in

Untukmu Siapapun Suamimu, Maaf Aku Tak Bisa Jadi Lelaki Yang Berada Satu Shaf di Depanmu

Kau selalu hadir sebagai masa lalu. Selalu begitu. Meski beberapa hari ini mulut lebih sering mengunci daripada telinga, percayalah perjalanan tak akan membuahkan hasil dari kata lelah.

Malam ini, kulihat langit menyeret mendung. Dengan peluh yang terus menebalkan pikiran untuk melakukan tindakan-tindakan aneh, aku melamun. Angin yang tak selesai meniupkan kata-kata rindu di dadaku, membuat gelap jadi terasa rawan.

Selepas rutinitas berakhir, aku duduk di meja ini. Di meja nomer A5 dekat jendela kaca. Di Limuny. Aku berencana menyelesaikan pekerjaanku. Tapi baru satu jam aku di depan komputer, otakku kacau. Mungkin aku kurang tidur. Tapi tidak. Aku tak boleh tidur! Kemudian aku iseng menulis ini. Di tengah keisenganku menulis ini, secara misterius seseorang mengirimkan pesan melalui inbox; mantan.

“Minta doanya ya…”

“Doa untuk apa?”

“Aku merit.”

“Wah… cepet ya?”

“:)”

“Kapan?”

“Nanti aku kabarin lagi. Kamu pasti aku undang.”

“:)”

Black out.

Kemudian aku melamun disela aku memandangi timeline profilnya. Membayangkan, atau lebih tepatnya mengorek kenangan yang dulu pernah kami perbincangkan di sebuah bukit dekat hutan-hutan. Jika mengingat dulu, seharusnya akulah orang yang kini ada di posisi mempelai. Aku sudah tidak lagi muda, sudah saatnya meminang dan menimang. Lalu kapan giliranku? Hei, apakah kau jawaban pertanyaanku yang kuajukan pada Tuhan?

Tiba-tiba perasaan itu kembali menyelimutiku, redup namun hangat. Seketika itu pula logika menggempur mundur perasaan ini, aku tersadarkan fakta bahwa kami sangat tidak mungkin bersama. Pembicaraan kami waktu itu tentang pernikahan terasa muskil.

Aku duduk di sebelahnya, di bangku beton ketika sore.

“Selalu berdebar saat duduk denganmu, ngalahin debaran saat aku sesak.” Ia membuka pembicaraan.

“Di usiaku saat ini, yang tidak muda lagi, bisakah kita pasrah pada realita? Ini terasa seperti khayalan,” Jawabku.

“Jenis khayalan kita yang mana yang tidak memungkinkan?”

“Mungkin khayalanmu tentang hubungan ini yang bisa terus melaju?”

“InsyaAllah, jika itu akan menjadi kenyataan, kita akan bersama.”

Kami kembali terdiam beberapa saat. Sore yang terik itu terasa sendu. Ia melanjutkan kalimatnya.

“Aku punya penjelasan untuk semua pertanyaan kamu. Ingat waktu aku sesak? Aku buka mata, ada kamu sambil megang tangan aku, entah kenapa hatiku ngerasa klop. Bukan euphoria karena efek senja atau suasananya. Ada kamu, ya, ada kamu.”

“Kamu berlebihan untuk lelaki yang belum lama kamu kenal. Kamu ingat waktu aku bilang kamu potongan puzzle yang pas? Kamu masih potongan puzzle yang pas, aku hanya sedang bingung antara menempatkan kamu di ruang kosong itu atau ngga.”

“Memangnya manusia bisa ngingkarin perasaan mereka ya? Aku pribadi ga bisa. I’ve tried to step back, but when you said it’s gonna be your last day in the city, there’s some feeling of regret if I didn’t take the chance. A man and a woman from different city, not even know each other so well, but in God’s destiny, here we are, loving each other, in spite of apart by distance. But lately you seem pesimistic.”

“I’m not being pesimistic, I’m just being realistic.”

“Selama kamu masih genggam jariku, selama aku masih bisa ngeraih genggamanmu kalau mungkin suatu hari akan terlepas, ga ada yang berubah.”

“In what kind of reality a guy like me can marry a princess like you?”

“I’m not a princess!” Intonasinya sedikit meninggi, nampaknya ia kesal dengan masalah status sosial yang disematnya. Ia menarik nafas dalam lalu melanjutkan kata-katanya.

“Let’s make it simple, what do you want?”

“I’m asking you to be happy by leaving me, find a guy who fits you, a guy who always be there for you when you’re too weak, there for you to celebrate your days. Cari seseorang yang bisa bersama kamu melewati waktu.”

“Aku ga tau kamu kenapa, ga tau jalan pikiranmu kaya gimana, aku kaya kehilangan sosok kamu yang waktu itu.” Ia berusaha memegang punggung tanganku sebelum akhirnya aku lepaskan.

***

Untuk kamu siapapun suamimu, maafkan aku tidak bisa menjadi lelaki yang berada satu shaf di depanmu. Sungguh bukan hanya karena jarak pun status sosial aku memilih pergi, tapi juga karena hatiku tak pernah benar-benar utuh ada di sebelahmu. Hatiku masih menyerupai ragaku yang saat ini menjadi nomaden, kami belum bisa menetap di satu rumah. Aku tahu kau tak pernah mengizinkanku untuk meminta maaf, tapi…maaf, maaf, maaf, bukan aku menyesali perjalanan kita, aku hanya menyesal tidak pernah bisa menjadi lelaki yang cukup baik untukmu. Terimakasih perjalanan singkatnya, terimakasih telah sejenak menghapuskan luka lebam yang aku jinjing dari masa lalu. Jaga dirimu, berbahagialah.

Written by Akshanitaquin

Kontributor Ngadem.com - Tak ada yang bisa kuceritakan padamu tentang diriku. Santai saja, aku hanya menulis, jika kau suka terima kasih, jika tak, kudoakan kau lekas suka.