda yang
baru kauletakkan. Aku ingin
merasakan tanganmu ketika kau
sendiri atau tidak ada.

Aku akan masuk ke kamarmu,
berbaring di tempat tidurmu
hingga kamarmu berubah jadi
kamar kita.

(Menjadi Tamu, hal. 60)

Atau,

Hidup tanpa curiga adalah hidup
yang terkutuk. Kawan adalah lawan
yang tersenyum kepadamu.

Aku mencintaimu dan kau
mencintaiku—meskipun tidak
setiap waktu. Kita menghabiskan
tabungan pernkahan untuk beli
bensin.

(Melihat Api Bekerja, hal. 129)

Percayalah, bahwa buku ini memang layak untuk kau miliki. Sebab, kata-kata dalam buku ini serupa mantra sihir yang mampu membuatmu baper dan teringat mantan. Selain itu, jika kaupercaya, walau hanya dengan membaca buku ini, niscaya kau akan menjadi seorang yang handal dalam membuat gombalan dan “status” di media sosial. Selamat membaca! :)

Identitas buku:

Judul               : Melihat Api Bekerja

Penulis             : M Aan Mansyur

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : Pertama/ 2015

Tebal buku      : 155 halaman

ISBN               : 978-602-03-1557-7

Komentar

Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Kalimantan Papua Sulawesi Sumatera Wisata Yogyakarta
Pesona Wisata Baru Cianjur, Curug Luhur yang Sangat Tersembunyi
Bogor Lantai Dua: Rumah Pohon Curug Ciherang Kece Buat Foto-Foto
Pesona Bukit Seribu Bintang (BSB): Tempat Wisata Baru di Kuningan