in

Tentang Kebencian Itu, Maukah Kau Sedikit Mengikhlaskannya?

Kutulis ini saat malam sedang gerimis; untuk kamu yang masih membenciku dan enggan memaafkanku.

Hai, apa kabar? Masihkah kamu mengutukiku kala hening malam mendatangimu? Masihkah kamu membusuk-busukiku saat kamu tengah asik berkumpul bersama beberapa teman kerjamu? Aku minta maaf jika aku telah melukaimu, sampai-sampai aku terus kau cerca habis-habisan. Aku minta maaf meski aku tau kata maafku tak akan mudah menerobos benteng kebencianmu padaku –yang katamu penuh dengan kemunafikan. Aku hanya ingin kita bisa berdamai, itu saja. Aku tak biasa hidup di kelilingi kebencian-kebencian. Bukankah kamu juga demikian? Bisakah kita baikan? Aku tau itu berat, tapi bisakah kamu mengikhlaskan?

Untuk kita yang pernah terikat dalam tali pertemanan,

Aku masih ingat saat kita duduk bersama dan saling bertukar cerita. Aku lebih senang mendengarkan daripada didengarkan, itulah mengapa aku tak pernah bosan saat kamu bercerita tentang apapun saja, termasuk tentang seseorang yang dulu pernah menjadi kekasihmu. Entah kenapa aku senang sekali menjadi pendengar, ada semacam kepuasan; ada kebahagiaan. Bukan maksud ikut campur, hanya sedikit usil saja. Ah, kenapa aku selalu saja menitikan air mata bila tengah mengingatmu?  Aku tak menduga akan dibenci separah ini. Jujur saja, dari semenjak dahulu aku selalu menghindari kebencian-kebencian. Aku seorang perempuan yang sangat cinta akan kedamaian. Dan, kebencianmu juga orang sekellilingmu padaku benar-benar membuatku jatuh. Aku minta maaf, karena (mungkin) telah melukaimu terlalu dalam. Aku minta maaf.

Untuk kita, yang pernah saling bertukar cerita,

Meski kini kita tak lagi saling menyapa, setidaknya dulu kita pernah saling tertawa dan saling bertukar cerita. Btw, sedalam apa kebencianmu terhadap aku sampai-sampai kamu terus saja membusuk-busukiku? Sedalam apa rasa kecewa dan sakit hatimu sampai-sampai kamu sulit untuk memaafkanku? Perlu kamu tahu, aku tak pernah merebut kekasihmu, bahkan aku tak pernah ada niatan seperti itu. Sungguh! Tapi, jika dengan membenciku membuatmu jauh lebih bahagia dan damai, maka aku tidak apa-apa. Bencilah aku sesukamu, maki-makilah aku sepuasmu. Tapi, selepasnya, semoga kamu mau memaafkanku. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa ada kebencian-kebencian. Bisakah kita baikan? Aku tau itu berat, tapi bisakah kamu mengikhlaskan?

Untuk kamu, yang akan tetap menjadi temanku meski kamu bertubi-tubi meludahiku. Boleh aku bertanya?

Kenapa kamu begitu membenciku? Kenapa kamu terus saja membusuk-busukiku? Alasan macam apa yang membuatmu melakukan hal yang demikian itu? Apa karena seseorang yang dulu menjadi kekasihmu kini menjadi kekasihku? Seperti yang sudah aku katakan tadi, aku tak pernah merebut kekasihmu, bahkan tak ada niatan seperti itu. Tapi, jika kini kami bersama, mungkin memang seperti itulah jalannya. Dan, untuk yang kesekian kalinya aku minta maaf. Maaf untuk apapun saja yang mungkin membuatmu kecewa dan terluka. Jujur saja, aku sedih kamu membusuk-busukiku, aku sedih saat kamu tak ada habisnya mengkutukku. Tak ada yang merasa baik-baik saja jika sudah dibenci sedemikian itu. Bagaimana bisa kamu yang ceria dan bermata teduh seperti itu menjadi begitu arogan dan mengerikan? Aku sungguh-sungguh minta maaf jika memang telah melukaimu. Aku minta maaf.

Barangkali kebencian adalah efek samping dari luka. Dan, barangkali keikhlasan adalah obat paling mujarab dan tak mudah ditemukan.”

Hei, semoga kamu baik-baik selalu..

Written by Akshanitaquin

Kontributor Ngadem.com - Tak ada yang bisa kuceritakan padamu tentang diriku. Santai saja, aku hanya menulis, jika kau suka terima kasih, jika tak, kudoakan kau lekas suka.