in

Review Film The Help (2011): Kegelisahan Atas Diskriminasi Ras Kulit Hitam

Ngadem.com – Sepertinya, permasalahan sosial yang sampai sekarang menjangkit Amerika adalah masalah diskriminasi ras yang terus merantai tiap gerak kaum minoritas di dalamnya. Tentu, masalah ini bukan hal yang baru, mengingat ada begitu banyak kasus demikian jauh sebelum Indonesia kita ini merdeka. Meski luput, orang kulit putih selalu merasa rasnya adalah ras terbaik dan menganggap paling unggul dari ras lain. Di tahun 2000-an masalah ini mungkin sudah tidak se-banter dahulu, pun fakta bahwa presiden Amerika saat ini adalah orang dengan kulit hitam. Meski demikian, masalah ras ini menurut hemat saya tetap menjadi hal yang sungguh menarik untuk dibicarakan –bahkan dijadikan sebagai tema dalam sebuah film.

Ada apa saja di Film The Help?

Adalah film The Help yang menjadi salah satu film dengan isu diskriminasi ras yang cukup mengena. Film yang menerapkan setting tahun 60-an ini secara jelas menggambarkan sebuah isu diskriminasi ras antar kulit putih dan kulit hitam. Ceritanya dibalut dengan konflik yang kebanyakan tokoh utamanya adalah perempuan (baca: ibu-ibu) di kota bernama Jackson. Tiap scene menceritakan kejamnya mereka (si kulit puith ini) terhadap para pembantunya (si kulit hitam) dengan cara-cara yang tak bisa di nalar.

Cerita dimulai dengan adegan flash back (wawancara seorang pembantu berkulit hitam bernama Aibileen (Viola Davis) dengan seorang wanita kulit putih. Ia menceritakan bagaimana dirinya selama bertahun-tahun menghabiskan tiap detik waktupnya sebagai pembantu rumah tangga, melayani majikannya yang selalu saja berkulit putih. Selama menjadi pembantu, ia juga mengasuh anak dari majikannya yang di kemudian hari menjadi majikannya lagi (begitu terus sampai ia mendapatkan karier sebagai penulis).

Baca juga: Tamasya Lewat Review Film Fantasi Musikal Into The Woods (2014)

Cerita pun berlanjut, kehidupan Aibileen dan majikannya  selalu dibumbui dengan berbagai masalah yang membuat saya –jujur begitu mengiris hate (baca: hati). Suatu hari, Elizabeth (anak dari majikan sebelumnya yang kini jadi majikannya) mulai terpengaruh oleh para ibu-ibu alay di lingkungannya. Satu tokoh yang berhasil memerankan karakter menjijikan dalam film ini bernama Hilly (Bryce Dallas Howard). Hilly adalah seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai ketua genk dari sebuah komunitas ibu-ibu alay di kota Jackson.

Hilly memiliki teori yang benar-benar sesat, bahwa para pembantu (berkulit hitam) mereka haruslah dibuatkan toilet sendiri di luar rumah. Hal ini karena Hilly meyakini para pembantu tersebut bakal menularkan penyakit jika menggunakan toilet yang sama. Hilly memiliki pembantu bernama Minny (Octavia Spencer), yang dikemudian hari ia pecat karena menggunakan toiletnya. Tidak, si pembantu tersebut belum sempat mengeluarkan urine-nya, dan sudah di pecat duluan. Para ibu-ibu alay akhirnya berhasil disesatkan oleh Hilly dan mereka meng-iya-kan pendapat Hilly untuk membuatkan toilet sendiri bagi para pembantunya yang berkulit hitam.

Kemudian muncullah sosok Skeeter (Emma Stone), seorang perempuan dengan rambut keriting keemasan yang merasa tergetar hatinya melihat kelakukan para ibu-ibu alay tersebut. Skeeter ini baru datang ke Jackson setelah sekolah di luar Kota. Oh iya, wanita ini berkulit putih, masih lajang dan memeliki pemikiran yang jauh berbeda dengan mereka si kulit putih.

Baca juga:  The Physician (2013): Film Yang Harus Ditonton Dokter, kah?

Skeeter yang bercita-cita menjadi seorang jurnalis atau novelis atau keduanya, kemudian berencana membukukan kisah-kisah para pembantu kulit hitam atas perlakukan yang mereka terima dari majikannya. Langkah ini menurut Skeeter –niscaya bakal mengubah konsep pemikiran melenceng dari ibu-ibu alay di Jackson tersebut. Berhasilkan?

Bagi saya pribadi, The Help menjadi film pertama yang saya tonton di awal bulan Juni 2015 dan cukup menggetarkan dada dan dada orang di sebelah kamar kos saya. Film yang mendapatkan banyak penghargaan ini berhasil menyampaikan isu utamanya (diskriminasi ras) dengan cukup santai dan tak terburu-buru. Tiap scene dan dialog yang dimunculkan bukan hanya berkualitas, tapi juga sungguh menghibur.

Baca juga: Review Film Last Knights (2015): Tentang Balas Dendam dan Praktik Korupsi di Abad Pertengahan

Meski banyak berbicara tentang diskriminasi ras, jangan kira akan ada banyak adegan penganiayaan seperti FTV-FTV Indonesia itu. Percayalah, film ini mengungkapkan masalah diskriminasi hanya melalui ucapan saja, dan menurut saya output-nya cukup jleb!.

Dari perspektif saya, The Help tak ada maksud untuk memojokkan mereka yang memiliki kulit putih.  Tentu saja hal ini terlihat dengan adanya sosok berkulit putih bernama Skeeter dan Celia (Jessica Chastain)  yang memperlakukan mereka (berkulit hitam) dengan cara yang bisa diterima akal logika.

Siapa tokoh yang paling keren dalam Film The Help?

Selain banyak hal yang tadi saya sampaikan di atas, yang menjadi kekuatan film ini adalah acting para pemainnya yang begitu memuaskan. Para pemain dalam daftar film The Help, yang kebanyakan perempuan ini sukses memainkan perannya masing-masing dengan nilai akhir yang sempurna. Duaribuempatratussatu jempol saya berikan pada Octavia Spencer dan Viola Davis! Ya, bagi saya pribadi tokoh utama dalam The Help bukanlah Emma Stone melainkan kedua wanita bebadan besar ini. Bahkan Emma Stone justru –malah jadi pendambing saja dalam film ini (menurut saya lho ya).

Ya, begitulah review atau perspektif saya dalam film The Help ini. Jika kamu suka syukurlah, jika tidak semoga tercerahkan saja. Hehe… Sebagai penutup kata-kata atau frase yang menjadi ikon dari film The Help adalah:

“You is kind. You is smart. You is important.”

 

Written by Reshie Fastriadi

Kontributor Ngadem.com - Pemuda beruntung yang lahir dan besar di lingkungan berbeda. Telanjur jatuh cinta pada dunia otak kanan dan Nasi Pecel khas Nganjuk. Sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah dan menata hati dari bisikan setan yang terkutuk.