in

Review Film As Above So Below: Paduan Nuansa Mistis dan Mitologi Yang Pas!

Ngadem.com – Dalam beberapa film yang menyajikan teknik dokumenter, memang bisa dibilang terasa membosankan. Namun bagaimana jika film dengan genre tersebut dikemas dengan nuansa mitos, horror, misteri, sekaligus thriller? Saya akui film As Above So Below yang dikapteni oleh John Erick Dowdle ini cukup menarik untuk ukuran film dokumenter. Jika boleh saya lakukan perbandingan dari segi adventure-nya, film ini hampir mirip dengan film Cloverfield dan Sanctum yang dirilis 6 tahun yang lalu. Menariknya, As Above So Below memiliki tema horror yang terbilang berkualitas dan tak menonjolkan sisi eksistensialisme perempuan seperti film-film Indonesia. Ingin tahu bagaimana intrik-intrik yang ada di dalamnya? let’s check it out!

Meski tak dibintangi oleh aktor kenamaan, sebuah film sudah pasti berhak mendapatkan apresiasi. Tokoh-tokoh sentral dalam film ini adalah; Scarlett (Predita Weeks), dan George (Ben Feldman) yang berperan cukup baik dalam tiap adegan. Film dibuka dengan sebuah scene yang mengambil latar Habala, di Iran, Scarlett berusaha menemukan sebuah petunjuk—untuk misi selanjutnya—berwujud prasasti di dalam sebuah gua yang saat itu akan segera dibom oleh pemerintah setempat. Setelah berhasil, ia mendapatkan semacam pencerahan untuk menemukan Batu Flamel; sebuah batu legendaris yang sekaligus membuatnya tertantang untuk melakukan petualangan dan menguak sejarah di bawah glamornya kota Paris.

Sebelum lanjut, barangkali harus saya beri bocoran mengapa pemeran utama dalam film ini adalah seorang wanita. Ya, Scarlett Marlowe adalah seorang profesor di Universitas College, London. Ia mempunyai gelar Ph. D. di arkeologi rakyat, Master dalam ilmu kimia, dan Ph. D. lainnya di simbologi. Ia juga fasih dalam 4 bahasa dan dua bahasa kuno. Tidak meragukan bukan?

Singkat cerita, ia harus menemukan ‘rose key’—yang merupakan langkah pertama—dan memulai petualangannya di Paris. Nah, untuk mendapatkan ‘rose key’ tersebut ia juga harus menemukan makam seorang alkemi, Nicolas Flamel. Ketika tiba di Paris, banyak istilah asing yang membuat saya sedikit mengerutkan dahi, ya harap maklum, saya bukan arkeolog atau penerjemah bahasa asing, saya hanya penikmat udtu dan penyuka futsal.

Terdapat sebuah tempat yang dalam film As Above So Below disebut Catacomb. Ketika saya browsing, Catacomb ini adalah area pemakaman bawah tanah yang terletak tepat di bawah kota Paris dan menampung kira-kira enam juta jenazah. Menariknya, ada lebih banyak jumlah mayat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada di atasnya -Wikipedia.

Nah, untuk memasuki Catacomb tersebut, akhirnya Scarlett membuat sebuah tim untuk melakukan perjalanan bawah tanah. Tim terdiri dari Scarlett, George, Benji, Papillon, Souxie, dan Zed. Dari mereka ber-enam, hanya 3 yang berhasil keluar dari Catacomb dengan selamat, yakni Scarlett, George dan Zed. Tiga orang lainnya tewas dengan cara yang sungguh mistis, dan saya kira mereka adalah tumbal dari kehororan film ini. Ingat! Horor dalam film ini menurut saya sangat berkualitas!

Jika boleh saya melakukan penilaian, film yang dirilis tahun 2014 lalu ini dirasa pantas mendapatkan nilai 7 dari skala 1 sampai 10. Mengapa? Karena unsur dan nuansa mystical dan horror-nya sangat manis berpadu dengan unsur-unsur mitologi dan simbologi. Jika ada kalimat kontemplatif yang saya tangkap dalam film ini adalah:

“Seperti di atas, begitu juga di bawah. Kata itu dipercaya sebagai kunci semua sihir. Artinya, apa yang ada dalam diriku, berada di luar diriku. Begitu juga yang ada di dunia, ada juga di surga. Seperti diriku, begitu juga selku. Begitu juga atomku, begitu juga tuhan.”

This slideshow requires JavaScript.

Written by Muhammad Hanif

Kontributor Ngadem.com - Pemuda kekinian asal Bantul yang menggandrungi dunia film dan sinematografi, Sedang sibuk menyususn skripsi berasaskan Kajian Ekranisasi di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.