in

Hai, Kapan Kembali?

“Bersama ini, kutenggelamkan keangkuhan-keangkuhan yang (pernah) berada disini. Semoga, ia lekas kembali. Seperti dulu, ketika malam selalu berseri-seri saat gerimis menghampiri.”

Jam di dalam ponselku menunjukan angka 01:10. Lalu, kuletakan kembali ponsel di atas lantai yang sudah cukup tua. Aku duduk di depan sebuah cermin yang menempel pada tembok bercat hijau muda, sementara televisi di atas meja terus saja bersuara tanpa peduli ada hati yang terpenjara di sini.

Aku menatap lekat-lekat diriku sendiri yang kini tengah duduk khusyuk di dalam cermin. Kuelus lembut pipiku, juga rambutku. Lalu, aku tertawa malu-malu. Setiap kali aku becermin, entah kenapa aku selalu merasa kedua mataku ini sangat meneduhkan. Mungkin terdengar berlebihan dan mengada-ngada, tapi jujur itu yang aku rasakan. Sayangnya, hanya di dalam cermin aku bisa menemukan aku yang tampak seperti itu. Selepasnya, ah, aku kembali pada ketidakpercayadirianku yang cukup membuatku gila. Itulah sebabnya aku suka sekali bercermin; kapanpun, dan dimanapun. Sebab, cermin semacam media yang mampu menyihirku menjadi lebih dari apapun yang kukhayalkan.

Jam di ponsel menunjukan angka 01:35. Aku masih duduk di depan cermin, dengan sejumlah hal yang aku pikirkan. Tiba-tiba, wajah-wajah yang penuh dendam dan penuh kebencian bermunculan, berhamburan; menghakimiku tanpa ampun. Ada bulir air tumpah di pipiku. Ah, kepalaku pusing. Mataku tak lagi meneduhkan.

“Bagi para pembenci dan pendendam, barangkali kehancuran seseorang yang dibencinya adalah doa yang tak pernah berhenti untuk dipanjatkan. Semoga Tuhan lekas meredamkan. Semoga Tuhan lekas melapangkan. Semoga Tuhan lekas menenangkan.”

Jam di dalam ponsel menunjukan angka 01:56. Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahku yang mengusut, sementara televisi di atas meja masih saja bersuara dengan berita-berita yang entah. Selepas membersihkan wajah, kurebahkan badanku di atas kasur busa. Aku membuka beberapa album foto di ponselku; aku tersenyum. Kamu, ah..

Tadinya, aku ingin menelponmu, tapi sayangnya pulsaku tersisa 85 rupiah. Tadinya, aku ingin mengirimimu BBM, tapi aku aku takut menganggumu kasikanmu dengan beberapa kawan sepermainanmu yang katamu mengagumkan itu. Iya, kuakui, meraka mengagumkan, memang.

Oleh sebab itulah, aku tak pernah melarang apalagi marah saat kamu (terkadang) lebih memilih untuk menghabiskan waktumu bersama mereka dibanding aku. Melihatmu bisa duduk ceria bersama sejumlah kawanmu itu entah kenapa aku merasa sangat bahagia, entah kenapa ada perasaan damai dalam dada, dan entah kenapa hal semacam itu selalu mampu membuatku menitikan air mata. Barangkali, aku hanya sedang merindukan kawan-kawanku saat dulu aku duduk di bangku Sekolah Dasar, saat dulu aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, saat dulu aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, dan saat dulu aku bermain petak umpet bersama beberapa kawan sepermainanku di kampung halaman.

“Aihh.. Barangkali rindu semacam mesin waktu untuk kembali ke masa lalu.”

Jam di dalam ponsel menunjukan angka 02:27. Perutku terasa panas sekali, mungkin karena sambal sosis yang aku makan tadi, beberapa kali juga aku bolak-balik kamar mandi. Ah, lelah sekali.

Jam di dalam ponsel menunjukan angka 03:00. Sudah sepertiga malam rupanya. Kumatikan televisi juga lampu yang sedari tadi menyala. Aku harus tidur segera.

Selamat rehat. Jadilah pemaaf yang bijak…

Written by Akshanitaquin

Kontributor Ngadem.com - Tak ada yang bisa kuceritakan padamu tentang diriku. Santai saja, aku hanya menulis, jika kau suka terima kasih, jika tak, kudoakan kau lekas suka.