in

Review Film Melancholia: Adakah Yang Berduka Untuk Dunia?

Ngadem.com – Sesaat setelah menekan tombol play pada media player, saya hampir tidak percaya bahwa ini adalah sebuah film yang digarap oleh salah satu produser kenamaan, Lars Von Trier. Namun setelah mengingat kembali film Antichrist yang dirilis pada tahun 2009 lalu, saya jadi sadar bahwa Melancholia juga termasuk dalam salah satu film yang memuat segala hal tentang imajinasi yang –jika boleh saya menyebutnya; liar.

Review Melancholia Kristen Dunst

Ya,  begitulah karakter dari produser Lars Von Trier. Ia adalah salah satu dari sekian banyak produser yang memiliki ambisi besar. Itulah sebabnya, tak jarang bila film-film garapannya banyak mengundang propaganda. Ya, propaganda. Penasaran? So, hal terbaik yang perlu kamu lakukan adalah duduk manis di depan laptop, siapkan minuman, makanan ringan, rokok (bila diperlukan), dan nikmatilah film Melancholia yang akan membawamu ke tempat dimana imajinasimu akan terealisasikan!

Film ini dari sudut pandang saya benar-benar istimewa. Amzing! Bisa-bisanya Lars Von Trier memadukan keindahan dan kengerian dalam balutan scient fiction nun misteri, mengalir begitu serasi. Tahu siapa pemeran tokoh utamanya? Mery Jane.. ahh, maksud saya Kirsten Dunst. Selain itu ada juga beberapa tokoh sentral dalam film ini: Justine (Kirsten Dunst), Claire (Charlotte Gainsbourg), John (Kiefer Sutherland), dan Leo (Cameron Spurr).

Apa yang ada dipikiranmu ketika membaca ‘Melancholia’? Bagi saya pribadi, pertama kali mendengarnya yang terpikir memang nyrempet-nyrempet dengan hal-hal yang berbau melankolis, mendayu-dayu, sedih dan lain sebagainya. Yup, memang tak bisa disalahkan bila kamu juga berfikaran sama, tapi saya berani jamin hal itu sangat jauh dari film ini.

Melancholia dihadirkan sebagai sebuah planet yang mempunyai orbit searah dengan bumi –dunia. Orbitnya begitu menarik, karena pada suatu saat ia akan mendekat ke bumi, mengelilingi, menjauh sebentar lalu mendekat—lebih dekat lagi, dan kalian akan tahu apa yang akan terjadi jika mereka saling bertemu. Itulah sebabnya dalam beberapa scene di film tersebut menjelaskan bahwa orbit planet Melancholia juga dijuluki sebagai “Dance of the Death” oleh para ilmuwan. Selama ini, Melancholia hanya bersembunyi di balik matahari.

Orbit bumi

Agak rumit memang jika dijelaskan secara tertulis, tapi lain cerita jika kamu melihatnya dari sudut visual-auditif. Bahkan, plot cerita pun tidak begitu penting di sini. Saya pikir 8.5 adalah nilai yang pantas untuk film ini. Keindahan visual dan kegelisahaan tiap bagian scene membuat saya berfikir; Adakah yang berduka untuk dunia? Adakah yang duduk merenung memikirkan bagaimana nasib dunia ditengah gencaran teknologi yang membabi buta di masa depan?

Selain itu, guna mendukung kalimat tanya di atas, di film ini terselip juga sebuah kalimat yang menarik untuk kita dipikirkan –yang tentu saja sifatnya tendensial. Kalimat ini disampaikan oleh Justine di—hampir—akhir cerita:

“Bumi ini jahat. Kita tidak perlu berduka-cita karenanya. Tak aka nada yang merindukannya. Yang aku tahu hidup di bumi adalah kejahatan. Dan kita sendirian.”

Ya, itulah beberapa hal tentang Review Film Melancholia yang bisa saya sampaikan. Sudah ada yang menontonnya? Bagimana mana yang paling membuatmu kagum? Yuk share di kolom komentar…

Written by Muhammad Hanif

Kontributor Ngadem.com - Pemuda kekinian asal Bantul yang menggandrungi dunia film dan sinematografi, Sedang sibuk menyususn skripsi berasaskan Kajian Ekranisasi di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.