Tempat Melarikan Diri Terbaik di Jogja: Embung Batara Sriten

Ngadem.com – Bagi kami, jalan-jalan layaknya menjalin sebuah hubungan; menyinergikan antara kaki, hati dan indra dengan tempat yang tengah kami pijak. Seperti semua harus ada, lengkap dan tentu saja harus saling melengkapi. Tak bisa satu-satu, tak bisa dipisah-pisah.

***

Setelah mengalami minggu yang pekat, kami mencoba sejenak melepaskan beban dari segudang kesibukan yang mengikat. Maka, kami pun mulai mencari destinasi wisata yang jauh dari hingar bingar pusat kota, yang jauh dari nyaringnya teriakan warta berita di berbagai media masa. Kami ingin suasana yang tenang, hening dan pas untuk membenamkan diri tanpa ada yang mengganggu. Ya, kami ingin melarikan diri! Kemudian pilihan pun jatuh pada Embung Batara Srinte, Gunungkidul.

pemandangan di Embung Batara Sriten

Yang Istimewa Dari Embung Batara Sriten

Embung Batara Sriten berada di titik koordinat  S7°49’56” E110°37’54”, tepatnya di Padukuhan Sriten, Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Jujur, banyak sekali hal mengagumkan yang ingin kami ceritakan tentang Embung Batara Sriten, namun karena keterbatasaan kata-kata dan karena juga tak adanya cemilan yang memadai, kami hanya bisa sedikit mendeskripsikan bagaimana situasi di embung yang memiliki predikat embung tertinggi di tanah Jawa ini.

Embung Batara Sriten adalah tempat wisata yang gagah berdiri dengan segala keeksotisannya. Suasannya yang tenang, langitnya yang biru dan hamparan pepohonannya yang hijau seakan mengajak kami untuk menetap lebih lama, kami serasa tak diijinkan pulang! Yang paling mengasankan adalah kami bisa menyentuh awan di tempat ini!

Mungkin semacam pencerahan, tiba-tiba saja Tuhan mengantarkan kami ke sebuah wisata alam yang menurut kami sangat menakjubkan, itulah Embung Batara Sriten.

Tepat pukul 3 sore, kami berangkat menggunakan sepeda motor berjenis matic. Tak lupa pula kami membawa kamera pocket untuk mengabadikan pemandangan-pemandangan epic yang disuguhkan Embung Batara Sriten. Bagi kami mengabadikan pemandangan dari tempat yang sedang kami pijak adalah suatu keharusan yang tak boleh kami abaikan. Mungkin semacam memelihara ingatan –melestarikan kenangan.

Akses Jalan

Perjalanan dari Jogja menuju Embung Batara Sriten memakan waktu kurang lebih 2 jam, sebenarnya bisa lebih cepat kalau saja akses menuju lokasi tidak rusak parah. Bicara soal akses atau jalan masuk menuju Embung Batara Sriten, bisa dibilang cukup menghawatirkan. Sebab, sebagian besar jalan yang dilalui masih rusak dan berliku. Selain itu,  jalan juga belum beraspal dan masih mengandalkan batu-batu alam. Parahnya lagi, jika hujan turun jalan akan berubah menjadi gembur dan becek. Inilah yang kemudian membuat para pengendara motor butuh kehati-hatian ekstra untuk melintasinya.  Tapi, perjalanan penuh tantangan tersebut terbayar tuntas saat kami sampai di lokasi.

Selepas melalui perjalanan yang melelahkan, dan dengan bensin pas-pasan, akhirnya pukul 5 sore lebih sedikit sampailah kami di tempat tujuan. Demi apa pun, Embung Batara Sriten tak kalah menakjubkan dari Dataran Tinggi Dieng. Dari sini, kami bisa menikmati  pemandangan yang luar biasa mengagumkan dengan view 360° ke area persawahan, perkampungan, dan sejumlah wilayah di bawahnya seperti Rawa Jombor, Klaten, Wonogiri, Waduk Gajah Mungkur, Gunungkidul, Sleman, Yogyakarta, dan lain sebagainya. Kami pun dapat berpindah dari bukit satu sampai bukit lainnya cukup dengan berjalan kaki, sebab beberapa diantaranya memang berdekatan.

Tiket

Inilah hal yang menggembirakan; kami tidak dikenai biaya masuk! Kami hanya dikenai biaya parkir sebesar Rp 2.000 saja. Ya, hanya dengan Rp 2.000 kami sudah bisa berjalan-jalan –bahkan menyentuh awan!

Fasilitas

Fasilitas yang ada di Embung Batara Sriten sebenarnya belum terlalu lengkap, hanya tersedia mushola, warung, toilet, dan beberapa gazebo untuk menikmati pemandangan alam sekitar.

Sedikit Infromasi Mengenai Embung Batara Sriten

Embung Batara Sriten dimanfaatkan sebagai wisata alam dengan icon utama kebun buah, seperti buah manggis dan kelengkeng yang terletak di perkebunan Baturagung utara. Menurut sumber yang kami dapat di tempat, perkebunan Baturagung Utara adalah puncak tertinggi di Gunungkidul (puncak tugu magir) yang memiliki ketinggian kurang lebih  896 mdpl. Mungkin karena kami datang terlalu sore, atau mungkin karena cuaca sedang mendung, kami tak bisa menikmati sunset. Meski pun kami yakin, sunset di Embung Batara Sriten sangat cantik dan emas.

Tips dari Ngadem.com

Karena akses jalannya yang terbilang parah, saran kami gunakanlah sepeda motor bebek bergigi, jangan matic. Sebab, kamu akan mengandalkan rem ekstra saat melintasi rute jalan. Pastikan kendaraan yang akan kamu pakai dalam kondisi yang prima, terutama rem! Urungkan niat untuk melanjutkan perjalanan bila hujan turun; jalan akan menjadi sangat sensi! Sebaiknya jangan bawa anak-anak di bawah 5 tahun, sebab beberapa area cukup rawan untuk anak-anak. Selain itu, jangan pulang saat hari sudah gelap. Fasilitas penerangan di kawasan Embung Batara Sriten masih sangat minim. Sebaiknya sebelum datang ke Embung Batara Sriten bawalah bakal makanan dan minuman, untuk jaga-jaga saja.

Tetaplah menjaga kebersihan, jangan membuang sampah sembarangan. Sebab, semua orang tahu; kebersihan sebagian dari iman. Selamat berwisata, selamat merenungi diri, selamat mengagumi cipta Tuhan.

Salam cantik!

Komentar

Written by Amie Uliel

CEO Ngadem.com - Wanita asal Brebes yang menyukai apa pun saja tentang travel dan buku-buku roman. Kini sedang kurang khusyuk kuliah di Fakultas Bahasa dan Seni UNY 2011.