in ,

Menziarahi Diri Lewat Antologi Puisi Ziarah Tanah Jawa

Ngadem.com – Antologi puisi Iman Budi santosa Ziarah Tanah Jawa ini diterbitkan pertama kali oleh Intan Cendekia pada tahun 2013, kemudian dicetak kembali oleh penerbit Interlude tahun 2015. Di dalamnya memuat 82 puisi dengan rentan kepenulisan dari tahun 2006-2012. Iman Budi Santosa sendiri lahir di magetan, 28 maret 1948. Salah satu pendiri Persada Studi Klub (PSK) komunitas penyair muda di malioboro Yogyakarta. Menulis sastra dan kebudayaan dalam dwi bahasa, Indonesia dan Jawa. Dalam perjalan waktu, Iman Budi Santosa Banyak menulis puisi sarat tingkah laku Jawa. Proses kreatifnya sudah sampai pada titik kematangan, bahkan mungkin telah melampaui titik kematangan seorang penyair. Anggapan ini dimunculkan sebagaimana puisi-puisi Iman Budi Santosa mengandung filsafat-filsafat yang penuh dengan makna.

Iman Budi Santosa menulis dalam pengantar pada antologi Ziarah Tanah Jawa: Contohnya, salah satu matra ajaran R.M. Kartono (almarhum) ada yang berbunyi: sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurung tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Ajaran ini memilki maksud utama bagi manusia agar lebih merendah diri dan memahami diri sendiri lewat renungan-renungan. Perjalanan hidup akan menjadi jejak-jejak yang kita telusuri sebagai sejarah lewat puisi-puisinya.

 Setelah waktunya sampai, engkaulah akan dilepaskan

Dari pelukan, diturunkan dari pangkuan

Serupa benih yang ditabur di persemaian

Sebelum tumbuh sendiri pada sebuah pilihan

Hari ini engkau belajar duduk dan berdiri

Menapakkan kaki, meraih mainan

Dengan tangan kanan, untuk dimiliki

Dirusak dan dimengerti

Maka mereka pun bersorak ketika pensil buku

Menggantikan air susu ibu, tak ada tangis

Ketika jatuyh menerobos kurungan ayam

Seperti paham langkahmu bakal menuju depan

Keluarlah anakku, dari kurungan demi kurungan itu

Berbekal azimat di tanganmu, ada kiblat

Bakal menunjukkan tempat

Di mana seharusnya engkau berguru

(Iman Budi Santosa, Pada Sebuah Upacara Turun Tanah dalam antologi puisi Ziarah Tanah Jawa hlm 70)

Jika dicermati dan duduk memahami, puisi ini mengisahkan tentang anak yang akan memilih masa depan. Dan sebagian orang Jawa memiliki tradisi memasukan anak dalam sangkar―sejenih bambo yang dianyam sebagai tempat ayam―sang anak di dalam sangkar akan memilih suatu atau mainan yang tersediakan. Sesuatu atau mainan yang terpilih mungkin akan menjadi jalan masa depan sang anak.

Sebagai pembaca, menyadari akan adanya nilai falsafah hidup memberi daya tarik tersendiri bagi pribadi penulis. Dalam antologi puisi ini, nilai falsafah yang hadir adalah dari pemikiran orang-orang jawa. Dan ada beberapa pemikiran-pemikiran tersebut lahir dari kisah wayang, yang mungkin menginspirasi Iman Budi Santosa untuk menyalurkan lewat puisi-puisi bertema wayang. Seperti puisi di bawah ini:

Hari kesembilan belas

Selesai bumi langit merah berbencah darah

Matahari pagi ganti menetapkan arah

Mungkin, Baratayudha berakhir sudah

Tetapi, pedang selamanya akan terus diasah

(Iman Budi Santosa, Padang Kurusetra dalam antologi puisi Ziarah Tanah Jawa hlm 109)

Perang telah usai tapi dendam akan terus tertanam

Pada puisi Padang Kurusetra, tak lain bercerita tentang peperangan yang terjadi dalam kisah Mahabarata. Kisah peperangan Mahabarat mungkin lebih dikenal lewat televisi bagi masyarakat umum, dan berversi India, tetapi dalam  Ziarah Tanah Jawa muncul dengan versi kisah ke-Jawa-an.

Semoga, melalui potret-potret kecil dalam puisi-puisi ini (antologi puisi Ziarah Tanah Jawa) para pembaca menemukan keindahan, makna-makna kehidupan maupun kemanusiaan yang tumbuh berkembang di tanah jawa serta memperoleh manfaat ke depannya.

Kembali lagi sebagai seorang pembaca, berpikir bahwasanya semua yang muncul menjadi karya sastra tidak lain untuk mencapai keindahan. Dalam keindahan ada hal yang lebih menakjubkan. Mungkin makna. dan mungkin lewat Ziarah Tanah Jawa, sebagai pembaca lain menemukan keindahan dan maknanya sendiri-sendiri.

Identitas Buku Ziarah Tanah Jawa

  • Judul: Ziarah Tanah Jawa
  • Penulis: Iman Budi Santosa
  • Penerbit: Interlude
  • ISBN: 978-602-71899-1-1
  • Tebal: 116 hlm
  • Tahun Terbit: 2015
  • Cetakan: Pertama
  • Genre: Sastra/puisi

Written by Bagus Fadli

Kontributor Ngadem.com - Pemuda riang asal NTB yang teramat sayang dengan Yogyakarta. Seorang penjalan kaki, penikmat kopi dan pemeras isi buku duadimensi. Sedang suntuk mengurus semua hal tentang kuliah di Faklutas Bahasa dan Seni, UNY.