in ,

Review Buku Adam Ma’rifat: Mesranya Dunia Sufi Danarto

Ngadam.com – Antologi cerpen Adam Ma’rifat mengandung alam dunia dan alam akhirat. Pertama alam dunia, adalah hal yang pertama ditunjukan kepada pembaca. Yang kedua adalah alam akhirat, akhir dari pertunjukan alam dunia.

Karena pola kerja Tuhan tidak berpola, maka kita sebagai barng ciptaan-Nya mencoba membikin pola-Nya. Hasilnya adalah manusia dikasih tuhan kado istimewa: kematian ―Penerbit.

Duduk dengan cermat dan pahamilah betapa megahnya dunia tulis yang dibangun  Danarto dalam ­Adam Ma’rifat-nya­, seorang yang di kenal sebagai art-director juga sebagai sastrawan dan pelukis pembaru. Lahir di sragen (jawa Tengah), tetanggal 27 juni 1940. Mungkin kalian akan menemukan kado lain.

Akulah Jibril, malaikat yang telah membagi-bagikan wahyu kepada Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Muhammad, Nabi Isa, dan Nabi-nabi yang lainnya, yang kedatanganku senantiasa ditandai dengan gemerisiknya angin di antara pepohonan atau padang pasir.

_Mereka Toh tidak Mungkin Menjaring Malaikat, hal 1.

Dalam cerpen Mereka Toh tidak Mungkin Menjaring Malaikat, bercerita tentang angkuhnya mahkluk fana. Mereka berpikir dengan menangkap ―tokoh utama dalam cerpen tersebut―Malaikat Jibril, ada wahyu yang bisa dikendalikan semau-mau mereka. Hal ini tak jauh –lah (mungkin) dari hasrat manusia-manusia dalam sistem sosial masyarakat. Yang ingin menguasai dunia.

Pada cerpen Adam Ma’rifat, disuguhkan ‘kegilaan’. Adalah aliran sufi yang kental di dalam cerpen ini. Saat membaca Adam Ma’rifat, saat itulah seperti diri sedang dibaca oleh alam ―pepohonan yang terlihat dari jendela kamar, pun kamar itu sendiri― yang dibuat hidup dan memiliki kemampuan berpikir. Layak orang-orang.

Kau pernah memandang hujan gerimis lewat jendela rumahmu kan? Nah, suasananya seperti itu, ada campuran antara kehangatan kamar dengan udara yang dingin di bibir jendela, antara keinginan berlari ke luar mengenang masa kanak-kanamu dan keinginan untuk tetap tinggal di kamar tuamu, itu semua aduklah menjadi satu, pekat benar, begitu sesungguhnya kiasanku setulus-tulusnya…

_Adam Ma’rifat, hal. 9.

Cukup mengesankan pola pikir Danarto dalam salah-satu cerpen dengan judul Lahirnya Sebuah Kota Suci. Seperti ingin menunjukan di suatu tempat, bahwa ada kota suci yang pernah disinggahinya, atau seperti ia membangun kota yang disinggahinya sebagai tempat suci. Dan lagi seperti membuat pengaruh kepada pembaca.

Lalu mereka memasuki suatu tanah lapang yang datar … jauh di sana, sangat jauh di sana … lonceng yang masyhur itu menunggu dengan segala kesabaran dan memancarkan kasih saying, yang tak tersamai oleh benda-benda, tumbuhan, binatang ataupun manusia.

_Lahirnya Sebuah Kota Suci, hal. 71.

Sebagai akhir, saya meminjam tulisan penerbit; “Mungkin sastra kontemporer mampu memberi pencerahan kepada pembacanya? Atau masih relevankah suatu pencerahan di zaman ketika semua orang sudah menjadi cerdik pandai itu?”.

Identitas Buku

  • Judul: Adam Ma’rifat
  • Penulis: Danarto
  • Penerbit: Matahari
  • ISBN: 979-3618-04-07
  • Tebal: 92 hlm
  • Tahun Terbit: 2004
  • Cetakan: Pertama
  • Genre: Sastra/Cerita Pendek/Fiksi

Written by Bagus Fadli

Kontributor Ngadem.com - Pemuda riang asal NTB yang teramat sayang dengan Yogyakarta. Seorang penjalan kaki, penikmat kopi dan pemeras isi buku duadimensi. Sedang suntuk mengurus semua hal tentang kuliah di Faklutas Bahasa dan Seni, UNY.