in ,

Review Tiada Ojek di Paris: Manusia Jenaka ala Orang Jakarta

Ngadem.com – Baiklah, sepintas saya akan menguraikan biografi singkat pengarang buku ini.

Seno Gumira Ajidarma, dikenal sebagai prosais yang banyak menulis dari fakta-fakta sosial. Keberadaannya sebagai seorang wartawan juga, saat itu membuat karya-karyanya berada pada pergumulan antara realitas dan fiksi. Jadi, kita bayangkan karya Seno selalu bermula dari fakta sosial yang ia dapatkan sendiri dari investigasinya, atau paling tidak pengamatannya di kehidupan sosial. Karena bagi dia, Seno, dalam slogannya bahwa “ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara” maka wajar jika kita temukan dalam cerpen atau novel Seno ada bau mayat yang gosong dan berjalan sendiri.

Satu hal di antara hal lain, keahlian Seno di bidang kesusastraan, menempatkannya dalam deretan para pengarang nasional—bahkan dunia. Perihal ini dilihat dari banyak karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa asing. Di dalam karya prosanya, posisinya sebagai wartawan banyak berpengaruh di dalamnya. Misal dalam kumpulan cerpennya Saksi Mata yang menguak konflik Timor-Timor, begitu pun dengan Penembak Misterius, cerpen-cerpen yang berbicara tragedi 98.

Buku Tiada Ojek di Paris ini merupakan kumpulan kolom Seno Gumira Ajidarma. Buku ini tersusun dari sejumlah kolom dalam Affair (Buku Baik, 2004) dan Kentut Kosmopolitan (Koekoesan, 2008) maupun beberapa kolom yang belum dibukukan dari majalah Djakarta.

Kendati Seno menulis tentang Jakarta sudah lama, bahkan sebelum buku pertamanya itu terbit, buku ini, katanya, dirasa perlu hadir dan masih relevan hingga sekarang. Menurut penulisnya, kehidupan urban, yang pertumbuhannya memang dibentuk pergulatan pelbagai kepentingan, dengan segala keamburadulan yang diakibatkannya, adalah lahan subur untuk memeriksa usaha memapankan peradaban, dan membongkar mitosnya, agar kebudayaan bisa dilanjutkan.

Dari sudut ini dapat dimengerti mengapa Seno menulis kolom dengan tekun tentang Jakarta?—selain memang beberapa kebutuhan yang diinginkan oleh majalah Djakarta. Tentu banyak jawabannya. Sejak Daniel Ziv pada tahun 2000 meminta Seno untuk menulis di majalah tersebut, Seno tertarik untuk menuliskan masyarakat urban. Agaknya Seno tidak terlalu tertarik untuk membuat pencitraan tentang Jakarta dalam kolom-kolomnya. Dia lebih tertarik untuk mengkritik masyarakat urban di sana, sekali pun pada akhirnya itu bagian dari otokritik Seno. Karena itu, tidak mungkin, dari persoalan zebra cross, persoalan kartu nama, munculnya uang dengar, hingga muncul istilah manusia mobil,

Cover buku Tiada Ojek di Paris

Seno merasa dekat dengan kebudayaan itu tanpa sentuhan pengalaman empiris. Hal itu membuat sejumlah kolom dalam buku ini menjadi semacam sebuah obrolan santai. Dan seperti itulah, kolom dalam buku ini, yang diinginkan oleh pembaca; tulisan-tulisan santai yang melibatkan subjektivitas pengarangnya. Seno lihai dalam menjabarkan sebuah fenomena yang kompleks, masalah sosial yang kompleks; hal itu terasa dalam kolom-kolomnya semisal Manusia Jakarta, Manusia Mobil.

Di dalam Manusia Jakarta, Manusia Mobil (hlm. 21) kamu akan terbahak-bahak ketika membaca uraian Seno mengenai pola tingkah masyarakat urban di kota metropolitan semacam Jakarta. Di dalam kolom ini, manusia Jakarta akan dihadapkan dengan dua dunia yakni, dunia mobil dan kemacetan. Manusia dan mobil dalam sintesis kemacetan melahirkan semesta yang unik. Secara teoretis, waktu dalam kehidupan manusia Jakarta dibagi dua; di rumah dan di tempat kerja.

Menurut Seno, ini melahirkan dikotomi stereotip tentang tarik ulur antara keluarga dan karier. Dalam praktiknya, waktu yang 24 jam itu dibagi menjadi tiga: waktu di rumah, waktu di kantor, dan waktu dalam perjalanan yang bagi manusia Jakarta, hal itu berarti berada dalam mobil. Banyak perisitiwa aneh dan lucu yang dilakukan oleh masyarakat urban ini, misal makan sambil menyetir, teleponan sambil menyetir, menyetel hasil rekaman omongan dosen di dalam mobil, dan bahkan bisa saja digunakan untuk bercinta.

