Review Buku Semangat & Totalitas Membangun Negeri: Mengeja Narasi Menyemai Inspirasi

Ngadem.com – Andy F. Noya mengaku selalu bersemangat setiap kali berbicara tentang orang-orang yang menginspirasi Indonesia. Ia kerap kali tercengang menyaksikan apa yang dilakukan para narasumber acara talk show Kick Andy yang dimoderatorinya. Ada aroma ketulusan, kesungguhan, semangat dan tekat yang kuat di balik pengabdian mereka untuk bangsa dan kemanusiaan. Hal itu yang membuat Andy lalu percaya bahwa bangsa Indonesia sesungguhnya tidak pernah kehabisan stok orang baik. Pertanyaannya sekarang, dalam konteks kekinian –ketika kehidupan berkebangsaan di Indonesia tidak kunjung tuntas dilanda persoalan– adakah  kepercayaan Andy termasuk pada kategori “berlebihan”?

Kehadiran buku Semangat & Totalitas Membangun Negeri ini menjadi tesis tersendiri bagi keyakinan Andy. Buku ini sekaligus menjadi dokumentasi dari acara Kick Andy yang dikemas dalam bentuk narasi. Mengulas totalitas pengabdian 36 tokoh penyulut lilin inspirasi dalam usaha membangun negeri. Sampai di sini, agaknya memang tidak berlebihan apa yang diyakini Andy. Di antara himpitan persoalan kebangsaan akan selalu ada orang tangguh dan gigih menyalakan harapan.

Integritas Kepemimpinan

Intregritas via harisnurali.wordpress.com

Belakangan banyak kalangan menyebut bangsa Indonesia tengah dilanda krisis kepemimpinan. Alasannya tentu saja karena minimnya pemimpin yang pantas dijadikan panutan. Bahkan mirisnya, tidak sedikit pemimpin yang dulunya berjanji akan berjuang untuk negeri pada akhirnya malah tersandung kasus korupsi. Padahal kita tahu, masa depan sebuah bangsa berada di tangan para pemuda dan pemimpinnya. Sehingga tidak heran apabila kehadiran pemimpin yang memiliki integritas tinggi untuk mengabdi membangun negeri menjadi secercah kerinduan tersendiri.

Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih akrab disapa Ahok muncul sebagai sedikit diantara contoh pemimpin yang memiliki integritas tinggi. Presiden Joko Widodo menggambarkan Ahok sebagai sosok pekerja keras, memegang prinsip, bersih, baik, tetapi sering marah-marah. Ahok adalah pemimpin yang tegas dan pemberani. Totalitas dan integritasnya yang tinggi melambungkan namanya sebagai pemimpin dengan seabrek prestasi. Salah satunya, Ahok mendapatkan anugerah Bung Hatta Award sebagai tokoh antikorupsi.

Dalam membenahi birokrasi di Jakarta yang selama ini korup dan mendapat citra tidak baik, Ahok tidak segan-segan memecat pegawai yang terbukti korupsi. Untuk itu maka transparansi menjelma harga mati. Ahok memerintakan anak buahnya untuk merekam rapat-rapat pemerintahan dan videonya diunggah di media sosial YouTube. Dengan begitu, Ahok berharap masyarakat bisa ikut mengawasi dan menilai jalannya rapat. Walau demikian, tidak setiap maksud baik bisa diterima dengan baik. Upayanya mewujudkan transparansi menuai kritik. Tetapi demi memperjuangkan kebenaran prinsip kepemimpinannya, Ahok memilih cuek.

Membuat keputusan berisiko tinggi –seperti menutup tempat hiburan yang meresahkan warga karena jadi tempat peredaran narkoba kendati sudah menjadi rahasia umum bahwa tempat hiburan tersebut dilindungi oleh oknum pejabat, tentara, dan polisi—tidak membuat Ahok khawatir menghadapi mati. “Kekhawatiran tidak bisa menambah hidup lebih panjang. Kalau saya mati, yang penting saya diizinkan Tuhan untuk bisa menegakkan keadilan sosial bagi rakyat,” (hlm. 9) demikian prinsip Ahok.

