in ,

Perjalanan Ke Gunung Merbabu: Wisata Melankolis di Tepi Langit Jawa Tengah

Ngadem.com – Gunung Merbabu meliputi tiga kabupaten yaitu Boyolali, Magelang dan Semarang. Gunung yang telah menjadi kebanggaan warga Jawa Tengah ini memang sangat menawan. Hamparan hijau dari savana akan memanjakan mata yang mungkin jenuh dengan pemandangan kota. Pohon-pohon rindang di hutan dan bunga edelweiss selalu menjadi favorit di daerah pegunungan. Tidak hanya itu, tepat di sebelah selatan gunung ini menjulang Gunung Merapi yang dapat dilihat dari atas Merbabu. Tidak satu orang pun dapat menyangkal bahwa hal tersebut adalah karya yang begitu menawan dari Sang Pencipta. Maka tak heran jika Merbabu masuk dalam kategori Taman Nasional yang memiliki magnet bagi pengunjung untuk segera mengunjunginya.

Yang Istimewa di Gunung Merbabu

tim gunung merbabu

Gunung Merbabu adalah gunung berapi dengan jenis stratovolcano kerucut. Gunung ini telah dinyatakan tidak aktif dan berdasarkan catatan sejarah, Merbabu terakhir meletus pada tahun 1968. Ada tujuh puncak di Merbabu; Watu Gubug (2685 di bawah permukaan laut), Watu Tulis (2835 di bawah permukaan laut), Geger Sapi (2926 di bawah permukaan laut), Syarif (3119 di bawah permukaan laut), Ondo Rante (3048 di bawah permukaan laut), Kentheng Songo (3142 di bawah permukaan laut), dan Merbabau / Triangulasi (3145 di bawah permukaan laut).

Merbabu disebut-sebut sebagai tempat yang memiliki suhu sangat dingin di Jawa Tengah. Tak pelak, kabut telah menjadi penghias yang sangat cantik di tempat ini (meskipun terkadang kabut juga mengganggu para pendaki.) Warga yang ingin melakukan perjalanan di seluruh kota Magelang biasanya menikmati kemegahan Merbabu dan Gunung Merapi dari Ketep Pass.

Jalur Pendakian Gunung Merbabu

Ada empat jalur pendakian untuk Merbabu, yakni Thekelan, Cunthel, Wekas ​​dan Selo. Setiap jalur pendakian memiliki tingkat kesulitan dan karakteristiknya sendiri-sendiri. Misalnya, Wekas ​​yang merupakan jalur terpendek untuk mencapai puncak tanjakan, sangat cocok untuk pendaki pemula. Chuntel yang cukup panjang membuat para pendaki harus menyiapkan stamina lebih untuk melaluinya. Sementara di jalur Thekelan, terdapat beberapa bagian yang cukup curam, terutama di Kenteng Songo di mana ada jembatan dengan tebing curam di sebelah kanan. Kemudian terakhir, jalur Selo yang memiliki jalur pendakian relatif mudah.

Biasanya pendaki gunung mengambil jalur Wekas ​​sebagai titik mendaki dan turun melewati jalur Selo. Wekas ​​sebenarnya adalah nama sebuah desa yang terletak di Kabupaten Magelang. Di pintu masuk ada jalan untuk basecamp dan pendaftaran. Untuk memudahkan pendaki yang naik sepeda motor, pendaki bisa memarkir kendaraan mereka di tempat ini. Masih banyak rumah dan perkebunan yang ditanami berbagai jenis sayuran dan tembakau saat melintasi titik awal pendakian ini. Di sini pengunjung dapat melihat bahwa sebagian besar penduduk bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan.

Sekitar 2 jam dari pintu masuk, pendaki bisa berhenti pos pertama untuk beristirahat. Menuju pos kedua, pendaki akan dimanjakan dengan deretan pohon pinus yang indah dengan jalan-jalan yang tidak begitu menanjak. Pos kedua adalah area berkemah favorit di kalangan pendaki. Selain tanahnya yang datar, ada juga sumber air untuk keperluan berkemah. Air berasal dari pipa bocor yang diambil dari puncak gunung ke rumah warga. Hanya ada dua pos di jalan ini, setelah beristirahat di tenda, berikutnya pendaki harus menyeberangi jalan yang merupakan pertemuan jalur antara jalur Wekas ​​dan Thekelan.

Di pertigaan, pendaki akan bertemu track datar dan pos lima atau lebih dikenal dengan nama Sabana. Kamu juga akan disambut dengan kelembutan aroma khas dari bungan Edelweis.

Dari Sabana (sebelah jalan cabang) teredapat trek yang cukup ekstrim karena pendaki harus menyeberang jalan di mana ada jembatan yang disebut ‘jembatan setan’ dengan jurang di sisi kiri dan kanan. Setelah melewati jembatan setan selama sekitar 15 menit, pejalan kaki akan menemukan lagi persimpangan di mana jalan ke kiri adalah akses ke atas puncak Sharif, sedangkan sebelah kanan adalah akses ke puncak Kentheng Songo dan Triangulasi.

