in

Aih, Semoga Tuhan Tak Cemburu

Ngadem.com РAku datang dengan gaun putih terbaikku, membawakanmu sekeranjang apel manis kesukaanmu. Cahaya bulan yang memancar membuat aku dengan gaun putihku tampak begitu elegan. Sementara silir angin malam menampar manja rambutku yang tergerai. Aku dengan lirih langkah yang harmonis, siap menjumpaimu yang tengah menungguku di sebuah gedung tua nan megah. Tak sabar ingin memelukmu seperti juga kau yang tak sabar ingin mencium keningku. Bersabarlah menungguku, seperti juga aku yang akan selalu sabar menunggumu.

Sampai pada sebuah jembatan, aku teringat akan sesuatu; baju rajutan yang dengan susah payah kubuat untukmu lupa kubawa dan masih tertinggal di rumahku. Aku mendengus kesal. Aku memutar arah, berlari secepat mungkin untuk mengambil baju rajutan buah karya tanganku yang ingin kuhadiahkan padamu. Aku berlari sepanjang jalan yang hanya terdapat beberapa lampu petromak, pohon-pohon yang berjejer di tepi jalan seolah bersorak memberiku semangat. Sampai akhirnya, tibalah dirumahku, dan sesegara mungkin mengambil baju rajutan buah karya tanganku. Lalu, kembali berlari menujumu yang tengah menungguku.

Aku merapihkan rambutku juga gaun putihku agar kembali elegan. Di tanganku, sekeranjang apel manis kesukaanmu dan baju rajutan buah karyaku seolah tak sabar ingin melihatmu, seperti juga aku yang sudah tak sabar ingin melihatmu dan eret memelukmu. Sampailah tiba waktunya mata kita saling beradu. Kau di depanku, aku di depanmu. Kita dalam lingkaran rindu yang parah setelah sekian lama tak bertemu.

“Aku rindu padamu. “

Lirih kau ucap tiga kata itu di telingaku. Ah, suaramu menjadi semacam sihir yang membuat gairah purbaku memanas. Ada kedamaian yang menjalar hebat dalam hatiku. Dengan nafas yang terengah-engah, langsung kupeluk erat tubuh kurusmu.

“Aku rindu juga padamu.”

Kita saling erat memeluk tanpa peduli dengan waktu yang kerap menjadi musuh dalam selimut.

“Kau cantik sekali dengan gaun putihmu itu..”

“Kau juga terlihat tampan dengan kemeja hitam dan rambut klimismu itu”

Adakah yang lebih membahagiakan dari rindu yang terbayarkan? Adakah yang lebih membahagiakan dari pertemuan yang saling memberi kehangatan?

Rindu terbayarkan, kita saling melepas pelukan. Pada sebuah bangku yang berbejejer memanjang kita duduk dengan tangan saling menggenggam. Ya, di gereja inilah kali pertama kita bertemu dua tahun lalu. Rindu aku mencubit hidung membukitmu itu.

“Ini, untukmu.”

Kuberikan sekeranjang apel manis kesukaanmu dan baju rajutan yang kubawa dengan penuh cinta. Semoga kau suka.

“Terimakasih. Aku suka. “

Kau mencium keningku. Lalu kembali memelukku. Dan, pelan-pelan bibir kita saling bertemu, saling memagut.

Aih.. semoga Tuhan tak cemburu.

Written by Akshanitaquin

Kontributor Ngadem.com - Tak ada yang bisa kuceritakan padamu tentang diriku. Santai saja, aku hanya menulis, jika kau suka terima kasih, jika tak, kudoakan kau lekas suka.