in ,

Membaca Novel Kelir Slindet, Soal Realitas Perempuan Yang Memekikkan

Ngadem.com – Ada makna yang terjalin di suatu cerita fiksi (novel dan cerpen) terhadap pembacanya. ada kemungkinan, itu salah satu yang terpikirkan seorang sastrawan dan penyair Kedung Darma Romansha, tokoh sastrawan yang lahir di daerah Indramayu, 1984. Penyair yang kerap disapa sebagai Kedung Ini, memiliki karya yang dapat ditemukan di pelbagai media massa nasional dan memiliki antologi bersama antara lain Kompas, Tempo, Seputar Indonesia, Tabloid Nyata dan sebagainya. Kelir slindet adalah kisah pertama yang diwujudkan dalam Novel―mengisahkan tentang kehidupan tokoh suatu keluarga yang terjebak dalam mentalitas kemiskinan.

Review Buku Kelir Slindet

“Ji, aku memang mantan telembuk. Apa aku tidak pantas untuk berbuat lebih baik? Aku capek dibicarakan orang terus, Ji. Aku manusia. Aku masih punya harga diri. Kamu dengarkan?” Saritem menangis. Tubuhnya luruh ke tanah. Dia terduduk, dan beberapa orang berusaha mengangkatnya.

Apa yang ada dipikiranmu bila mendengar kata ‘Mantan Pelacur’? mungkin beberapa orang akan memberi tafsiran, bahwa menjadi mantan pelacur adalah tindakan yang baik –mantan. Sedang dalam dalam realita tidak selalu memberi satu tafsir dan tidak ada yang tahu kebenarannya. Mungkin hanya sampai pada yang baik menurut pribadi masing-masing. Kelir Slindet menyuguhkan hal yang sarat realita. Namun tentu saja, semua manusia memiliki pendapat lewat sudut pandangnya sendiri-sendiri.

…Saritem menghentikan profesinya sebagai telembuk. Terkadang ia datang ke mushola Haji Nasir―ia ingin dianggap bertaubat.”  

Dalam strata masyarakat manapun, baik itu di lingkungan pedesaan maupun lingkungan masyarakat perkotaan secara nyata di hadapkan pada tiap pribadi yang berbeda. Perempuan-pun ikut memiliki peranan tertentu dalam kehidupan sosialnya. Peranan perempuan terwujud melalui kelompok-kelompok sosial, baik itu dalam cakupan kecil ataupun besar. Peran perempuan dalam kehidupan sosial mengharuskan kemandirian yang kuat untuk mengembangkan kepribadiannya. Ada yang menakjubkan seperti yang tertulis di atas yang bisa disadari atau mungkin bagi yang belum menyadir. Dan lewat Kelir Slindet, juga mungkin akan ada yang tersadar.

Meski banyak tokoh yang diangkat, tentu penulis memiliki satu tokoh yang banyak mengambil bagian dalam bab-bab novel Kelir Slindet, dan tokoh Safitrilah yang lebih mendominasi di sini. Safitri sendiri adalah seorang anak perempuan dari pasangan Saritem dan Sukirman yang merasa tertekan akibat selalu dituduh sebagai penyebab masalah, sehingga tak pernah keluar dari rumah dan lebih memilih untuk mengurung diri. Safitri diceritakan mengalami konflik batin yang membuat mentalnya tertekan, frustasi, depresi dan hilang kewarasannya pada umur 15 tahun, yang juga disebabkan tudingan-tudingan orang-orang di kampungnya. Safitri juga sering mendapatkan predikat sebagai sorang anak telembuk (istilah untuk pelacur di daerah Indramayu) dan petani sewaan yang senang mabuk dan berjudi, dan ingin menikah dengan seorang anak kaya pun terpandang di kampungnya.

Safitri seperti melewati hari-hari yang menyakitkan. Hidupnya seperti dibayang-bayangi sesuatu yang menakutkan. Hari esok serupa hantu yang akan mencekiknya dari belakang. Kekhawatiran tumbuh berkembang dan berisik, seperti malaikat dan iblis yang berdebat dengan cerewat di kepalanya.

 Tekanan yang dirasakan berpengaruh pada kejiwaan dan kehidupannya, yang kemudian menyebabkan munculnya rasa takut, rasa benci dan penyesalan dalam diri tokoh Safitri. Alamak! Novel yang menyempil permasalahan nyata, mampu memberi rasa penasaran pada akhirnya. Sebab tak ada yang tahu akhir dari kenyataan.

Sebagai informasi, novel Kelir Slindet adalah sebuah trilogi. Seri berikutnya, tunggulah.

Informasi Novel Kelir Slindet

  • Judul: Kelir Slindet
  • Penulis: Kedung Darma Romansha
  • Penerbit: PT Gramedia Mustaka Utama
  • ISBN: 978-602-03-0356-7
  • Tebal: 256 hlm
  • Tahun Terbit: 2014
  • Cetakan: Pertama
  • Genre: Sastra/novel dewasa/fiksi

Written by Bagus Fadli

Kontributor Ngadem.com - Pemuda riang asal NTB yang teramat sayang dengan Yogyakarta. Seorang penjalan kaki, penikmat kopi dan pemeras isi buku duadimensi. Sedang suntuk mengurus semua hal tentang kuliah di Faklutas Bahasa dan Seni, UNY.