in ,

Jawaban dan Solusi Untuk “Jangan Di-share, Nanti Dirusak Anak Alay” Dari Ngadem.com

Ngadem.com – Hay guys. Akhir-akhir ini Ngadem.com udah banyak banget merangkum beberapa tempat wisata di Indonesia, baik yang udah ngehits di kalangan para traveller maupun yang masih tersembunyi alias belum terekspos. Menariknya banyak banget komentar yang seliweran menanggapi ulasan tersebut. Ada juga kometar yang bikin galau banget. Doi ngomen kaya gini, “jangan dishare, nanti di rusak anak alay.” Aduuuuh, duh. Anak alay di sini maksudnya gimana sih? Bikin kami gagal paham banget.

Naaah setelah ditelusuri, julukan “anak alay” itu digunakan untuk melabeli para traveller alias wisatawan gitu deh. Apa sih salah orang yang berusaha menghibur diri dengan mengunjugi tempat wisata tertentu? Please deh, mereka gak salah loh karena pada dasarnya semua orang butuh cinta, eh maksudnya butuh liburan. Liburan mujarab banget mengembalikan semangat setelah seminggu bekerja. Terus gimana dong?

“Jangan Di-share, Nanti Di rusak Anak Alay” Apakah Solusi?

Terus di sisi yang lain, masa iya sih potensi wisata yang kita punya gak boleh di-share? Kan wisata ampuh bangat loh untuk meningkatkan pendapatan negara dan secara tidak langsung berdampak sangat besar bagi masyarakat sekitar lokasi wisata. Lah, itu loh Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang sebelumnya mungkin gak ada kerjaan, jadi punya kerjaan. Mereka cukup bikin tenda kecil di sekitar lokasi untuk jualan.

Sebenarnya, itukan kaya simbiosis mutualisme gitukan. Seharusnya gak ada yang perlu merasa dirugikan apalagi dirusak.  Bikin galau bangetkan. Sebenarnya kondisinya gak segalau yang kita bayangkan kok.

Kerusakan Taman Bunga Amrylis di Patuk Gunung Kidul, Kebun Raya Baturaden, Taman Festival Lampion Kaliurang, jembatan Kota Langsa di Gampong Aceh sebenarnya kejadian yang gak perlu terjadi. Dan kejadian itu tidak lantas membuat kita galau terus jadi menyembunyikan potensi wisata yang kita miliki, kan?

Benarkah Tujuan Jalan-Jalanmu Itu untuk Melepas Penat? Yakin?

Buat kamu yang suka-suka eksplore atau wisata cantik di saat liburan, coba kamu pikirkan lagi deh. Apa sih tujuan kamu datang ke tempat wisata, selain selfie tentunya? Coba deh dimaknai lagi seberapa perlu sih kamu mengunjungi tempat wisata? Semoga, ini keliru ya. Tapi setelah di rasa-rasa pada masa eksisnya Instagram dan media-media sosial ini, kok orang datang berlibur ke tempat wisata kaya semata-mata untuk dapat foto-foto apik untuk di pajang di Instagram ya. Sorry loh guys, kami minta maaf loh kalau tuduhan ini kalian rasa gak benar. Sorry banget.

Wisata atau liburan adalah momentum yang tepat buat kamu untuk beristirahat sejenak dari rutinitas yang menyita perhatianmu nyaris seminggu. Lalu kamu memutuskan berwisata ke alam. Bayangkan alam dengan keikhlasannya menghiburmu, mengusir penatmu tapi kamu malah membalas dengan nyampah sembarangan atau nyorat-nyoret. Bunga yang cantik diinjak-injak bahkan kamu abai terhadap keselamatanmu sendiri. Misalnya, nginjak lampu-lampu yang udah jelas-jelas sangat membahayakan dirimu sendiri. Gak cantik banget, kan?

Wisata ke alam bebas seharusnya menumbuhkan rasa aware-mu terhadap banyak hal termasuk hal-hal yang berkaitan dengan alam. Kami gak perlu dong ngomong kalau tumbuhan itu juga sama halnya dengan kamu-kamu yang cantik-cantik dan tampan-tampan yang juga bisa sakit. Tanaman juga kaya manusia, mereka tumbuh dari benih dan dengan proses yang panjang baru bisa menjadi seindah itu. Rasanya gak adil banget kalau kamu merusak mereka demi sebuah foto yang di pajang di instagram dan cuma di like 5 orang. Pelis deeeh. Gak adil banget.