Waktu Yang Tepat Untuk Mendaki Gunung Merbabu

Pagi hari merupakan waktu yang tepat untuk berada di Merbabu, sambil menunggu ucapan dari semburat sinar emas matahari di balik lautan awan yang indah. Dari persimpangan sebelumnya, hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mencapai puncak Sharif. Areanya yang cukup luas, memungkinkan pendaki untuk mendirikan tenda. Kemudian kembali lagi ke persimpangan untuk mengunjungi puncak berikutnya, yakni Kentheng Songo dan Triangulasi secara bergiliran. Kentheng Songo sendiri berarti batu yang dipalu menjadi sembilan batu yang lebih kecil; mirip dengan wadah beras. Tapi di atas hanya ada lima buah bangunan batu. Puncak Kentheng Songo dianggap sebagai tempat suci oleh orang-orang lokal Merbabu.

Dari Puncak Kentheng Songo, dibutuhkan waktu sepuluh menit untuk mencapai puncak tertinggi Merbabu; puncak Triangulasi dengan ketinggian 3.142 di atas permukaan laut. Pemandangan sekitarnya begitu indah jika dilihat dari atas Triangulasi. Gunung Merapi terlihat begitu bersahaja di selatan, sementara di sebelahnya adalah Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Savana yang indah dan hutan hijau yang subur akan membuat kamu ingin tinggal lebih lama.

Jalur Balik Gunung Merbabu

gunung merbabu via wekas

Cara turun mendaki melalui Selo masih relatif aman karena lintasan yang tidak curam, hanya saja jarak lebih panjang jika lewat dari Wekas. Pada awal perjalanan, pendaki akan bertemu batu cukup besar. Setelah melewati itu, para pendaki akan kembali bertemu dengan tiga titik luas savana dengan bukit yang menjulang. Di beberapa tempat kamu juga akan melihat deretan bunga abadi atau bunga edelweiss.

Tentu saja, bepergian naik dan turun bukit akan sangat melelahkan, tapi pemandangan alam dari Merbabu yang sungguh entertainer akan membuat kamu percaya: bahwa keindahan alam Indonesia itu bukan sekedar mitos!

Tips dari Ngadem.com Ke Gunung Merbabu:

1. Tak banyak yang memperhatikan, Gunung Merbabu ini sebenarnya termasuk gunung dengan area medan yang terbuka. Itu artinya di sepanjang pendakian kamu akan jarang melihat hutan yang benar-benar lebat. Sebagian besar adalah padang sabana. Nah untuk terhindar dari sengatan terik matahari, kamu bisa membawa krim sunblock dari rumah. Selain itu, pakailah pakaian yang tertutup, jangan lupa membawa topi rimba atau payung lipat.

2, Gunung Merbabu memiliki cuaca yang cukup ekstrim dan berubah-ubah. Agar lebih nyaman, saat siang terasa sangat panas dan malam terasa sangat dingin, bawalah sleeping bag dan pakaian hangat. Selain itu, agar wajah dan hidung kamu tidak pecah atau mengelupas ada baiknya untuk membawa body lotion atau pelembab dan lindungi hidung kamu dengan kapas yang ditempel dengan memakai plester.

3, Saat melalui Jalur Sabana kamu akan melihat banyak percabangan dan bekas aliran air hujan yang sekilas mirip dengan rute atau jalur, tentu saja hal ini bisa menyesatkan pendaki. Saran kami agar lebih mudah, ada baiknya untuk melakukan perjalanan di siang hari.

4. Untuk bisa sampai di puncak, kamu akan membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam. Nah, agar terhindar dari terik matahari, kamu bisa mulai mendaki sekitar pukul satu siang, dengan harapan saat menjelang maghrib kamu sudah bisa mendirikan tenda di pos 5, dan esoknya bisa melanjutkan pendakian lagi pada pukul setengah empat dini hari.

5. Saat sampai di puncak kamu akan melihat banyak kera-kera liar, saran kami hati-hati dan jangan memberi makanan pada mereka, hal ini supaya kera-kera tersebut tidak terbiasa makan makanan manusia.

6. Untuk persiapan logistik, kamu disarankan untuk berbelanja di pasar Selo. Karena jaraknya yang cukup dekat dengan Basecamp, di tempat ini tersedia berbagai kebutuhan saat mendakai, seperti air, makanan ringan sampai sandal gunung.

7. Saran kami yang terakhir dan yang paling penting adalah: jangan lupa membawa sampahmu turun!

Foto via Fuad Evans

Written by Reshie Fastriadi

Kontributor Ngadem.com - Pemuda beruntung yang lahir dan besar di lingkungan berbeda. Telanjur jatuh cinta pada dunia otak kanan dan Nasi Pecel khas Nganjuk. Sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah dan menata hati dari bisikan setan yang terkutuk.