Review Novel Di Tanah Lada: Menyoal Esensi Cinta Monyet

Ngadem.com – Sudah semestinya seorang penulis mempunyai kepekaan, ketelitian, dan perencanaan yang matang untuk menuliskan sebuah cerita. Hal itu dapat dibuktikan dalam novel  karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Dalam novelnya, Ziggy nampak begitu piawai mengemas sebuah kisah tragis dari sudut pandang seorang anak kecil.

Novel ini berkisah tentang Salva, seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang pandai berbahasa Indonesia. Kepandaiannya tersebut diperoleh dari kebiasaannya membaca kamus bahasa Indonesia—pemberian Kakek Kia (Kakeknya Salva) ketika usianya masih tiga tahun. Sejak saat itu pula, Salva selalu mencari arti dari kata-kata yang dirasa asing baginya, dengan menggunakan kamus pemberian kakek Kia.

Kepandaian Salva dalam berbahasa, tidak membuat Papanya bangga. Malah sebaliknya, Papa  sering menyiksa Salva dengan berbagai perlakuan kasarnya. Perlakuan kasar dari Papanya itu, membuat Salva tumbuh menjadi gadis kecil yang mempunyai sikap skeptis. Salva menganggap, bahwa semua Papa di dunia ini adalah orang yang jahat. Begitu pula sebaliknya, semua Mama adalah orang yang baik. Anggapan Salva mengenai kedua orang tuanya tersebut, mendapat dukungan dari tokoh P—seorang anak berusia 10 tahun—yang muncul di tengah cerita. Mereka sama-sama mempunyai Papa yang jahat. Akan tetapi, agaknya P lebih kurang beruntung daripada Salva. Selain mempunyai Papa yang jahat, P juga mempunyai Mama yang tak kalah jahatnya—karena Mama P telah meninggalkannya sejak kecil.

Perlakuan kasar yang diterima oleh kedua anak tersebut, berdampak buruk bagi perkembangan psikologis mereka. Kedua anak itu tumbuh dengan luka jiwa yang sangat mendalam. Mereka menjadi begitu pesimis dalam menjalani kehidupan (meskipun mereka belum sepenuhnya sadar/tahu tentang makna dari kata kehidupan; seperti yang dimaksud oleh orang dewasa). Hal itu dapat dilihat dari adanya “harapan” yang berkembang di dalam benak mereka, yakni tentang sebuah keinginan untuk pergi mencari kebahagiaan di Tanah Lada.

***

Aku bisa menyayanginya, apapun yang terjadi. Karena aku menyayanginya, tidak peduli seberapa kecil kemungkinan kami bisa bersama (hal. 239).

Novel ini memang cukup menarik karena dikisahkan dari sudut pandang anak kecil. Akan tetapi, dengan menggunakan sudut pandang tersebut, agaknya sebuah cerita menjadi terbatasi oleh adanya “logika anak”. Bagaimana tidak. Dalam novel tersebut, dikisahkan ada dua anak kecil bernama Salva dan P. Masing-masing berusia 6 tahun dan 10 tahun. Mereka saling mempunyai rasa ketertarikan satu sama lain (meskipun tidak dikatakan secara gamblang, tapi secara tersirat hal itu dapat dirasakan oleh pembaca).

Dari situlah, saya kemudian memiliki dugaan, bahwa novel ini juga berkisah tentang Cinta Monyet. Mengingat, dalam novel ini, kita bisa melihat serentetan kisah-kasih yang diperlihatkan oleh tokoh Salva dan P—sebagai anak kecil. Di bagian akhir cerita pun, terlihat penggambaran; bagaimana cara kedua tokoh (Salva dan P) menyelesaikan masalahnya dengan cara yang begitu dramatis. Selain itu, ada juga logika yang saya rasa kurang diperhitungkan oleh penulis, yakni tentang gambaran Salva yang terlalu pintar untuk anak seusianya, sehingga seringkali terasa seperti orang dewasa.

***

Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Alurnya pun mengalir, dan membuat kita nyaman untuk membacanya. Seringkali, kejutan-kejutan yang tak terduga muncul begitu saja dalam cerita, dan akan membuat kita tersenyum ketika membayangkannya. Keluguan para bocah benar-benar diolah dengan cukup baik oleh Ziggy. Selamat membaca!

Identitas Buku

Judul                    : Di Tanah Lada
Penulis                 : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                : Pertama/ Agustus 2015
Tebal                     : 244 halaman
ISBN                     : 978-602-03-1896-7

Komentar

Written by DT. Jatmiko

Kontributor Ngadem.com - Lelaki gembira asal Prambanan. Sempat mempunyai cita-cita jadi Polisi, tapi kandas di tengah jalan.