in

Tamasya Lewat Review Film Fantasi Musikal Into The Woods (2014)

Ngadem.com – Alkisah, di sebuah kerajaan yang amat jauh (macam dongeng kan?), terdapat sebuah desa kecil yang ditinggali seorang gadis remaja bersma ibu dan dua saudara tirinya yang cantik. Tentu mendengar kata “tiri” kita akan langsung dibawa ke aura kejam, sadis, dan apa pun yang negatif. Ya, terdengar seperti cerita Cinderella memang, karena namanya memang Cinderella. Ada suami-istri pembuat roti, ada anak kecil nakal dan ada gadis kecil yang selalu memakai mantel warna merah.

Review Film Into The Woods (2014)

Nantinya, tokoh-tokoh itu akan bertemu di dalam hutan. Mereka dipertemukan oleh tujuan masing-masing. Tetapi tujuan yang paling jelas membuat semua tokoh berhubungan adalah tujuan si Tukang Roti. Ah ya… perlu saya katakan terlebih dahulu bahwa film ini adalah film jenis musikal, di mana dialognya dilakukan dengan nyanyian. Selain itu, film ini syarat akan fiksi—meski kadar fiksinya tergolong ringan, dan tentu saja sangat pas ditonton bersama keluarga.

Nah, kembali ke tujuan si Tukang Roti dan istrinya: adalah mencari persyaratan yang diberikan oleh si Penyihir. Begini ceritanya; suami-istri (pasangan Tukang Roti) sudah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai seorang anak. Suatu hari penyihir datang ke rumahnya, memberi tahu bahwa mereka tidak punya anak oleh sebab kutukannya. Jika mereka ingin lepas dari kutukan itu, mereka harus mendapatkan 4 hal dari dalam hutan: mantel semerah darah, sapi seputih susu, sepatu emas, dan rambut sewarna jagung.

Setelah menonton setengah dari film ini saya baru sadar bahwa ceritanya adalah gabungan dari cerita-cerita seperti Cinderella dan Jack The Giant Slayer—dan yang lainnya saya kurang tahu, barangkali jika kamu menontonnya kamu bisa lebih tahu dari saya. Jika sudah tahu, jangan lupa tulis di kolom komentar ya, biar bisa saling share.. Hehhee..

Kemudian, di akhir-akhir cerita film ini berkonflik dengan satu musuh dari film Jack The Giant Slayer, di mana raksasa turun ke Bumi. Oleh karena hal-hal itu, saya sendiri sepakat dengan IMDb untuk memberi rating pada film ini dengan angka 6,1. Sebab cerita dalam film ini terbagi, tidak fokus. Padahal, akar-akar ceritanya pernah difilmkan masing-masing dengan luar biasa, meski tidak secara musikal.

Baiknya, (ini dia!) dengan film ini kita seakan dibawa tamasya—bagi yang jarang keluar rumah tentunya—ke tempat-tempat fantasi. Kita serasa mengalir saja, sebab film ini ringan dan tidak perlu pikiran yang njlimet. Selain itu, kita disuguhi dengan penampilan actor-aktris ternama seperti Anna Kendrick (bermain dalam film Pitch Perfect), Emily Blunt (bermain dalam film Edge of Tomorrow), Meryl Streep (bermain dalam film Devil War’s Prada), ada juga Johnny Depp.

Kalau ada kalimat yang bermakna saya kira adalah apa yang disampaikan—mungkin dinyanyikan lebih tepatnya—oleh istri si Tukang Roti.

“Terkadang hidup menuntun kita untuk kehilangan sesuatu, tetapi waktu akan memberikan yang lainnya. Kamu tidaklah sendiri. Kita tidaklah sendiri. Aku ada dalam dirimu, dirimu ada dalam aku.”

Written by Muhammad Hanif

Kontributor Ngadem.com - Pemuda kekinian asal Bantul yang menggandrungi dunia film dan sinematografi, Sedang sibuk menyususn skripsi berasaskan Kajian Ekranisasi di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.