in

Soal Hat-trick Arifin C. Noer dan Keberhasilan Teater Amurti dalam Parade Teater UNY 2015

Ngadem.com – Parade teater UNY yang digelar bulan Desember ini, merupakan tugas akhir mata kuliah drama di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, FBS, UNY. Sudah sejak lama menjadi semacam simbol jurusan PBSI pada khususnya dan FBS pada umumnya. Di tahun ini tercatat ada empat kelas yang mengikuti parade teater tersebut. Seperti biasa kelas-kelas dari Jurusan PBSI dan BSI membentuk sebuah nama teater atau sanggar sebagai tanda pengenal mereka. Kelompok teater atau sanggar tersebut meliputi, Teater Amurti, Teater Baruna, Teater Brahmastra dan Teater Atlas.

Ada yang menarik dalam Parade Teater UNY tahun 2015 ini. Kembali dipentaskannya naskah karya Arifin C. Noer seperti menjadi hattrick bagi si empunya naskah. Pada Parade Teater tahun 2013 lalu, salah satu kelas yang ikut memeriahkan acara tersebut juga mementaskan naskah milik Arifin, adalah Teater Tempur; dengan judul naskah Matahari di Sebuah Jalan Kecil. Selanjutnya, di tahun 2014, kembali Parade Teater UNY diramaikan dengan karya Arifin C. Noer, saat itu kelompok Teater Sinawang memakai naskah Orkes Madun II, Umang-umang untuk dipentaskan. Dan pada 11 Desember 2015 kemarin, Teater Amurti dari prodi Bahasa dan Sastra Indonesia kelas B kembali menggunakan karya Arifin C. Noer yang berjudul Sumur Tanpa Dasar yang diedit dan memakai judul baru; JUM.

Arifin C. Noer sendiri merupakan salah satu, kalau boleh sata katakan, adalah legenda dalam dunia teater di Indonesia. Teatrawan kelahiran Cirebon 10 Maret 1941 ini pernah bergabung dengan Teater Muslim pimpinan Muhammad Diponegoro. Ia juga pernah menjadi bagian dari Bengkel Teater milik W.S Rendra. Hingga wafatnya pada tahun 1995,  Arifin C. Noer berhasil menulis beberapa lakon hebat dan sampai saat ini banyak dipentaskan oleh sanggar teater di seluruh Indonesia. Karya-karya beliau antara lain, Kapai-kapai, Orkes Madun, Sumur Tanpa Dasar, Kasir Kita dan lain-lain.

Keberhasilan Teater Amurti

Kenapa disebut berhasil? Apa indikasi sebuah pentas teater bisa dikatakan berhasil? Apakah ketika pentas teater berjalan lancar dari MC membuka pentas sampai MC menutup pentas lalu teater bisa dikatakan berhasil? Pentas teater dalam hal ini katakanlah dianggap sebagai bentuk apresiasi atau salah satu cara untuk menyampaikan ide atau gagasan dari sebuah naskah drama, maka pentas teater bisa dikatakan berhasil jika ide atau gagasan dari naskah bisa sampai di pikiran atau hati penonton.

Foto dari Dian Ramadhan

Lalu, apa indikasi penonton mendapatkan ide atau gagasan dari sebuah pentas teater? Kita akan kesulitan jika harus menanyai satu-persatu penonton, apalagi penonton yang datang bisa sampai ratusan orang. Cara yang bisa digunakan adalah melihat bagaimana suasana penonton dan antusiasme ketika teater berjalan. Apakah penonton tertidur di tengah pentas, bermain handphone, atau sekedar ngobrol dengan teman di sampingnya, ataukah penonton terbawa suasana panggung, lika-liku alur, atau kekuatan penokohan hingga penonton tersebut tersadar sudah menonton pentas teater bedurasi dua setengah jam ketika MC menutup acara.

Bagaimana yang terjadi di pentas Teater Amurti? Teater yang disutradarai Riska SN ini seakan berjudi dengan memilih naskah yang berdurasi lebih dari dua jam dengan waktu latihan kurang dari empat bulan. Dibantu supervisior M Shodiq Sudarti akhirnya mereka berhasil menyelesaikan latihan dan sukses mementaskan naskah editan dari Sumur Tanpa Dasar pada 11 Desember kemarin.

Naskah JUM atau Sumur Tanpa dasar bercerita tentang Jumena Martawangsa yang bergelut dengan konflik batin sehingga setiap malam ia tak bisa tidur dan sekali tertidur pasti bermimpi tentang kematian. Ketidak percayaannyaa terhadap istrinya bernama Euis dan orang yang sudah dianggap saudaranya sendiri Marjuki membuatnya tidak tenang untuk mati. Ditambah masalah kekayaannya yang tidak mempunyai penerus (tidak memiliki putra dengan Euis) semakin membuatnya tidak tenang. Hingga pada akhir hidupnya ia bisa dikatakan sakaratul maut, tersiksa dalam ketidak-berdayaanya.

Naskah tersebut dipentaskan dengan apik oleh Teater Amurti. Penokohan Jumena yang selalu di atas panggung selama dua setengah jam memerlukan konsistensi yang luar biasa. Penataan panggung dan pencahayaan yang optimal juga membuat pentas tersebut hidup. Hanya beberapa orang yang kehilangan fokus dan kembali ke urusan dunia masing-masing, tetapi itu hanya pada awal pentas karena memang lumayan membosankan. Pentas yang dibagi menjadi empat babak ini merupakan oase dari gersangnya teater-teater yang terlalu mengandalkan aspek visual dan melupakan esensi dari sebuah pentas teater, pesan dari sebuah naskah.

*Foto-foto: Dian Ramadhan

Written by Fuad E. Cahya

Kontributor Ngadem.com - Lelaki riang asal Bantul yang tak lagi jomblo. Suka baca buku, nonton teater dan mandi tak pake sabun. Tengah berjuang menaikkan kasta erotisme dalam khasanah media cetak serta visual.