in

Untuk Barbara, dan Mereka Yang Tak Percaya Kenangan Bisa Menyembuhkan

Barbara yang baik.

Kutulis catatan ini dalam ruang yang pengap. Dalam malam yang begitu sunyi dan dingin. Diantara lampu neon yang tertidur dan bermimpi. Diantara suara-suara mahasiswa yang sedang merayakan entah apa di luar. Aku menulis catatan ini untukmu, Barbara. Untuk perasaan-perasaan yang hancur dan selalu terbelakang. Untuk rasa sakit yang begitu jauh dan mungkin tak tersembuhkan. Untuk mimpi-mimpi yang gagal terealisasikan. Ini untuk semua, Bar. Untuk semua kisah yang terpakasa harus selesai. Dan kamu, tak perlu berfikir keras untuk membacanya. Santai saja. Jangan buru-buru. Ini hanya ocehan yang tak penting dan non akademik!

Pendahuluan.

Barbara yang tak pernah mengeluh.

Sudah berapa hari ini kamu selalu datang di tidurku. Kamu pasti tahu kan? Sebab aku selalu memberitahukanmu tentang itu. Tapi kamu selalu menggapnya biasa saja atau; “Lu kangen kali sama gue..”. Tidak. Jujur aku tak begitu kangen denganmu. Aku hanya heran saja. Hanya heran. Kamu yang sudah begitu jauh ada di belakang, tiba-tiba muncul dengan banyak kejadian di mimpiku. Di pantai, di gunung, di lapangan basket, di sebuah tempat gelap, di gedung olahraga, di atas awan yang putih, dan di rumahmu tentu saja. Saat itu terjadi kita hanya berdua. Tak ada kata-kata yang loncat dari mulut kita. Kita hanya diam. Diam, diam, diam. Hingga kediaman kita membuat mimpi itu begitu nyata dan aneh. Tapi sudahlah. Bukan ini yang ingin kubicarakan disini. Bukan ini..

Pembahasan.

Barbara yang kadang mau menelponku tapi jarang kuangkat.

Malam ini aku merasa hidupku sudah mencapai puncak kelelahan. Aku mulai muak dengan hidupku, Bar. Dengan diriku sendiri. Dengan semua ini yang begitu menghimpit. Ini semua omong kosong! Buang-buang waktu! Aku lagi-lagi mengalami kegagalan dalam hal menjaga perasaan. Perasaan seseorang yang begitu halus tapi mematikan. Aku baru saja mundur, Bar. Ya, aku barus saja mundur dari hidupnya. Dan ini betul-betul tak menyehatkan.

Kita tak pernah tahu kemana laju hidup kita berakhir kan? Kita hanya tahu kita mempunyai pilihan harus dikemanakan langkah kaki kita agar kita bisa hidup bahagia. Kita hanya bisa berharap-harap cemas. Kita hanya bisa menduga-duga. Kita hanya bisa berdoa…

Barangkali Bar, aku tak akan pernah mengalami hal-hal seperti ini jika dulu aku jadi manusia yang baik dan benar. Aku merasa ini selalu ada kaitannya dengan orang-orang yang datang lalu pergi itu –termasuk kamu. Masalahnya, Bar, aku bukan orang yang pintar untuk memilih-milih pengalaman. Aku tak bisa membedakan mana pengalaman yang baik dan mana pengalaman yang buruk. Memang semua pengalaman itu baik, tapi mau dikemanakan-kah itu semua? Jika kita selalu merasa sakit hati dan tak pernah dapat kedamaian yang di janjikan itu? Begitulah, Bar, kita hidup sejatinya hanya untuk menunggu. Semoga kamu tidak lelah untuk menunggu, ya?

Kenapa ini begitu terasa menyakitkan? Kenapa ini begitu membuat semuanya terlihat rusak? Kenapa ini membuat dada sesak bukan main?

Barbara yang seperti Syahrini dan itu katamu sendiri.

Setelah aku menjalani hidupku di tempat ini, banyak hal yang ingin kubagi denganmu. Hal-hal yang mungkin akan berguna untukmu… Tapi sudahlah, Bar. Aku tahu kamu pasti mampu memilih mana yang terbaik untuk hidupmu. Jadi akan ku urungkan saja niatku itu. Dan kita akan masuk ke tahap selanjutnya.

Di tempat ini, Bar. Di tempat yang begitu banyak keraguan dan kebimbangan, aku masih tetap bertahan. Aku masih tetap berdiri atas diriku sendiri. Aku menjadi nyala bagi apiku sendiri. Ya, aku sendiri di tempat ini. Mencoba mematahkan nasib buruk yang selalu kutakuti.

Apakah Bar yang sebenarnya kita cari saat kita memutuskan untuk menjalin kisah kasih bersama seseorang? Tak banyak orang yang kebingungan untuk menjawab pertanyan itu. Kamu pun pasti bisa. Semuanya pasti bisa;

        1. Untuk mendapatkan kasih sayang yang tak kita dapatkan dari orang lain.

        2. Untuk membuat hidup kita lebih hidup.

        3. Untuk menggenapkan kehidupan kita.

        4. Untuk cari pengalaman.

        5. Untuk main-main.

        6. Untuk seks!

        7. Dan masih banyak lagi..

Tapi Bar, baru-baru ini aku kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu. Entah kenapa aku bisa langsung pusing sendiri. Aku merasa ada yang salah dengan diriku. Aku gelagapan, Bar! Tapi biarlah, semoga ini tak selamanya.

Penyelesaian.

Barbara yang tadi sore tak membalas SMSku.

Malam ini malam minggu. Malam yang seharusnya cerah dan bersahabat. Tapi di sini aku malah mengunci diri dari semuanya. Aku hanya tiduran, sambil mendengarkan lagu-lagu Michael Buble. Dengan beberapa kali merokok. Tentu saja ini tak sehat. Tapi ya memangnya apa yang bisa di lakukan? Sebenarnya Bar, aku ingin sekali ke laut. Mendengarkan riuh ombak yang tak jemu berguling-guling. Merasakan angin malam yang tentu saja beda dari angin siang. Menyentuh butir-butir pasir yang tak sempat melaju ke tepian. Barangkali bersama sekaleng bir dan sekantong kacang kulit. Ya Bar, aku ingin ke laut. Tapi aku tak bisa.

Demikianlah Bar catatan ini ku selesaikan. Mungkin kamu kebingungan atau bertanya-tanya; “Ini apaan sich?” tak apa. Biarkan itu seperti seharusnya. Karena sudah kubilang ini ocehan yang tak penting dan non akademik. Aku hanya ingin menulis sesuatu yang baru-baru ini meresahkan kepalaku dan hidupku. Paling tidak, ini, membuatkku percaya bahwa dunia beserta isinya selalu baik-baik saja.

Salam penuh apapun dariku.

Seorang yang tak pernah percaya bahwa kenangan itu bisa menyembuhkan; Akshanitaquin.

Written by Akshanitaquin

Kontributor Ngadem.com - Tak ada yang bisa kuceritakan padamu tentang diriku. Santai saja, aku hanya menulis, jika kau suka terima kasih, jika tak, kudoakan kau lekas suka.