in

Film The Reader: Romantika Misteri Hidup Seorang Pembaca dan Pendengar di Zaman Nazi

Ngadem.com – Tentu saya yakin semua remaja saat ini pasti mengenal atau bahkan sudah menonton film Titanic. Kenapa Titanic? Siapa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar film Titanic? Tentu Leonardo Dicaprio bukan? Dan satu lagi… Ya, Kate Winslet. Tahukah kamu bahwa Kate Winslet meraih penghargaan di Academy Award-nya bukan dari film Titanic, melainkan dari film The Reader? Ya, absrud memang. Tapi tunggu dulu, sebab saya harus mengatakan bahwa akting Kate Winslet memang lebih jleb dan menghipnotis ketika bermain di film The Reader.

Pause…

Saya baru sadar setelah dua kali menyaksikan film ini, bahwa nuansa latarnya adalah di zaman Nazi. Ironis memang, ya harap maklum, sebab di film pertama saya hanya menyaksikannya dalam kualitas CAM.

Play…

Pertama, film ini mengambil latar di Neustadt, West Germany pada tahun 1958. Kalian ingat bukan bahwa pada masa itu Nazi sedang meledak-ledaknya untuk menguasai dataran Eropa? Uniknya, dalam film ini tak ada satu scene pun yang mem-visualkan kekejaman Nazi, melainkan intrik-intrik yang berada di sekelilingnya. Plot dalam film ini dibawa oleh dua orang, Michael Berg (muda) diperankan oleh David Kroos, Michael Berg (tua) diperankan oleh Ralph Fiennes, dan Hanna Schmit diperankan oleh Kate Winslet.

Sebenarnya ini adalah film flashback, yang mengungkap kembali cerita antara seorang pembaca dan pendengar. Dikisahkan Michael si anak yang hobi mengumpulkan perangko bertemu dengan Hanna yang menurutnya sangat misterius, seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba peduli dengan seorang bocah sepertinya. Mereka cepat akrab, bahkan adegan make in love dalam film ini tidak segan divisualkan. Sampai pada suatu hari, Hanna menbuat aturan: Michael harus membacakan cerita terlebih dulu sebelum mereka melakukan seks. Lambat laun Michael curiga pada kemisteriusan Hanna. Dan karena hal itu Hanna meninggalkan Michael, dan menghilang. Michael tak sengaja melihat Hanna kembali setelah 8 tahun di sebuah ruang pengadilan. Saat itu Michael sedang menjalankan study di jurusan hukum. Rupanya Hanna sedang terjerat sebuah kasus. Dalam kasus inilah kita akan tahu kaitannya dengan Nazi.

Review The Reader Kate Winslet

Setelah sempat berkata jujur akan semuanya, akhirnya Hanna harus mengakui sebuah kesalahan yang tidak diperbuatnya hanya karena jaksa memberikan tuntutan bahwa Hanna adalah ketua penjaga pada waktu itu. Oh ya sebagai informasi, dulunya si Hanna ini adalah seorang penjaga tahanan Nazi (orang-orang Yahudi), sebelum diciduk dikit demi sedikit untuk dimusnahkan. Nah, bagaimana Hanna mengakuinya?

Ya! Hanya karena malu! Sebab ia tidak bisa menulis atau membaca. Di sana Hanna mengelak bahwa ia bukanlah ketua penjaga pada insiden waktu itu, tapi ketika ia di suruh menulis untuk mencocokkan hasil tulisannya dengan apa yang ada dalam surat pernyataan, ia tidak sanggup lagi menahan rasa malu, akhirnya ia mengakuinya. Dan hanya Michael yang tahu kebenarannya. Kalian tak akan menyangka bagaimana sebuah rasa “malu” dibahas dalam film ini. Menakjubkan!

Setelah divonis seumur hidup, suatu hari Michael yang sudah dewasa masih mengirimkan rekaman—dalam bentuk kaset—dari apa yang pernah dibacakannya dulu. Dari situ Hanna mencoba belajar membaca dan menulis. Maka, saling berkirim suratlah mereka.

Tiba saatnya Hanna keluar dari penjara, Michael dihubungi oleh pihak penjara, sebab hanya ia satu-satunya orang yang dikenal Hanna dari luar. Dan akhirnya… Ahh.. sepertinya saya tak layak untuk mengungkapkannya di sini, sebab di sinilah surprise dan klimaks dalam film ini. So, kamu harus menontonya!

Ada sebuah ungkapan yang menarik dari Michael (seorang bocah) yang saat itu sedang bersepeda dengan Hanna:

“Aku tidak takut. Aku tidak takut apapun. Semakin menderita, semakin aku mencinta. Bahaya hanya akan menambah cintaku. Aku akan menajamkannya. Aku akan menjadi satu-satunya malaikat yang ia butuhkan. Hanya satu hal yang bisa melengkapi jiwa, itulah cinta.”

Meskipun banyak situs memberikan Film The Reader dengan nilai 7.6, menurut saya pribadi film ini pantas untuk di beri nilai 8.0. Alurnya yang santai dan puncak klimaksnya yang pas membuat saya sedikit lega untuk kembali melakukan hal yang biasa saya lakukan: makan, lalu ngudut, lalu nonton film lagi. Film ini khusus untuk orang dewasa, jadi sepertinya kamu harus menontonnya dengan orang-orang yang sudah dewasa ya –dari segi umur tentu saja.

Review The Reader

Written by Muhammad Hanif

Kontributor Ngadem.com - Pemuda kekinian asal Bantul yang menggandrungi dunia film dan sinematografi, Sedang sibuk menyususn skripsi berasaskan Kajian Ekranisasi di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.