in

Konsep Filosofis dalam Film Ex Machina (2015)

Ngadem.com – Ketika membahas tema ­­sci-fi dalam film, kita selalu menjumpai masa depan, modernitas, dan ilmu pengetahuan dalam unsur robotik. Akhir-akhir ini produksi film Hollywood gencar meluncurkan film-film bertema sci-fi. Sebut saja Real Steel (2011), Automata (2014), RoboCop (2014), Transformer (dengan beberapa serinya), Chappie (2015) dan yang lainnya, telah memberi banyak warna dalam tema sinematografi dunia. Pada artikel kali ini, akan saya bahas film sci-fi terbaru yang tak kalah menarik: Ex Machina (2015).

Di kalangan pengguna internet, film Ex Machina (2015) mendapatkan respon yang cukup baik. Dapat diduga bahwa masih banyak responden-responden cerdas di dunia maya. Artinya, tidak hanya sekedar berkoar hujat, menyiulkan kritik ataupun berkicau tentang kekecewaan. Fenomena ini bisa dilihat dalam Internet Movie Database (IMDb.com), di mana film ini medapatkan rating yang cukup brilian: 7,7. Hal ini tentu beralasan.

Meskipun pada awalnya konsep filosofis ini mengakar hanya pada film-film yang berbasis drama, namun beberapa tahun ini tak jarang film-film aksi, kriminal, fantasi, juga sci-fi, yang ikut memuat konsep filosofi dalam dialognya. Dan bagi kalian yang menginginkan film berat yang kontemplatif, saya sarankan jangan anggap remeh film Ex Machina ini.

“Kau akan menjadi titik puncak sejarah sebagai manusia yang menjadi poros uji mesin berkesadaran.” Kata Nathan pada Caleb.

“Jika kau menciptakan mesin berkesadaran, itu bukan lagi sejarah manusia. Itu sejarah Tuhan.” Jawab Caleb.

Seketika, logika kita kian tergelitik disuguhi diolalog semacam itu. Kemudian, secara tidak sadar, kita dibuat hanyut oleh arus alur yang mengalir lembut, tapi memabukkan. Maka, tak akan lengkap jika tak saya sampaikan beberapa identitas dalam film ini.

Cover Film Ex Machina (2015)

Film ini mengisahkan seseorang programmer yang terpilih menjadi pemenang dalam sebuah undian acak. Undian itu menawarkan pemenang untuk bergabung secara langsung dalam penelitian program robot terbaru yang dirancang dengan kesadaran setingkat manusia.

Pemenang undian itu bernama Caleb (diperankan oleh Domhnall Gleeson). Sementara tuan rumah dalam sebagai perancang robot itu adalah Nathan (diperankan oleh Oscar Isaac). Robot itu dinamai Ava (diperankan Alicia Vikander). Sepintas, kita memang bisa mengingat sosok robot perempuan (Cleo) dalam film Automata (2014), sebab keduanya sama-sama membawakan jiwa manusia dalam entitasnya sebagai robot. Hanya saja, dalam konsep filosofis, film Ex Machina cenderung lebih unggul.

Film Ex Machina termasuk film sci-fi baru, sebab diproduksi pada 2015. Ditulis dan disutradarai langsung oleh Alex Garland, dan diproduksi dengan estimasi modal sebesar $15.000.000. Bagi kamu yang haus dengan suspense dan surprise dalam film, akan menyesal jika melewatkan film satu ini. Tentang bagaimana intrik Nathan dalam membuat robot-robotnya, bagaimana ketertarikan Caleb pada Ava, bagaimana Ava membaca ketertarikan Caleb, bagaimana Ava merancang rencana untuk kabur dari labirin laboratorium, dan masih banyak lagi “bagaimana-bagaimana” yang membuatmu tak pernah tepat dalam menduganya. Rating saya untuk film Ex Machina adalah 7,8. Tak setuju? Tontonlah.

Written by Muhammad Hanif

Kontributor Ngadem.com - Pemuda kekinian asal Bantul yang menggandrungi dunia film dan sinematografi, Sedang sibuk menyususn skripsi berasaskan Kajian Ekranisasi di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.