in , ,

Ini Dia, Menu Wisata Pantai dan Pulau-Pulau Epic di Sumenep, Madura

Ngadem.com – Kalau kamu pernah baca buku-bukunya Hub De Jonge, sejarawan asal Belanda itu—atau Madura dalam Empat Zaman karya Profesor Kuntowijoyo, yang kamu dapatkan ketika sedang bicara kepulauan Madura, kesan pertama adalah panas; kedua gersang. Tentu keliru pembacaan sejarawan tersebut—dalam konteks kekinian. He’em. Dan bahkan, kepulauan Madura tampak terdengar sebagai salah satu tempat mengerikan.

Pernah dengar konflik Sampang-Sampit, kan? Atau konflik Sunni-Syiah beberapa bulan lalu itu? Nah, gara-gara tragedi itu nama Madura sebagai kepulauan jadi nggak baik. Kesan arogan dan main hakim sendiri menjadi sterotip orang Madura.

Baca Juga: Kenalkan! Pulau Bawean di Gresik, Jawa Timur: Destinasi Wisata Unggulan Pesaing Pulau Bali

Soal buku-buku di atas, kalau kamu cermat membaca, penelitian yang dilakukan oleh sejarawan itu hanya sampai di kepulauan Madura bagian barat saja. Jadi, jangan dulu underestimate ya… Nah, dari titik ini, kami akan mengajak kamu ke bagian timur Madura, yakni di Sumenep yang menyimpan panorama alam menakjubkan.

Sebagai kabupaten tertimur di antara tiga kabupaten lainnya, Sumenep kemudian dikenal sebagai kota pariwisata, sementara Pamekasan dikenal kota pendidikan, dan Sampang serta Bangkalan dikenal kota industri. So, saat kamu jalan-jalan ke pulau Madura, setelah sampai di Bangkalan lewat jembatan Suramadu, jangan langsung balik dulu. Rugi ada di Madura kalau cuma menginjakkan kaki di Suramadu doank! Suramadu mah nggak ada apa-apanya. Belum sahih kalau nggak sampai di kota pariwisata.

Baca Juga: Taman Ismail Marzuki (TIM): Wisata Seni dan Budaya di Jakarta

Jadi begini, kalau sudah lepas di Suramadu, berarti kamu tiba di Bangkalan, kabupaten paling barat di kepulauan Madura. Untuk tiba di Sumenep, kamu tinggal ikuti jalur Bangkalan–Sampang–Pamekasan–nah baru Sumenep. Hanya memakan waktu sekitar 5 jam-an jika keadaan lalu lintas baik-baik saja.

Bagi beberapa orang yang baru tiba di Madura, mungkin akan merasa: “Sumenep jauh kali, Anak?” memang, di mana-mana, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, toh?

Begitulah kalau ingin mendapatkan sesuatu itu, begitulah adanya kalau Sumenep, yang jauh dijangkau, tapi memukau.

Raudal Tanjung Banua saja, sastrawan terkenal itu, bilang kalau Sumenep itu Yogyakartanya Jawa, dan Parisnya Eropa. He’em. Iya nggak sama juga sih. Tapi benar apa kata Raudal, dalam sebuah catatan hariannya itu, Sumenep memiliki ciri khas tersendiri sebagai salah satu kabupaten di kepulauan Madura. Tengoklah peta, atau google map, di sekitar kabupaten Sumenep; ada 125 gugusan pulau berpenghuni dan tidak berpenghuni. Belum lagi tempat-tempat bersejarah bekas kerajaan yang akan membuka matamu bahwa Madura itu keren!

Dan kepulauan Giliyang, yang terdiri dari dua desa itu, dan letaknya di sebelah timur kecamatan Dungkek, ditemukan oksigen terbaik nomor 2 sedunia setelah Yordania.

Nah, sekarang kami akan mengajakmu menjelajahi Pesona Pantai Madura di Sebelah Selatan.