Potensi wisata di Indonesia emang gak terhitung banyaknya. Bermunculan di mana-mana tanpa kita minta dan itu adalah anugerah banget. Kamu coba deh mikir kalau kamu ke Arab (bukan maksud menghina seh) tapi kami jamin, bakal susah bangat nyari curug buat ngadem di sana. Apalagi taman bunga Amaryllis. Jadi, mungkin kamu ngerasa gampang banget buat ngerusak sesuatu karena kamu mikir ”ah bunga Amaryllis ini, musim hujan taon depan juga bakal tumbuh lagi” tapi coba kalau kamu di Arab, kamu nyari ampe botak juga kamu gak akan nemuin taman bunga Amaryllis yang secantik itu.

Solusi dan Tawaran dari Ngadem.com yang Mungkin Bisa Dipertimbangkan.

Ok, masih gak menemukan ujung yang jelas juga. Terus kira-kira gimana ya. Hal yang sama-sama kita sadari adalah Indonesia punya potensi wisata yang banyak banget dan hampir semuanya belum dikelola dengan baik. Masih amburadul gak jelas, siapa sih yang harus bertanggung jawab untuk mengelola semua itu? Bagaimana sih cara untuk menjaga agar wisata alam itu tetap asri? Siapa yang harus membuat kebijakan-kebijakan untuk mengatur semuanya? Yang jelas kita gak perlu lah sampai demo ke pak Jokowi untuk menanyakan hal tersebut.

Gak boleh kita pungkiri. Aturan-aturan di sekitar kawasan wisata tuh sebenarnya udah ada. Tapi sayangnya aturan-aturan tersebut cuma berhenti di atas kertas-kertas putih atau terpaku di dinginnya papan-papan pengumuman yang dipajang di sekitar kawasan wisata. Jadi, Ngadem.com merasa perlu untuk menawarkan cara-cara untuk menjaga keasrian wisata-wisata alam berikut ini.

1. Biar Puncak Gunung Gak Jadi Tempat Sampah.

Gunung bukan tempat sampah! via www.coklatkita.com

Ini bukan drama loh guys tapi emang gitu keadaannya. Iya seh, mungkin agak susah bilang ke kamu semua kalau di gunung sekarang gak kalah kotornya kaya di pasar. Habisnya, foto gunung yang kalian lihat di Instagram-kan juga gak mungkin motoin sampah yang berserakan di sekitar kawasan Ranukumbolo, kan? Di balik foto kece mbak dan mas itu sesungguhnya bersembunyilah bukit sampat yang ENGGAK banget.

Gunung yang kotor memang gak sepenuhnya salah pendakinya sih. Udah kita ketahui bersama, hampir semua gunung-gunung kece yang foto puncaknya seliweran di Instagram tuh di kelola oleh pemerintah. Kayanya pemerintah gak cuma nyetak karcis masuk deh. Ini hal-hal yang bisa dilakukan oleh pengelola gunung-gunung kece di Indonesia dan para pendaki yang terhormat.

Untuk Pemerintah Setempat atau Pengelola:

– Mungkin ini akan terdengar konyol tapi kami pikir di beberapa titik tertentu di sepanjang jalur pendakian gunung perlu di jaga oleh beberapa penjaga deh. Khususnya di kawasan yang sering dipakai buat camping cantik. Kalau di Semeru, misalnya di kawasan Ranukumbolo. Gak kuat gajiin personel tambahan? Naikin aja harga tiket masuknya, biar semuanya sadar kalau naik gunung gak gampang sehingga mereka gak akan dengan mudah nyampah sana-sini.

Sesekali pengelola ngadain deh acara yang agak asyik gitu. Misalnya pas momen Valentine pendaki yang muncak dengan kekasihnya di kasih bibit pohon untuk ditanam di atas gunung atau di sepanjang jalur pendakian dan mereka boleh menamai pohon itu dengan panggilan sayang mereka, dijamin mereka pasti balik kegunung untuk melihat tumbuh kembang pohon cinta mereka seperti mereka sekuat tenaga menjaga hubungan mereka. Yang jomblo juga boleh ikutan nanam, anggap aja untuk pohon harapan agar besok bisa mamerin ke pacar kalau dia udah nanam pohon di puncak gunung. Kalau bisa sih acara semacam ini digratisin dong. Kan keren. Masa kaya gitu harus diajarin sih?

