in

Review Film The Devil’s Violinist: Konspirasi Terselubung Antara Paganini dan Iblis

Ngadem.com – Meski mungkin masih samar-samar, tentu kita pernah mendengar nama Mozart atau pun Beethoven. Mereka adalah tokoh besar dalam belantara musik klasik di abad 19. Yang saya sangsikan, jangan-jangan hanya mereka berdua yang kita kenal sebagai pelopor musik klasik?  Tentu bagi beberapa orang yang mendalami dunia musik –khusunya klasik, bukan hanya mereka berdua tokoh besar dari genre ini. Salah satu di antara banyaknya seniman besar dunia, pernahkah kalian mendengar nama Niccolò Paganini? Jika tidak, sepertinya kamu harus menonton The Devil’s Violinist (2013).

Konser Paganini

The Devil’s Violinist merupakan film yang bercerita tentang violinist besar asal Italia, Niccolò Paganini. Cerita di dalamnya dibalut dengan nuansa yang klasik dan terbilang glamor. Meski pun judulnya bernuansa “setan”, percayalah, tak ada satu scene pun yang mengerikan dalam film ini.

Paganini sendiri lahir pada tahun 1782. Ia juga salah satu inovator musik klasik yang cukup berpengaruh di abad 19. Sosoknya yang terlanjur memiliki label “virtuoso biola”, membuat berbagai media masa menyebutnya sebagai salah satu pemain biola paling hebat yang pernah hidup di Eropa –bahkan dunia.

Tentu saja, di setiap film ber-genre biografi, tokoh yang dipilih tidaklah sembarangan. Artinya, produser akan memilih pemeran yang wajahnya paling mirip dengan tokoh utama. Sang produser –Christian Angermayer pun secara cerdas memilih David Gareth untuk berperan sebagai Niccolò Paganini.

Sekuel pertama dalam film ini menceritakan bagaimana ayah Paganini mendidiknya: begitu keras dan penuh dengan ambisi. Meski hanya ditayangkan dalam satu scene (itu pun tak lebih dari 3 menit), kita sudah bisa memahaminya. Beranjak dewasa, Paganini tumbuh menjadi seorang pemain violin yang hanya dengan satu senar G saja, mampu memainkan Concerto. Permainannya sangat cepat dan mengesankan. Namun, kejeniusannya tidak terapresiasi dengan baik oleh para penikmat musik saat itu. Ia tampil layaknya ‘artis selingan’.

Suatu ketika Paganini tampil di sebuah acara Opera, namun ia di tertawakan karena memaikan instrumen yang mirip dengan suara kambing dan keledai. Di sinilah kemudian sang iblis melihat bakatnya yang masih tersembunyi itu. Iblis dalam film ini sendiri ditampilkan dalam wujud orang tua bernama Urbani.

The Devil’s Violinist Urbani
Urbani si Iblis

Urbani (si iblis) pun melancarkan siasatnya dengan mengajukan penawaran yang tidak dapat ditolak oleh Paganini –mungkin terkesan seperti surat pernyataannya para genk di film The God Father. Setelah mereka sepakat, Urbani mengeluarkan semacam surat perjanjian yang harus ditanda-tangani oleh Paganini. Di sini, tanda tangan yang dibubuhkan tak berwujud darah atau tinta yang diambil dari dasar neraka, hanya tinta biasa dan selembar kertas yang juga biasa. Jadi ya, tidak semengerikan seperti kedengarannya.

Setelah sepakat melakukan perjanjian dengan Urbani, Paganini memang jauh lebih terkenal, sampai kesuksesannya itu terendus oleh salah satu promotor dari ranah Inggris, John Watson. Paganini pun diundang untuk bermain di London, Inggris. Namun Paganini menolak karena merasa hidupnya mulai dijajah dan dieksploitasi oleh Urbani.

Lambat laun Paganini menjadi seorang penjudi yang hilang akal, sampai pada satu scene ia mempertaruhkan biola kesayangannya di meja judi. Tidak cukup sampai di situ, Paganini juga mengalami kecenderungan mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Sampai semua harta yang ia miliki ludes dan hidupnya jadi tak jelas. Inilah yang kemudian membuat Paganini menerima tawaran untuk bermain di Inggris dengan bayaran yang menggiurkan.

Sesampainya Paganini di London, terjadi hal yang membuatnya sedikit was-was, di mana isu tentang ketenaran seorang Paganini (yang menyembah iblis) telah menyeruak ke permukaan. Maka, ia disambut dengan demo berupa protes keras oleh masyarakat Inggris –khususnya kaum perempuan, yang pada akhirnya membuat Paganini harus menginap di kediaman John Watson. Di sinilah kemudian Paganini bertemu dengan Charlotte Watson –anak dari John Watson yang menyamar sebagai pembantu. Melodrama pun muncul… Paganini jatuh cinta.

Charlotte Watson
Charlotte Watson

Secara singkat, film ini mencoba menyampaikan biografi seorang Paganini dari sudut pandang yang lain, jadi jika kalian ingin mengetahui kisah kehidupan real dari Paganini, saya sarankan untuk membaca buku atau situs-situs resmi yang membahas tentang Paganini. Sebab, seperti puisi, di dalam sebuah film pasti mengandung beberapa cerita yang bersifat fiktif,

Terlepas dari film The Devil’s Violinist, di luar sana juga banyak beredar film yang diangkat dengan memberikan embel-embel setan, iblis, neraka dan lain sebagainya itu di dalam judul film. Masih ingat film Ghost Rider? Film ini serupa dengan film The Devil’s Violinist, di mana Iblis berperan sebagai pencari bakat, kemudian merekrutnya untuk meraih kesuksesan, lalu masuk ke tempat di mana orang-orang sering menyebutnya sebagai neraka. Cek juga film Tenacious D in The Pick of Destiny. Rupanya film-film semacam ini sudah banyak diproduksi, jadi tak heran bila imdb.com hanya memberikan nilai 6.1 pada film The Devil’s Violinist.

Di setiap film tentu ada –paling tidak satu kalimat atau satu scene yang mungkin mampu mengguncang psikologis penonton. Dari prespektif saya, sebuah kalimat atau secene itulah yang kemudian membekas di pikiran bahkan hati penonton untuk tak melupakan suatu film dengan segera.

Di film The Devil’s Violinist ini saya akan memberikan kalimat dalam sebuah scene di mana saya merasakan guncangan itu. Diungkapkan sendiri oleh Paganini dalam kondisi kritis di akhir film, ketika seorang pendeta meyakinkannya tentang kasih Tuhan, dan menyarankannya untuk membuat testimonial confessions;

“Biar kuberi tahu tentang kasih Tuhan: Ia memberikanku karunia, dan kemudian meninggalkanku sendirian di dunia. Aku hanya tidak mengerti. Tapi aku akan mengalahkannya. Aku akan hidup selamanya.”

Tentu saja, tak ada yang bisa mengalahkan kuasa Tuhan, toh?

paganini sakit

Written by Muhammad Hanif

Kontributor Ngadem.com - Pemuda kekinian asal Bantul yang menggandrungi dunia film dan sinematografi, Sedang sibuk menyususn skripsi berasaskan Kajian Ekranisasi di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.