in ,

Mengulik Keunikan Lirik Lagu Kopibasi

Ngadem.com – 14 September 2016 lalu, salah satu grup musik indie di Jogja, Kopibasi meluncurkan lagu terbaru berjudul “Sarana”. Setelah sebelumnya meluncurkan lagu berjudul “Cukuplah Pagi yang Telanjang” dan beberapa musikalisasi puisi, grup yang secara resmi terbentuk pada tahun 2013 ini juga berencana meyebarkan lagu-lagu mereka ke beberapa stasiun radio di sekitaran kota Jogja. Untuk versi online, bisa didengarkan dari aplikasi musik seperti Soundcloud atau Spotify.

Kopibasi sendiri dibentuk oleh enam pemuda yang mengaku sangat mencintai kopi dan sastra; Galih (vocal), Pradesta (gitar), Alfan (gitar), Yudhi (violin), Mathorian (perkusi) dan Huhum (manager). Lagu-lagu yang diciptakan oleh Kopibasi terbilang easy listening. Dengan mengusung aliran musik akustik-folk lagu “Sarana” dan “Cukuplah Pagi yang Telanjang” merupakan lagu yang enak didengar dan bisa diterima oleh semua kalangan.

Selain musik yang gurih dan easy listening, lirik yang diciptakan oleh Kopibasi juga termasuk unik. Mungkin karena grup musik ini terbentuk dari seringnya mereka memusikalisasikan puisi bersama-sama, penciptaan lirik pun terbawa oleh unsur-unsur puitis. Latar belakang pencipta lirik kedua lagu tersebut yang adalah seorang penyair, juga merupakan faktor utama kenapa lirik lagu-lagu mereka cukup unik. Adalah Mathorian Enka yang merupakan pencipta dari kedua lirik lagu Kopibasi.

photoshoot2
Personil Kopibasi

Lirik lagu-lagu Kopibasi bisa dikatakan sangat puitis, tetapi yang membuatnya unik adalah pilihan diksi yang ringan dan menggelitik. Kedalaman makna disalurkan lewat majas-majas dan simbol tanpa harus memilih diksi-diksi berat. Contoh dalam lagu “Sarana”, ada salah satu baris dalam lirik lagu yang berbunyi “Keluarkan isi perut belanga/ biar obrolan dibagi rata/ garpu sendok bertatap muka/ sepiring berdua sepiring duka/”. Diksi seperti perut belanga, garpu sendok, piring, merupakan diksi yang sederhana dan unik jika dilepas dari makna keseluruhan, tetapi Kopibasi memadukan diksi-diksi tersebut dengan majas-majas puitis sehingga mempunyai makna yang dalam.

Ada juga lirik yang berbunyi “kenangan terbuat dari lupa/ tudung saji menutupnya rapat-rapat/ biar lalat hijau tak lekas hinggap/”. Diksi seperti tudung saji dan lalat hijau merupakan diksi yang menggelitik atau “nyleneh”, tetapi mereka merupakan sebuah simbol yang membawa makna dalam lirik lagu “Sarana”. tudung saji merupakan simbol yang membawa makna sesuatu yang melindungi makanan (kenangan), dan lalat hijau merupakan simbol yang membawa makna sesuatu (kenangan) yang busuk akan dikerubungi lalat hijau atau lalat hijau dapat merusak makanan (kenangan) menjadi busuk.

Keseluruhan lirik lagu “Sarana” merupakan interpretasi terhadap hal-hal yang membawa kita kepada sebuah kenangan. Kenangan memiliki sarana dan prasarana, sarana atau prasarana tersebut bisa lewat garpu, sendok, piring, tudung saji, dan lalat. Tentu saja kita bebas memaknai sebuah lagu, setiap orang memiliki perspektif mereka sendiri. Salah satu kalimat dalam lirik lagu “Sarana” yang sangat puitis dan memiliki makna dalam adalah “monolog mengenang masa lalu/ monolog mengenang masa usai, akankah menjadi dialog?/ maukah menjadi dialog?/ aku butuh dirimu.”

Kopibasi Perform

Lirik yang puitis tetapi unik dan menggelitik juga hadir dalam lagu pertama mereka, yaitu “Cukuplah Pagi yang Telanjang”. Dalam lagu yang mengisahkan tentang sepasang kekasih yang menikmati malam lewat secangkir kopi mempunyai diksi-diksi yang menggelitik tetapi terbalut dalam makna yang dalam dan intens. Dari judul lagu tersebut saja sudah membuat sebagian pendengar akan mempunyai pikiran sesuatu yang “saru”. Padahal “pagi yang telanjang” dalam lagu tersebut memiliki makna pagi yang tidak memiliki arti apa-apa, semalaman hingga pagi yang dibicarakan hanya omong kosong.

Dalam lirik lagu “Cukuplah Pagi yang Telanjang” juga terdapat diksi-diksi sederhana, seperti telanjang, kopi, omong kosong, hujan. Diksi-diksi tersebut dirangkum dengan diksi-diksi lain sehingga menjadi sebuah kalimat liris penuh makna, “cangkir kopi bercerita/ tentang omong kosong kita// sayang tak usah cari alasan/ kenapa hujan tak datang/ sayang cukuplah pagi yang telanjang/ menanggalkan malam/ baiknya kau diam dalam pelukan”.

Demikianlah, unik dan menggelitik. Lirik lagu yang ringan dan sederhana, tetapi tidak melupakan makna. Jika lirik lagu Kopibasi tidak diberi nada maka kita akan menemukan sebuah puisi yang mengingatkan kita pada karya-karya penyair Joko Pinurbo. Penyair yang diberi julukan Penyair Celana itu telah memenangkan banyak penghargaan dalam dunia sastra dan dianggap membuat penyegaran dalam dunia perpuisian Indonesia.

Semoga Kopibasi juga mengikuti apa yang telah penyair Megelang itu capai. Menjadi penyegar di dalam dunia musik Indonesia dan tentu saja mendapat penghargaan sana-sini.


Baca Juga: 6 Hal Paling Masuk Akal Yang Bikin Kamu Harus Dengerin Kopibasi

Follow mereka di TwitterInstagram dan Youtube.


Written by Fuad E. Cahya

Kontributor Ngadem.com - Lelaki riang asal Bantul yang tak lagi jomblo. Suka baca buku, nonton teater dan mandi tak pake sabun. Tengah berjuang menaikkan kasta erotisme dalam khasanah media cetak serta visual.