– Saatnya pengelola menyiapkan tim khusus untuk muncak minimal sebulan sekali dan mengajak semua pendaki untuk membersihkan gunung ramai-ramai. Jadi gak cuma nyampah di puncak gunung ramai-ramai doang.

– Di beberapa gunung sudah ada yang melakukan pemeriksaan barang bawaan, tapi gak jelas juga buat apa. Kenapa sih pemeriksaan barang ini gak diseriusin untuk mengantisipasi numpuknya sampah di puncak gunung. Gini ya, kami kasih tahu. Oot diperiksa barang bawaannya di pos pemeriksaan. Oot ternyata bawa 5 bungkus mie, 2 bungkus kopi susu, dan 3 botol aqua. Udah deh dicatat tuh, setelah Oot turun gunung di cek lagi, mana 5 bungkus mienya, 2 bungkus kopi susu, dan 3 botol aquanya. Kalau ada berarti Oot pendaki sejati nih, tapi kalau gak ada, Oot harus menerima sanksi. Gak cuma disuruh push up loh. Jika pemeriksaan macam ini ingin diberlakukan, personil penjaga di pintu pemeriksaan harus ditambahin, biar gak pening.

Untuk Para Pendaki:

– Kenapa sih susah-susah datang ke gunung kalau cuma buat nyampah doang atau buat foto-foto selfie doang mending ke studio foto aja deh. Coba kamu maknai lagi tujuanmu mendaki gunung. Coba dipikirin lagi deh.

– Jalur pendakian ke gunung kadang-kadang ditutup pada saat-saat tertentu. Nah buat kamu yang ngaku pendaki sejati mbok jangan ngeyel. Kamu pikir para pengelola nutupin jalur pendakian itu untuk iseng-iseng ya? Gak itu ada tujuannya loh. Penutupan jalur pendakian dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi vegetasi di gunung yang kemarin mungkin rusak, untuk memperbaiki diri mereka, biarin gunung sejenak untuk sepi sendiri juga gak ada salahnyakan. Jadi gak usah deh sok heroik ndaki lewat jalur tikus atau apalah itu. Sumpah, gak keren banget.

– Saat musim kemarau tiba, gunung-gunung di Indonesia mesti ramai-ramai pada kebakaran. Kami gak nuduh salah satu dari pendaki sebagai penyebabnya tapi gak ada salahnyakan untuk tidak membuat api unggun. Bahaya loh.

– Stop nulis-nulis namamu, nama kekasihmu, atau nama siapa pun di papan atau di tebing-tebing batu sekitar gunung. Stop vandalisme.

2. Biar Curug dan Air Terjun Tetap Enak Dilihat.

Curug tetap enak diliat via travel.detik.com

Pesona curug yang tersembunyi di dalam hutan menawarkan kesejukan dan pemandangan yang menyejukan tapi kadang sebel aja pas lihat sampah berserakan di mana-mana. Ditambah tulisan-tulisan gak jelas yang nempel di batu-batu atau tebing-tebing sekitar curug. Gak banget deh.

Untuk Pemerintah Setempat atau Pengelola:

– Lengkapi kawasan curug dengan tempat sampah biar gak pada nyampah sembarangan.

– Kalau masih gak mempan, tempatkan penjaga di spot sekitar curug jadi kalau ada yang nyampah bisa langsung di tegur.

– Lengkapi fasilitas yang dibutuhkan oleh pengunjung. Kalian harus paham konsekensi dari membuka sebuah tempat wisata. Gak cuma narik duitnya aja.

– Lengkapi papan-papan pengumuman yang berisi aturan-aturan dan larangan. Pasang di spot-spot yang dilewati oleh pengunjung.

Untuk Pengunjung Curug:

– Udah gak jaman nulis-nulis nama pacarmu atau nama kamu di tebing-tebing sekitar curug atau di bebatuan di sekitarnya.

– Buang sampah pada tempatnya karena curug bukan tempat sampah dan sama sekali gak mirip tempat sampah.

– Patuhi peraturan atau larangan yang berada di sekitar lokasi curug

– Jangan memanjat tebing batu disekitar curug tanpa pengaman. Bahaya  loh!

3. Taman Bunga yang Serapuh Itu Gak Boleh Kamu Sakiti!

Kasian kan bunga yang rapuh itu via www.brilio.net

Peristiwa rusaknya taman bunga Amrylis di Patuk Gunung Kidul jangan sampai diulangi lagi loh. Sungguh memalukan. Ini hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah setempat atau pengelola maupun pengunjung untuk menjaga keasrian taman.