Selain Ahok, Indonesia juga memiliki hakim Artidjo Alkostar sebagai sinonim karakter ketegasan dan keberanian.

 

Sebagai seorang hakim, Artidjo tentulah mengerti bahwa hukum harus berada di atas segalanya sebagai manifestasi keadilan sosial. Setiap orang mempunyai hak dan kedudukan yang sama di bawah payung hukum. Itu sebabnya mengapa Artidjo tidak takut mengambil keputusan tegas hukuman penjara 10 bulan kepada para oknum dokter yang melakukan malapraktik. Meski Artidjo tahu, keputusannya itu akan berbuntut panjang. Dan benar, di mana-mana terjadi aksi yang puncaknya pada 23 November 2013 ribuan dokter melakukan aksi mogok nasional sebagai bentuk solidaritas. Artidjo samasekali tidak gentar, karena tahu ia pada posisi benar.

Tidak hanya itu, Artidjo juga menjelma menjadi mimpi buruk bagi koruptor. Keputusan-keputusannya memperberat hukuman bagi koruptor menjadikan dirinya hakim agung yang takuti sekaligus dibenci. Tidak ada kata toleransi apalagi dispensasi bagi pelaku korupsi. Prinsip tegasnya itulah yang membuat teror pembunuhan semakin dekat dalam kehidupannya sehari-hari. Tetapi Artidjo bukan sosok hakim yang takut mati.

Pria kelahiran Madura tersebut mengaku tetap berpegang teguh pada pepatah Madura, lebbi bagus pote tolang katembhang pote mata yang artinya lebih baik putih tulang (mati) daripada putih mata (menanggung malu). “Menjadi hakim tidak boleh takut mati. Membela keadilan itu amanah. Kalau kita benar, malaikat sudah mengawal kita,” (hlm. 13) ujar Artdjo.

Tulusnya Pengabdian

Review Buku Semangat & Totalitas Membangun Negeri

Sesungguhnya tidak ada kata untung rugi bagi mereka yang mengerti makna ketulusan. Dan bagi mereka yang hatinya tulus, mengabdi dan berbagi adalah suatu kenikmatan tersendiri. Ukuran pengabdian mereka bukan lagi bergantung pada materi. Keterbatasan materi bukan menjadi alasan buat mereka berhenti berbagi. Sebab jauh dalam diri mereka sudah terpatri kunci utama dalam berbagi, yaitu keikhlasan hati.

Kalau bukan karena keikhlasan hati, nama Asnat Bell mungkin tidak akan pernah kita temui dalam serangkaian narasi inspirasi dalam buku ini. Betapa tidak, Asnat adalah sedikit dari orang-orang yang memandang status guru bukan sebatas profesi, melainkan juga panggilan hati. Pertimbangannya mengabdi sebagai guru bukan lagi besar kecilnya gaji, sebab yang dikedepankan adalah nurani.

Menjadi seorang guru yang bisa digugu dan dituru bukan perkara mudah. Ada banyak halangan dan tantangannya. Asnat misalnya, harus malakoni pekerjaan penuh risiko itu dengan ganjaran gaji yang rendah. Salah satu tantangan yang harus dihadapi guru Sekolah Dasar di Desa Teluk, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur itu adalah harus tabah menghadapi sikap orang tua siswa yang gampang marah. Asnat dituntut hati-hati mendidik muridnya, salah sedikit ia harus berhadapan dengan orang tua siswa.

Belum lagi tantangan yang datang dari dirinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika memulai karier sebagai guru di SD GMIT pada 2003, Asnat hanya mendapat gaji tujuh ribu rupiah per bulan. Padahal, ia sudah menikah dan memiliki tiga anak. Baru pada 2004 gajinya naik menjadi dua puluh lima ribu dan bertahan sampai 2010. Hingga kini setelah Asnat akhirnya juga menerima bantuan dari dana BOS sebesar dua ratus ribu, setiap bulan Asnat menerima gaji sebesar tiga ratus ribu.

