in

Mendengarkan NDX AKA Seperti Menaiki Mesin Waktu Paling Canggih yang Paling Rasional

Ngadem.com – Beberapa bulan yang lalu, teman saya Fuad selalu bilang NDX AKA saat ada teman bermain gitar. Disusul teman saya lagi Miko yang mendukung lagu milik NDX AKA dimainkan. Saya yang mendengarnya merasa gemes, karena saya pikir mereka hanya bercanda, dan nama NDX AKA itu hanya satu dari banyaknya band koplo yang suka main di hajatan pernikahan atau pesta rakyat berbau politik. Maka, saya mengabaikannya.

Semalam, 2 Januari 2016, selepas dinner bersama si pacar, saat membeli rokok di Kopma UNY, terdengar lirik seperti ini:

“Jangankan mengirim surat, menitip salam pun sudah tak boleh. Ternyata memang, kau tercipta bukan untukku…”

Lirik lagu milik Ratih Purwasih itu terasa berbeda. Terasa lebih jleb dan banyak menyelipkan unsur lokalitas. Warna musiknya sendiri kental akan dangdut-hip-hop. Kemudian, rasa penasaran saya pun muncul. Saya bertanya pada si pacar yang saat itu wajahnya seperti bangun tidur. Ia tak tahu. Tapi saya yakin, Google pasti tahu. Saat sampai kos saya mencari dengan kata kunci: “Kau tercipta bukan untukku rap”

Yang muncul adalah nama NDX AKA.

“Ohhhh ini…”

Saya beralih ke Soundcloud, dan banyak menemukan lagu mereka. Saya download semua, dan semalaman saya dengar memakai headset. Merasa tergelitik dengan tiap ucapan dan nada yang dipakai NDX AKA, saya pun memutuskan untuk sedikit ‘menggunjingkannya’.

Baiklah, sebelumnya saya akan mengungkap identitas NDX AKA dengan sangat terbatas, karena memang sumber yang saya dapat sangat terbatas.

NDX AKA ini adalah sekelompok pemuda asal Jmogiri, Bantul yang banyak menyelipkan nuansa-nuansa dangdut-jawa-hiphop dalam tiap lagunya. Memang, lagu-lagu yang mereka sajikan banyak yang hanya cover-an, tapi saya pikir ini strategi NDX AKA untuk menyasar pecinta musik lokal. Nama NDX AKA sendiri sudah lumayan santer di Jogja. Jadi, saya pikir band hip-hop asal Jogja bukan hanya Jahanam, Vertical, SHAXIED, D.P.M.B atau Jogja Hip-Hop Foundation, yang lagu-lagunya sering jadi soundtrack acara apapun berbau ‘Jogja’ atau ‘Jawa’.

Mulai populer di awal 2015, NDX AKA kian gencar membagikan lagu-lagu mereka secara gratis di internet hingga di penghujung tahun. Dengan memakai strategi; menyebar lagu secara cuma-cuma, ditambah pasar musik yang mereka tuju memang jelas (lokal), NDX AKA kian mendapat banyak fans. Terbukti dengan adanya beberapa group di Medsos yang mengatasnamakan; “NDX AKA FAMILIA” dan sejak semalam, saya pikir saya adalah salah satu diantaranya.

Jadi mengapa saya suka NDX AKA?

Profile NDX AKA Hiphop jawa

Sebelumnya, saya memang suka dengan jenis musik bernuansa lokal. Awal mengenal lagu-lagu jenis ini saat saya masih berstatus siswa SMK imut di Nganjuk, Jawa Timur (2005-2008). Tapi sayangnya, di tahun itu group musik hiphop-jawa masih berpusat di Jogja dan lagu-lagunya hanya menyebar di Jawa Tengah sampai perbatasan Jawa Barat. Jadi, pengalaman saya dalam menikmati lagu-lagu hiphop-jawa sangat minim. Mungkin, sekali lagi mungkin, di Surabaya ada, hanya saya saja yang kurang piknik.

Nah, resminya saya menjadi NDX AKA FAMILIA didasari rasa suka saya itu. Meski memang, saya sadari unsur cinta dalam tiap lagu NDX AKA juga berperan penting menggaet hati saya.

Dari 24 lagu NDX AKA yang saya dengar, hampir 80% berbicara tentang masalah percintaan khas anak muda jaman sekarang. Mulai dari ditikung teman, diselingkuhi pacar, mencintai tapi tak dicintai, rasa pengkhianatan yang begitu menusuk, sampai pengorbanan yang malah dibalas dusta. Sisanya, berbicara tentang masalah-masalah sosial dari sudut pandang mereka. Inilah yang membuat saya seperti terlempar ke masa emas (jaman SMK) dulu. Rasanya, kaya ada manis-manisnya gitu…  hei, setiap orang punya masa emasnya sendiri, toh?

Mendengarkan NDX AKA seperti menaiki mesin waktu paling canggih yang paling rasional.

Dari semua lagu yang diusung NDX AKA, mata saya sempat berkaca-kaca ketika mendengar lagu berjudul: Dear My Ortu, Sayang, Wahai Sahabat, Menunggu Berakhir Luka dan lagu remake Ratih Purwasih Kau Tercipta Bukan Untukku.

Nilai plus bagi lagu-lagu NDX AKA adalah diselipkannya narasi singkat memakai bahasa Jawa di awal lagu. Narasi ini menjadi semacam ciri khas tersendiri, dibacakan dengan lelaki yang saya pikir sedang tak sadarkan diri (baca: kobam). Ditambah, ketukan gendang dari keyboard membuat lagu-lagu NDX AKA terasa Nusantara sekali.

Sayangnya, ada satu lagu berjudul Whatsup Hiphop yang saya rasa kurang asik. Di dalamnya nuansa british disajikan dengan cara yang mekso-bingit. Memang, bagi banyak pemusik menyelipkan kata-kata bule adalah cara terbaik untuk go international, tapi tentu saja teknik pengucapan atau pronunciation haruslah baik mengingat jenis musik mereka adalah hiphop.

Terlepas dari itu, saya tetap menobatkan diri sebagai NDX AKA FAMILIA, karena NDX AKA berhasil membuat saya terbang ke masa-masa dimana cinta terasa begitu pedih, dimana cinta pertama adalah hoax, dimana tangisan panjang di awal musim adalah hal alay yang pernah saya lakukan, dan dimana rasa penyesalan adalah hal yang hanya dengan bersyukurlah obatnya.

Jadi, terima kasih NDX AKA sudah membawa saya terbang tak tentu arah :)

Nah, bagi kamu yang ingin ngepoin lagu-lagu NDX AKA, bisa langsung ke akun Reverbnation mereka di; NDX AKA FAMILIA

Written by Reshie Fastriadi

Kontributor Ngadem.com - Pemuda beruntung yang lahir dan besar di lingkungan berbeda. Telanjur jatuh cinta pada dunia otak kanan dan Nasi Pecel khas Nganjuk. Sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah dan menata hati dari bisikan setan yang terkutuk.