in

You Are The Apple of My Eye: Film Yang Akan Mengajarkanmu Bahwa Melepas Tak Berarti Meninggalkan

“People always say that the most wonderful time of a relationship happens before it really happens. When two people are together, the magic vanished easily”

 – Chia-Yi Shen, You Are The Apple of My Eye

Ngadem.com – Bagi kamu penggemar film Asia Timur, mungkin film You Are The Apple of My Eye sudah tidak asing lagi di telinga. Film besutan Giddens Ko yang dibintangi oleh Michelle Chen (Chia-Yi Shen) dan Ko Chen-tung (Ko Ching-teng) ini memang sempat menjadi idola bagi remaja. Film ini diproduksi pada tahun 2011 di negara asalnya Taiwan dengan alur ceritanya yang khas remaja banget. Diadaptasi dari novel semi-autobiografi dari sang sutradara sendiri, yakni Giddens Ko. You Are The Apple of My Eye ngehits banget sampai menembus rekor box office di Taiwan, Hongkong, dan Singapura.

Baca juga: Review Film The Help (2011): Kegelisahan Atas Diskriminasi Ras Kulit Hitam

Baca juga: Review Film The Drop (2014): Nuansa Kriminalitas Yang Penuh Misteri

Setting waktu di film ini adalah tahun 1994 di mana Chia-Yi Shen (Michelle Chen) dan Ko Ching-teng (Ko Chen-tung) bersekolah di suatu sekolah menengah atas di Taiwan. Shen Chia-Yi merupakan murid yang populer di kelasnya karena dia murid yang cantik, pintar, rajin, dan menjabat sebagai ketua kelas. Sedangkan Ko Ching-teng digambarkan sebagai murid yang badung, bodoh, malas, dan tukang membuat keributan. Shen Chia-Yi yang populer tentu saja menjadi idola bagi murid laki-laki tak terkecuali Ko Ching-teng and the gank. Pada awalnya Ching-teng tidak tertarik pada Chia-Yi, sampai suatu kejadian di sekolah mengubah takdir mereka selamanya.

Ko Chen-tung sebagai Ko Ching-teng
Ko Chen-tung sebagai Ko Ching-teng

Suatu hari Ching-teng kepergok guru melakukan mansturbasi di kelas dengan temannya, ia dipindah ke tempat duduk di depan Chia-Yi. Chia-Yi yang merupakan murid rajin serta pandai, diberikan amanat oleh kepala sekolahnya untuk mengawasi dan membantu Ching-teng belajar. Sejak saat itulah hubungan mereka semakin dekat dan perlahan-lahan Ching-teng mulai menyukai Chia-Yi.

Sampai tiba waktunya perpisahan sekolah yang mengharukan. Setelah perpisahan Chia-Yi dan Ching-teng masih menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih namun tidak berpacaran, walaupun terpisah jarak yang lumayan jauh. Sampai suatu ketika Chia-Yi memutuskan untuk menjadi istri orang lain. Bagaimana reaksi Ching-teng? Inilah yang membuat saya terkejut, Ching-teng dengan terlebih dahulu melalui perjuangan sekeras batu, akhirnya ikhlas.

Baca juga: Review Film As Above So Below: Paduan Nuansa Mistis dan Mitologi Yang Pas!

Baca juga: Review Film Melancholia: Adakah Yang Berduka Untuk Dunia?

Michelle Chen sebagai Chia-Yi Shen
Michelle Chen sebagai Chia-Yi Shen

Ada satu moment yang menjadi titik di mana cinta itu terkadang memang membuat buta. Saat Ching-teng bersama teman-temannya menghadiri acara pernikahan Chia-Yi, Ching-teng nekat mencium pasangan Chia-Yi yang notaben-nya adalah lelaki. Untuk apa? Untuk bisa mencium Chai-Yi!!! Gilakkk!!!

Suami Chai-Yi berkata: “Kalian boleh mencium Chai-Yi, asal kalian menciumku terlebih dahulu.”

Entah dimasuki setan apa, dengan segera Ching-teng mendekap suami Chai-Yi dan mencium mesra bibir suami Chai-Yi. Hal inilah yang kemudian membuat siapa saja yang menonton film You Are The Apple of My Eye akan merasa bahwa benar; melepas tak  berarti meninggalkan. Asal demi kebaikan doi, ya sudah… bahagianya kan bahagia kita juga. Kita bisa melepasnya, tapi kita akan selalu ada untuknya. right?

Baca juga: Film The Reader: Romantika Misteri Hidup Seorang Pembaca dan Pendengar di Zaman Nazi

Baca juga: Winter’s Tale: Soal Cinta, Keajaiban, dan Semesta dalam Film Fantasi

Nah, kalau kamu penasaran seperti apa intrik-intrik yang ada di dalamnya, kamu bisa tonton film drama komedi ini. Saran saya, sediakan tissue, siapa tahu air mata kamu mendadak membahasi pipi. Tapi ingat ya, umur kamu harus 17 tahun ke atas. Karena target audiens film ini adalah remaja dewasa. Oke? Selamat menonton!

Written by Agatha Diah

Kontributor Ngadem.com - Wanita paruh baya yang kini tengah berjuang meluluskan diri dari Ilmu Komunikasi Media dan Jurnalisme, UGM. Suka membaca dan keliling gang.