Logika normal akan segera sepakat bahwa nominal gaji yang diterima Asnat itu masih jauh dari kesejahteraan. Mengingat Asnah harus menghidupi tiga anaknya sendirian, setelah 14 April 2014 lalu suaminya meninggal karena sakit keras. Namun, tulusnya mengabdi untuk negeri tidak pernah membuat Asnat menjadi guru. “Biar gajinya sedikit, tetapi saya rela berkorban demi masa depan negara. Anak-anak biar cerdas,” (hlm. 120) tegas Asnat suatu ketika. Asanat adalah pelajaran tentang pengrbanan dan ketulusan.

Sementara itu, ada juga Ai Dewi yang memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai guru untuk anak-anak suku Baduy. Bermula saat ia  tanpa sengaja membaca tulisan berjudul “Baduy Muslim Haus Pendidikan” di sebuat tabloid pemberian temannya. Karena penasaran dan terus kepikiran, ia lantas memutuskan untuk cepat-cepat ke Baduy di Kampung Cicakal, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Tepatnya di tengah hutan.

Usai berjalan kaki sejauh sepuluh kilometer dari jalan raya, Ai Dewi mendapati pemandangan yang mecengangkan sekaligus mengiris naluri kemanusiaannya. Pandangannya terhenti pada sebuah bangunan sekolah yang rapuh dan bocor. Lantainya dari tanah merah dan penyangganya cuma dari bambu. Sungguh berbeda jauh dari bangunan sekolah tempatnya mengajar sebalumnya, di Rangkasbitung.

Nurani Ai Dewi terpanggil, ia tidak bisa terus berdiam di zona nyaman. Sejak itu ia memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar sukarelawan yang tidak dibayar. Untuk menuju tempatnya mengajar, yaitu di Madrasah Ibtidaiyah Masyarikul Huda di Kampung Cicakal Girang, ia bahkan harus melewati rimbunnya hutan. Cobaan demi cobaan dihadapinya dengan ketabahan dan semangat untuk tulus menunaikan pengabdiaan. Mulai sedikitnya anak yang bisa baca tulis, tidak bisa bahasa Indonesia, kenakalan anak didik sampai juga pada persoalan ekonomi tidak membuatnya mengendurkan nyali. “Walau berada di wilayah terpencil, mereka juga harus pintar dan cerdas. Mimpi dan harapan saya cuma satu, yaitu mencerdaskan bangsa,” (hlm. 129) pungkasnya.

Kerja totalitas membangun negeri pada hakikatnya bisa dilakukan siapa saja dan dari mana saja. Tidak harus menjadi guru, gubernur atau hakim agung terlebih dahulu. Keterbatasan juga bukanlah alasan yang tepat untuk berpangku tangan. Hal ini misalnya dicontohkan oleh Wisma Wijayanto yang dalam keterbatasan fisik (setelah kecelakaan kakinya harus diamputasi) tetap bersemangat untuk terus berpestasi. Enggan menyerah dengan segala keterbatasannya, Yayan menjelma menjadi atlet difabel yang penuh prestasi. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, Yayan juga memotivasi rekan-rekan difabel untuk terus berjuang membanggakan Ibu Pertiwi.

Kisah-kisah inspiratif dari orang-orang kreatif dan besemangat tinggi dapat kita temukan dalam buku ini. Lewat buku ini, saya pikir pembaca dapat mengeja narasi sambil diam-diam menyemai inspirasi untuk membangun negeri. Selamat membaca dan berkreasi!

Identitas Buku:

  • Judul: Semangat & Totalitas Membangun Negeri
  • Penyusun: Wisnu Prasetya Utama (Tim Kick Andy)
  • Penerbit: Bentang
  • Cetakan: Pertama, November 2015
  • Tebal: x + 254 halaman
  • ISBN: 978-602-291-132-6

Wahyudi Kaha, pecerpen dan pengesai. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Bergiat di Liangkaran Metalogi Yogyakarta.
Kontak Person: 0819 3947 3571.

Komentar