in

‘Boomerang’ Intertekstualitas Dalam Cerpen Lelaki Sampan Karya Yuditeha

Ngadem.com – Pertama, dalam menganalisis cerpen ini saya akan menyoroti perihal sudut pandang, karena sudut pandang dipergunakan untuk menentukan arah pandang pengarah terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita sehingga menjadi satu cerita yang lengkap. Secara garis besar sudut pandang yang digunakan dalam cerpen ini adalah sudut pandang first person peripheral, yaitu sudut pandang dimana tokoh aku hanya menjadi pembantu atau pengantar tokoh lain yang lebih penting. Sudut pandang itu pula yang mengantarkan pembaca untuk mengetahui penokohan dalam cerpen.

Sebelumnya saya akan membagi cerpen ini menjadi dua bagian utama, tentu saja berdasarkan penokohan yang disampaikan pengarang dalam cerpen, tokoh lelaki dalam cerpen Lelaki Sampan pada bagian pertama digambarkan sebagai lelaki pemarah dan lelaki pendusta. Kemudian tokoh lelaki berubah menjadi lelaki pemurung. Penulis cerpen Lelaki Sampan menggunakan unsur penokohan ini untuk menjadi ekposisi di kedua bagian cerpennya.

Dilihat dari konstruksi plot mulai dari komplikasi, klimaks, dan denoument, dapat dikatakan cerpen Lelaki Sampanini memiliki keterkaitan dan kemiripan dengan Cerita legenda Sangkuriang. Hanya saja pada bagian eksposisi (dengan pengenalan tokoh) sampai dengan bagian awal komplikasi (awal lelaki bertemu perempuan dengan bersahaja), pengarang membuat perbedaan dalam hal sudut pandang cerita.

Dalam kaitannya dengan berhasilnya cerpen ini dimuat dalam koran, saya rasa  cerpen yang mengandung keterkaitan (intertekstual) memiliki kelebihan tersendiri, selain dikarenakan cerita yang disampaikan sudah familiar dan mudah ditangkap pembaca, pembaca juga disajikan dengan sudut pandang baru dan gaya penceritaan baru, tentunya dibandingan dengan cerita sebelumnya.

Meski demikian, pemilihan cerpen yang mengandung intertekstualitas bisa juga bersifat boomerang, hal tersebut terjadi jika pengarang terlalu banyak memasukan unsur-unsur dari cerita sebelumnya, misalnya saja kontruksi cerpen mulai dari eksposisi, komplikasi, dan klimaks dan seterusnya memiliki kemiripan yang dominan dengan cerita sebeumnya. Cerpen ini saya rasa, terlalu “kesangkuriangan”, dan saya rasa juga pengarang kurang begitu memasukan unsur surprise, yang menjadikan cerpen ini terlihat berbeda dengan cerita sebelumnya.

Tetapi tetap saja tema cerpen yang bersifat intertekstual saya rasa sangat menarik perhatian editorial sebuah surat kabar, tinggal bagaimana seorang pengarang cerpen mengolah cerpennya sehingga membuat penyegaran dalam hal gaya bercerita.

Cerpen ini sempat dimuat dalam koran “Suara Merdeka” pada Minggu, 20 September 2015. Bila kamu ingin baca cerpennya bisa ke sini: klipingsastra.com

(Apresiasi ini juga sempat dibacakan pada diskusi kelas Bahasa dan Sastra Indonesia, UNY)

Written by Arga F. Yunansyah

Kontributor Ngadem.com - Pemuda Magelang tulen. Suka menyanyi bukan di kamar mandi. Tengah serius menyelesaikan skirpsi demi terciptanya harmonisasi alam semesta yang ciamik.