Untuk Pemerintah atau Pengelola:

– Kondisikan taman anda dengan baik sebelum memutuskan untuk membukanya menjadi tempat wisata.

– Siapkan spot khusus untuk berfoto agar tidak ada bunga atau tanaman yang diinjak.

– Siapkan penjaga untuk memantau sekitar lokasi taman.

– Siapkan tempat sampah di sekitar kawasan taman.

– Siapkan fasilitas seperti lahan parkir, toilet, dan musholla biar semuanya tertib

Untuk Pengunjung:

-Buang sampah pada tempatnya.

– Berfotolah pada spot yang sudah disiapkan. Gak usah memakskan diri berfoto hingga ke tengah taman. Iya, kamunya gak papa tapi bunganya hancur semua!

– Terakhir, penting banget untuk sadar bahwa selfie dan foto di Instagram bukan segalanya, so cobalah untuk lebih care terhadap tanaman dan berusahalah untuk tidak merusak keindahan bunga-bunga.

– Jangan memetik bunga-bunga. Kalau kamu pengen bunga, mintalah pada kekasihmu untuk membelikannya atau beli sendiri di toko-toko bunga terdekat.

4. Biar Pantai Selalu Menjadi Wisata Andalan.

Pantai sebagai destinasi andalan via wikiwisata.com

Pantai adalah wisata andalan kita semua. Keindahan pantai bisa menikmati oleh berbagai kalangan. Nah, sebaiknya kamu-kamu harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini deh biar pantai selalu bisa diandalkan.

Untuk Pemerintah:

– Siapkan tempat sampah di kawasan sekitar pantai. Biar pantai gak dipenuhi sampah-sampah yang bertebaran.

– Siapkan penjaga untuk memantau aktifitas pengunjung selama berada di pantai. Nah, ini ampuh banget biar ketahuan siapa yang suka buang sampah semabarangan.

– Mengajak pengunjung pada hari tertentu untuk sama-sama membersihkan pantai.

– Tutuplah akses menuju pantai pada waktu-waktu tertentu untuk memulihkan eksosistem terumbu karang dll.

Untuk Pengunjung:

– Buang sampah pada tempatnya. Please banget.

– Jangan sok heroik dan memaksakan diri untuk berenang kalau kondisi pantai tidak memungkinkan untuk dipake berenang.

5. Hargai Situs Bersejarah Karena Peristiwa Bersejarah Bisa Jadi Tersimpan di Dalamnya.

Situs bersejarah juga harus dijaga via www.merdeka.com

Situs bersejarah seperti candi gak boleh kamu sepelekan loh. Ingat, banyak hal bersejarah yang tersimpan di dalamnya! Kamu bisa menikmati kemegahan arsitektur candi atau situs bersejarah lainnya dengan cerdas dan bijak ya. Berikut ini hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah atau pengelola dan pengunjung untuk melindungi situs bersejarah.

Untuk Pemerintah:

– Tempatkan tempat sampah di berbagai kawasan wisata.

– Pengelola perlu menempatkan penjaga di spot tertentu. Gak cuma di loket masuk sama parkiran doang. Hal ini untuk mengantisipasi pengunjung yang khilaf sekaligus ngawur membuang sampah.

– Siapkan tour guide secara gratis. Agar pengunjung memahami makna dan sejarah di balik keberadaan situs sejarah.

Untuk Pengunjung:

– Buang sampah pada tempatnya. Gak rugi kok. Kamu cukup berjalan sebentar dan membuangnya di tempat sampah yang sudah disiapkan.

– Hargai situs bersejarah dengan tidak mencoret-coret dinding candi. Jangan pernah nulis nama pacarmu atau namamu di dinding candi. Udah deh batu-batu  itu gak perlu tahu seberapa kamu sayang sama pasanganmu.

Ok guys, jadi sebenarnya kita bisa kok tetap terus meng-explore potensi wisata yang Indonesia miliki tanpa perlu khawatir kalau potensi wisata itu akan rusak. Semuanya kita yang menentukan. Gak cuma pemerintah atau pengelola atau pengunjung saja. Tapi kita semua. Catet!

Written by Dj Wonga

Kontributor Ngadem.com - Bukan siapa-siapa tapi dari keluarga baik-baik.