in ,

Ektase Bahasa Manuskrip Sepi

Ngadem.com – Inilah salah satu buku peraih Anugerah Harian Indopos tahun 2015; Manuskrip Sepi karya Nissa Rengganis. Ini adalah buku pilihan dari penyair perempuan oleh Sutardji CB, Maman S. Mahayana, dan Abdul Hadi W.M.

Apakah buku ini menjadi pemenang karena berdasarkan selera si tuan juri? Tidak juga. Tapi juga bisa iya. Kita lihat siapa Sutardji CB yang memiliki kehendak untuk melepaskan bahasa dalam puisi dari maknanya. Kita lihat siapa Abdul Hadi W.M yang puisi-puisinya tercipta dari kesungguhan sufisme yang ditekuninya. Apalagi Maman S. Mahayana, tentu semua orang tahu siapa dia. Lelaki yang dikenal sebagai kritikus itu adalah dosen tamu di Universitas Hangkuk. Ia juga bisa sekali waktu jadi penyair, tentu ia lebih menilai sebuah karya sastra dari telaahnya secara objektif.

Kalau kau membaca buku Manuskrip Sepi ini, sangat jauh dari kecenderungan pada karya-karya si tuan juri. Kalau didekatkan dengan puisi sufismenya Abdul Hadi, atau puisi sufismenya Tardji, melalui kajian tasawuf, dengan pendekatan bahwa suara dalam puisi-puisi Nissa Rengganis merupakan seruan seorang perempuan yang hendak melakukan uzlah, rasanya belum sampai buku ini menyentuh wilayah tersebut.

Artinya, bagi saya secara pribadi, sebagai pembaca yang hendak menerka-nerka kenikmatan apa yang ingin diberikan Nissa melalui buku puisinya ini, dapat memberikan rumusan bahwa bahasa dalam puisi adalah medium untuk mengutarakan suatu pikiran penyair. Dari Rivai Apin sampai Saini KM, atau milik Abdul Hadi W.M dan Acep Zamzam Noor, saya mendapat kenikmatan sebuah puisi melalui bahasa mereka yang “sampai” kepada pembaca. Membaca karya puisi Nissa Rengganis mengalami hal yang sama, yaitu sebuah ektase bahasa.

Bila seluruh pikiran Nissa Rengganis dalam Manuskrip Sepi ingin kita tempatkan dalam gelanggang wacana tentang femininitas, yang kini marak dimakalahkan oleh pelbagai kalangan, sah-sah saja kalau puisi berjudul Ketakutan Suatu Malam (hal. 23), Lelaki Hujan (hal. 46), Hikayat Dewi Rengganis (hal. 66) dicari kemurnian gagasannya; akan bersuara apa teks tersebut?

Buku Manuskrip Sepi

Tampaknya, kita harus paham terhadap konteks atas puisi-puisi Nissa Rengganis yang diciptakan. Seorang pembaca yang cerdas, harus mengetahui sikap Nissa sebagai seorang penyair, dan ini juga memiliki kaitan dengan latarbelakang pendidikannya sebagai seorang mahasiswa ilmu politik. Misalnya sangat jelas dalam puisi-puisinya berjudul Perempuan-perempuan Plaza De Mayo (hal. 25), Kematian Demonstran Bima (hal. 39), Mei, Api, Trisakti (hal. 42), dan Sipon (hal. 43). Meskipun dalam kesungguhan Nissa sendiri tidak (akan) pernah menganggap bahwa puisi-puisi lahir sebagai sebuah kritik atau bahkan apologia.

Melalui buku ini, baik diberi penghargaan sebagai pemenang Anugerah Harian Indopos atau tidak, pembaca akan disadarkan bahwa bahasa dalam puisi ini adalah seperangkat alat untuk mengendarai sebuah tujuan si penyair—Nissa Rengganis sendiri. Baik sebagai bagian dari cara Nissa yang hendak membangun politik identitas atau yang lainnya, yang tidak pernah terpikirkan di luar teks puisi ini.

Lalu manakah puisi unggulan Nissa di dalam buku Manuskrip Sepi ini? Tak usah risau, sumbernya ada pada diri Anda sendiri, mau puisi mana yang akan dijadikan puisi unggulan oleh Anda.

Satu hal, jika Anda bertanya siapakah yang memberi epilog dalam buku ini? Saya akan menjawabnya: Rocky Gerung.

Identitas Buku:

Judul                : Manuskrip Sepi

Pengarang       : Nissa Rengganis

Penerbit           : Gambang Buku Budaya

Terbitan           : Juli 2015

ISBN                 : 978-602-72761-3-0

Written by Mawaidi D. Mas

Kontributor Ngadem.com - Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Suka baca, menulis dan jalan-jalan. Menurut zodiak, lebih suka bekerja di dunia penerbitan.