Menurut Seno, mobil memang bukan sekadar sarana transportasi. Oleh penjual koran, kemacetan menjadi sarana berbisnis. Di Jakarta transportasi tidak membuat bisnis menjadi lancar, sebaliknya, adanya kemacetan membuat banyak harapan larisnya koran dan majalah. Bahkan dalam kolom yang lain, Mobil: Sebuah Mitos (hal.169) mobil memiliki makna penting dalam suatu konteks tertentu—yakni bukan konteks transportasi, tapi mempunyai konsekuensi jauh lebih mendalam ketimbang soal gengsi dan nongengsi.

Uraian menarik tentang zabra cross; semua orang tahu kegunaannya: yaitu sarana bagi pejalan kaki untuk menyeberang jalan, dan para pengendara bermotor diwajibkan untuk mendahulukannya. Oleh orang Jakarta semua itu tidak digubris. Alih-alih sang pengendara bermotor langsung berhenti ketika melihat seseorang hendak menyeberang jalan—dalam kenyataannya si penyeberang malah diklakson, yang artinya sebuah teguran, yang bahasa kasarnya sebuah bentakan. Tulisan yang berjudul Zebra Cross (hal. 161)  ini, bagi penulisnya, merupakan sebuah ketimpangan kebijakan. Bahkan, bisa dikaitkan dengan sisi-sisi moralitas si pelanggar yang tidak tahu menahu keberadaban.

Kalau kamu mendengar istilah uang hadir, uang tutup mulut, uang keamanan, uang lelah, itu sudah biasa. Tidak hanya di Jakarta, kota sekelas Yogyakarta ataupun Bandung dan Surabaya pasti memiliki kebudayaan demikian—terutama yang berhubungan dengan birokrasi, atau hal-hal yang sifatnya formal.

Di Jakarta terdapat istilah “uang dengar”. Apa arti dari makna uang dengar? Seno mendefinisikannya dengan sebuah ilustrasi seperti ini: sebuah keluarga mencari rumah untuk dikontrak. Suatu hari, mereka menemukan rumah kosong yang memang dikontrakan. Maka mereka, setelah tengok-tengok dari luar, menelepon yang empunya rumah, setelah datang tersepakatilah suatu transaksi. Nah, ujug-ujug tetangga di sebelah rumah kontrakan meminta “uang dengar”. Apa peranan si peminta itu? Tidak ada. Oleh Seno, praktik-praktik sosial yang demikian adalah keajaiban yang serba ada di Jakarta. Tentu bukan keajaiban yang kontributif, sebaliknya, merugikan banyak pihak. Judul kolom ini Uang Dengar L; tentang makna suatu kata sebagai produksi sosial (hal. 102).

Review buku Tiada Ojek di Paris

Apakah masih ada gunanya membicarakan sebuah buku yang ditulis dengan semangat kritik atas fenomena masyarakat urban? Menurut saya, fenomena yang ditulis Seno dalam buku ini merupakan bagian dari dampak postmodernisme, suatu zaman yang menghendaki capaian lebih, atau sebuah keinginan yang melampaui zaman modern. Gejala ini bisa muncul di pelbagai kota besar di Indonesia, setelah manusia-manusianya tidak bisa mengendalikan tekanan sosial yang terjadi di sekitarnya.

Buku ini ditulis dalam rangka itu, memberikan sebuah kritik kepada pembaca, baik orang Jakarta atau nonjakarta. Sebagai sebuah ibu kota, Jakarta memang menarik untuk ditulis, seperti kolom dalam buku ini, dari banyak sisi. Dari sana, akan timbul sebuah sketsa pikiran jika pada suatu masa, kota-kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, akan datang satu adegan demi adegan yang tidak kalah aneh dengan Jakarta.

Soal pembicaraan novel atau cerpen-cerpennya Seno di atas, sebenarnya dia tidak pernah menyinggungnya di dalam buku ini, saya pun dengan segala hormat, tidak berniat mengait-kaitkannya. Hanya saja anda akan tahu, dan bahkan terkaget-kaget, dengan cara menulis Seno di dalam buku kumpulan kolom ini, yang membedakan dengan kolumnis-kolumnis kelas papan atas yang lain. Selamat membaca!

Identitas Buku

Judul                  : Tiada Ojek di Paris

Pengarang         : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit             : Mizan

Terbitan             : Mei 2015

ISBN                   : 978-979-433-846-9

Written by Mawaidi D. Mas

Kontributor Ngadem.com - Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Suka baca, menulis dan jalan-jalan. Menurut zodiak, lebih suka bekerja di dunia penerbitan.