in ,

Menggali Sejarah Candi Bawah Tanah Yogyakarta: Candi Sambisari

Ngadem.com – Candi Sambisari merupakan salah satu candi atau kuil yang tersisa dari periode Hindu Jawa yang secara administratif terletak di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  Candi ini dibangun pada abad ke-10 oleh Syailendra Dinasti dan ditemukan pada tahun 1966 oleh Karyoniangun, seorang petani dari Desa Sambisari, ketika ia mencangkul di tanahnya.

Setelah penemuan itu, Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian melakukan serangkaian penelitian dan penggalian. Berdasarkan penelitian geologi pada batu-batu candi dan tanah yang menutupinya selama berabad-abad, yang 7,5 m candi tinggi dilapisi dengan material vulkanik dari letusan Gunung Merapi di tahun 1006. Penggalian ini dilakukan pada bulan Juli 1966 dan dipastikan bahwa itu memang sebuah situs sebuah kuil kuno. Selama penggalian, juga ditemukan artefak lain seperti perhiasan, keramik, dan prasasti emas. Menurut tim penggalian, temuan menunjukkan bahwa Candi Sambisari dibangun sekitar 812-838 AD ketika zaman Hindu Mataram (Mataram Kuno) diperintah oleh Raja Rakai Garung.

Pada tahun 1987, Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan renovasi dan rekonstruksi. Rekonstruksi menemukan bahwa posisi candi sebenarnya adalah 6,5 meter di bawah permukaan bumi. Karena posisinya yang di bawah tanah itu, Candi Sambisari pun kemudian disebut sebagai candi bawah tanah.

Apa yang istimewa dari Candi Sambisari?

Candi Sambisari jogja

 

Tentu saja, letaknya yang berada 6,5 meter di bawah tanah membuat candi Sambisari sangat berbeda dibandingkan dengan candi-candi Hindu lainnya di Jawa. Ketika melihatnya dari samping, candi akan tampak seolah-olah mencuat dari bawah tanah. Arsitektur candi memiliki karakteristik yang berbeda di seluruh bagian strukturnya. Bagian utama dari candi adalah 7,5 m dan dalam bentuk persegi 15,6 x 13,6 m lebar. Balai Arkeologi Yogyakarta memperkirakan bahwa areal Candi Sambisari sebenarnya lebih luas dari itu jika digali lebih lanjut. Namun, jika penggalian lain dilakukan, dikhawatirkan candi akan tergenang air pada musim hujan karena posisinya lebih rendah dari sungai di sebelah baratnya.

Bagi kamu yang ingin masuk ke dalam bangunan utama melalui pintu gerbang di sisi barat, ketika naik ke pintu gerbang, kamu akan menemukan ornamen unik berbentuk sayap di tangga. Di ujung sayap, ada ukiran Makara yang ditopang oleh dua patung kecil.

Di luar bangunan utama candi, kamu akan menemukan patung ceruk, kemudian disusul patung Dewi Durga di sebelah utara, Ganesha di timur, Agastya di bagian selatan. Ada dua relief lainnya di sisi kanan dan kiri pintu gerbang, dimana adalah tempat untuk patung dewa Mahakala dan Nadisywara. Sayangnya, kedua patung telah dicuri. Selain itu, kamu juga dapat melihat patung besar Yoni dan Lingga di sebuah ruangan di dalam tubuh candi.

Akses

Candi Sambisari terletak 12 km sebelah timur dari pusat kota Yogyakarta atau 5 km dari Candi Prambanan. Untuk mencapai situs ini dari pusat kota, kamu bisa naik bus dari rute Yogya-Solo dan berhenti setelah mengambil 10 km perjalanan. Setelah itu, kamu bisa melanjutkan perjalanan 2 km berikutnya dengan naik ojek.

Fasilitas di Candi Sambisari

Belun terlalu banyak fasilitas di sekitar komplek Candi Sambisari karena lokasinya di tengah-tengah area persawahan. Kamu hanya bisa menemukan beberapa instalasi sederhana seperti kedai, toko kecil, dan masjid di daerah tempat tinggal di dekat Candi.

Sumber bantuan: jogjatrip.com

Written by Reshie Fastriadi

Kontributor Ngadem.com - Pemuda beruntung yang lahir dan besar di lingkungan berbeda. Telanjur jatuh cinta pada dunia otak kanan dan Nasi Pecel khas Nganjuk. Sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah dan menata hati dari bisikan setan yang terkutuk.