Review Buku Tanéyan (Kumpulan Sajak) Karya Mahwi Air Tawar

Ngadem.com – Kalau kamu mendengar nama Mahwi Air Tawar, dan melalui Mata Blater (2010) dirinya dikukuhkan sebagai cerpenis berbakat, itu sebuah fakta yang perlu kita akui bahwa di bidangnya, Mahwi Air Tawar telah sampai pada titik tersebut. Mata Blater buku kumpulan cerpen pertamanya mendapatkan penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2011. Terlepas dari prestasi tersebut, kalau kamu baca, cerpen-cerpen Mahwi berangkat dari suara alam Madura. Bahkan, di dalam buku cerpen keduanya, Karapan Laut (2014) suara itu tetap menggaung, dan di sana alam Madura bukan sebagai nafas.

Tidakkah kita bertanya mengapa cerpen-cerpen tersebut begitu menarik sebagai suara alam; sebagai cerita yang mendikte lanskap secara detail? Bahasa prosa adalah bahasa milik pengarang. Dari sanalah kita bisa berangkat, di dalam cerpen-cerpennya, Mahwi dengan seperangkat pengalaman hidupnya semasa kecil di Madura telah mempengaruhi cerpen-cerpennya di kedua buku tersebut—secara pribadi saya menilai Mahwi selalu konsisten dengan caranya itu; pola hidup, tata laku, ruang berbahasa hidup menjadi dirinya sendiri di sana.

Beberapa bulan yang lalu, saya disodori draf buku puisi Taneyan yang berjumlah sekitar 48 judul puisi. Dan draf tersebut telah menjadi buku utuh di tangan saya saat ini. Saya pikir penulisnya hanya bermain-main menulis puisi saat itu—terutama yang saya jumpai beberapa puisinya di Horison.

Awal kali bersemuka dengan puisi Mahwi Air Tawar di majalah Horison tersebut, saya lupa tahun dan nomor terbitnya. Kesan pertama seorang pembaca awam adalah perasaan yang sama dengan membaca cerpen-cerpennya. Puisinya di majalah itu berjudul Pengantin Tandu. Keasyikan berbahasa secara liris, kesyahduan mendendangkan “dunia kecil” Madura masih melekat dengan jelas. Ini yang membuat saya semakin tertarik dan semakin pula dijejali pelbagai pertanyaan.

Kesia-siaan umur terkubur

Araklah, araklah harum tubuh kami

dalam iringan tetabuhan;

lengking saronen, lenggang penari,

pengantin tandu hingga

tuntas tangis, runcing bayang yang tak pernah lekang

lukai tapak pijak kami. (hal.15)

Puisi lain yang membuat saya tertarik:

Aku memetik tembakau, menyimak nada

Dari kelam hari, dari pusaran makam keramat

Dua pasang sapi betina berlenggang,

Denting pelana, kilau mata arit

Lenguh karapan seberangi selatmu

Juga lelehan darah dari punggung

Sapi jantan dalam arakan

Mengitari kemarau (hal. 23)

Dan masih banyak yang lain, yang tak kalah menarik untuk didekati, lalu diberi pertanyaan. Saya telah melakukan pendekatan itu, dan hampir-hampir mengakurasi secara tematik dengan cerpen-cerpennya di kedua bukunya. Sehingga pertanyaan itu muncul sebagai suatu bentuk kekecewaan sebagai seorang anak muda, seorang saya, yang terus mencari tahu segala hal yang ada di dalam karya-karya Mahwi Air Tawar, dan Mahwi Air Tawar sebagai dirinya yang tunggal.

Review Buku Tanéyan (Kumpulan Sajak) Karya Mahwi Air Tawar

Beberapa puisinya yang lain, yang saya sebut di sana suara alam menggaung, terdapat pada puisi Tanéyan, Catatan Pengantin, Legung, Tandak, Saronén, Kolénang, Tanah Garam. Kiranya yang rasakan, dalam pembacaan yang tak dalam pada puisi-puisi tersebut.

Pada bagian yang lain, puisi di dalam buku ini mencoba untuk menghindar dari suara alam Madura. Suara alam itu oleh Mahwi Air Tawar coba memasuki relung Yogyakarta—(yang pernah) sebagai tempat tinggalnya dan Tangerang tempat tinggalnya sekarang. Misal pada puisi yang berjudul Kidung Gunung Kidul (hal. 65) dan Jembatan (hal. 71).

Alangkah panjang ini penantian

Batin kelu ditindih kelam batu

Hidup yang berselimut pulung

Menimang malang untung

Mengiring lakon wayang ratu selatan

Meski kidung sesayup rayuan janda

Sesamar siulan duda deraan rindu.

Pada puisi Jembatan saya kutip satu bait saja.

Di remang Tangerang, kita meniti jembatan usia

Pendatang-pendatang berebut tempat

Reklame, gedung-gedung merangsek

Dan, kita pun semakin jauh tersesat

Dari Lumajang yang menderai jauh

Runcing bambu 10 November terkubur.

Sampai di buku puisi ini, saya menemukan karya-karya Mahwi Air Tawar yang menggunakan sarana puitik dari sekitar dirinya. Seperti D. Zawawi Imron yang mengambil sarana puitik alam Madura. Bukan suatu hal yang mudah, dan tentu memiliki sudut pandang yang berbeda; Mahwi Air Tawar memandang tanah kelahirannya dari jarak (rantau) yang jauh dan Zawawi dari jarak yang paling dekat.

Kalau di dalam cerpen-cerpennya Mahwi Air Tawar membuka diri selebar-lebarnya, mengisahkan sedetail-detailnya perihal Madura dan masyarakat yang meninggaliya, di dalam puisinya ini Mahwi seperti anak gadis yang tak ingin semua orang tahu apa yang dirahasiakannya. Dan rahasia itu di dalam buku puisi ini berupa tanéyan (halaman depan) dan tak semua orang paham apa di dalamnya.

Bagi saya tanéyan tengah menjadi suatu yang jauh di mata, dan suatu yang paling dekat ketika Mahwi Air Tawar datang melalui bahasa sajak dan merangkul pembaca ingat asal muasalnya. Tabik!

Identitas Buku:

Judul buku     : Tanéyan (Kumpulan Sajak)

Pengarang     : Mahwi Air Tawar

Penerbit        : Komodo Books, Jakarta

Terbitan        : Juni 2015

ISBN               : 978-602-9137-82-8

Sinopsis Buku Tanéyan (Kumpulan Sajak) Karya Mahwi Air Tawar

Komentar

Written by Mawaidi D. Mas

Kontributor Ngadem.com - Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Suka baca, menulis dan jalan-jalan. Menurut zodiak, lebih suka bekerja di dunia penerbitan.