in

Winter’s Tale: Soal Cinta, Keajaiban, dan Semesta dalam Film Fantasi

“Bagaimana jika suatu saat, tak ada bintang di langit? Bagaimana jika bintang tak seperti yang kita kira? Bagaimana jika cahaya bintang bukan berasal dari cahaya matahari, melainkan sayap kita yang berubah jadi malaikat?”

Siapa yang sanggup menahan rasa penasarannya ketika hal semacam itu menjadi prolog dalam sebuah film? Well, itulah yang terjadi dalam film Winter’s Tale. Film ini bukan tentang kisah nyata, tapi tentang bagaimana cinta itu terbentuk dan tertahan di antara jutaan bintang di semesta raya, atau kebanyakan orang menyebutnya sebagai; cinta sejati. Ya, kali ini kita akan mengupas film yang tak jauh-jauh dari kata cinta. So, here we go…

Review film Winter’s Tale

Dari sudut pandang alur cerita, Winter’s Tale memiliki alur cerita yang cukup menarik. Ceritanya merujuk pada pola reinkarnasi. Tokoh utama adalah Peter Lake, diperankan oleh Colin Farrell. Ia adalah seorang pencuri kelas pro yang dibesarkan oleh bos Mafia di kota New York. Si Bos Mafia ini sendiri diperankan oleh aktor kawakan Russell Crowe. Mereka sebenarnya adalah pembawa konflik dalam cerita ini, di mana Peter membawa subyektifitas keajaiban (miracle: sisi baik) dan Pearly Soames, si bos mafia membawa perwatakan setan (demon: sisi buruk). Awalnya, mereka adalah satu rekan, namun ketika Peter mulai menyadari panggilan takdirnya, semua jadi berubah. Ya, dari sini kita sudah bisa membaca bahwa film ini juga ingin menekankan perihal jalan takdir –destiny.

Review film Winter’s Tale
Russell Crowe (Si Bos Mafia)

Winter’s Tale membawa kita pada tiga masa yang berbeda. Ingat, tajuk dalam film ini adalah reinkarnasi. Pertama adalah New York 2014 (masa sekarang), 1895, dan 1916. Cerita yang paling banyak dibahas adalah pada tahun 1916 dan 2014. Berawal dari 1916, di mana Peter telah menyadari takdirnya, ia menemukan seekor kuda putih bersayap kemilau cahaya. Tanpa kuda itu, Peter tak akan pernah lolos dari kejaran Pearly, dan juga tak akan bisa menemukan jalan takdirnya. Sebab, diceritakan pula kuda itu adalah penunjuk jalan takdir. Hal tersebut terbukti dengan bertemunya ia dengan seorang gadis bernama Beverly Penn, diperankan oleh Jessica Brown Findlay. Cantik sekali, sungguh, dan saya baru tahu (dirujuk dari Wikipedia) aktris asal Inggris ini juga pernah muncul di serial ITV Downton Abbey dan Emelia Conan-Doyle di film Albatross. Beverly sendiri diceritakan sebagai seorang gadis yang hampir mati karena mengidap penyakit paru-paru yang begitu parah. Namun, di luar manusia biasanya, ketika ia semakin sakit, justru ia semakin jelas melihat keajaiban yang tak dilihat kebanyakan orang, seperti pantulan-pantulan cahaya, dan juga detak-detak jantung.

Di samping itu, ada sebuah sub plot berupa mitos yang disisipkan, yang kemudian menjadi hal menarik untuk direnungkan: Dulu ada seorang putri tidur yang hanya bisa bangun setelah dicium oleh seorang yang mencintainya dengan tulus, pun segenap jiwa. Setelah Beverly meninggal lebih cepat dari dugaan (karena racun), Peter melakukan seperti yang ada dalam mitos tersebut. Namun sayang, ia tak dapat hidup kembali.

Peter hidup sampai tahun 2014. Ini juga satu hal mengapa film ini saya sebut sebagai film fantasi. Namun, ia mengalami amnesia meskipun perlahan ia berhasil menemukan kepingan-kepingan kenangan di kepalanya. Akhirnya, ia menemukan reinkarnasi dari Beverly Penn dalam tubuh gadis kecil bernama Abby. Ia mengidap penyakit kanker. Ketika Abby meninggal, Peter melakukan apa yang dulu dilakukannya terhadap Beverly. Alhasil, Abby lah takdirnya. Takdir untuk hidupnya, untuk jalannya…

Kalau diukur dari skala 1 – 10, boleh saya bilang film ini berada pada nilai 7. Ya, ceritanya yang segar, dan sisi fantasinya yang juga ringan membuat film ini mengalir untuk dinikmati. Selain itu, tak banyak adegan menye-menye yang membuat perut jadi terasa mulas. Film yang di adaptasi dari novel Mark Helprin ini juga cocok untuk di tonton oleh berbagai umur (SU). Jadi, kamu boleh menontonnya dengan siapa pun yang membuatmu bahagia.

Terakhir, singkat saja. Saya ingin mengutip kata-kata naratif yang disampaikan pada epilog cerita:

“Bagaimana jika kita semua adalah bagian pola besar yang suatu hari nanti akan mengerti? Dan suatu hari nanti, saat kita selesai melakukan yang bisa kita lakukan, kita bisa naik dan bersatu dengan orang yang paling kita sayangi… berangkulan selamanya.”

Written by Muhammad Hanif

Kontributor Ngadem.com - Pemuda kekinian asal Bantul yang menggandrungi dunia film dan sinematografi, Sedang sibuk menyususn skripsi berasaskan Kajian Ekranisasi di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.