Karena Sumenep berada di ujung timur kepulauan Madura, maka jarak antara pantai Utara dan Selatan tidak terlalu jauh. Perjalanan ini memakan waktu 30 sampai 40 menit. Nah, kalau kamu ingin menjajal petualangan di Madura, maka kamu bisa memulainya dari Pantai Utara. Kamu akan disambut Pantai Badur Batu Putih dengan aneka bebatuan indah yang membentang di sepanjang sisi pantai. Pantai ini memang kurang begitu terkenal dan pengujung yang datang tak sebanyak pantai Lombang, namun tentu saja Pantai Badur Batu Putih memiliki ciri khas yang mirip dengan Salopeng dan Legung. Selain itu, kamu nggak akan dipungut biaya masuk ke Pantai Badur Batu Putih.

Pesona Pantai Balur Putih via lulusandika@blogspot.com
Pesona Pantai Balur Putih via [email protected]

Saran kami, jika ingin merasakan momen puitis, datanglah di pagi hari kala matahari menggeliat dari arah timur. Ini berlaku untuk pantai Utara karena posisi matahari bangkit sisi timur agak nyerong ke Utara. Matahari akan muncul di tengah keluasan laut pantai Utara.

Baca Juga: Perjalanan Ke Puncak Sikunir: Upaya Menjaring Golden Sunrise di Wonosobo, Jawa Tengah

Mlipir ke arah timur, kamu akan dikejutkan oleh pesona Pantai Salopeng. Pada mulanya, pantai ini terkenal dengan gunung pasirnya yang eksotis. Nggak perlu jauh-jauh untuk bisa merasakan bagaimana sensasi berjalan atau mendaki gurun padang pasir. Kamu bisa merasakan sensasi tersebut di pantai Salopeng. Tapi sayangnya, karena pasirnya yang oleh sebagian penduduk dijual, makin ke sini gunung pasir tersebut makin tak terlihat. Tenang… jangan khawatir… di Salopeng banyak pemandangan dengan background pohon-pohon kelapa dan lontar. Kamu bisa berfoto ria di bawah pohonan kelapa atau lontar di bibir pantai.

Setelah dari Pantai Salopeng, kamu bisa ke Pantai Legung. Selain pasirnya yang putih nun molek itu, Pantai Legung juga memiliki ciri yang sama dengan Pantai Lombang, cemara udang adalah tempat ngadem paling dominan. Bila tenggorokanmu kering, jangan khawatir, kamu bisa pilih mau berapa buah kelapa muda yang bakal menghapus dahagamu. Ada keunikan di Pantai Legung, tentang mitos air tawar yang ada di beberapa titik. Sebenarnya bukan lagi mitos, fakta itu telah menjadi realitas bagi masyarakat sekitar.

Air Tawar di Pantai Legung via www.kidnesia.com
Air Tawar di Pantai Legung via www.kidnesia.com

Seorang teman pernah membuktikan hal tersebut. Di pasir yang basah, yang air laut menjilat-jilat ke tepian, ia mengeruk pasir basah itu. Hasil kerukan di kubangan itu, tersisa genangan air yang tawar. Kami merasakannya sendiri, yang mula-mula, dengan kepercayaan kuat, tak mungkin ada air tawar di bibir laut sebesar ini. Air tersebut memang benar-benar tawar! Sama sekali tak terasa rasa asin. Kalau kamu ingin mencoba, ya boleh saja. Ingat jangan makan pasirnya!

Di pantai Lombang, mungkin ibarat Yogyakarta adalah Parangtritisnya. Pantai terbesar sepanjang pantai Utara dan memiliki keindahan tersendiri di antara pantai-pantai yang lain. Jangan harap ada losmen atau tempat penginapan di sini, baik itu di Badur-Salopeng-Legung atau Lombang, memang sengaja oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat tidak disediakan. Dan kalau pun ada, peraturan yang ada nggak akan sama dengan peraturan di beberapa tempat wisata lain di luar kota Sumenep. Untuk masuk ke pantai Lombang, kamu akan dikenai biaya tiket masuk sebesar Rp. 10.000 per kepala.

Puas dengan Pantai Selatan Madura, kini ayunkan kakimu ke Pantai Utara Madura!

Dijamin, pantai Selatan di Sumenep bukanlah pantai Selatan di Yogyakarta. So, nggak perlu ciut nyali kalau kamu ingin bermain sampan-sampanan ke tengah laut. Toh, di seberang pantai Selatan Sumenep ada sebuah pulau bernama Poteran, dan di Selatannya lagi agak ke timur ada pulau kecil bernama Gili Manuk, yang hanya dihuni oleh beberapa penduduk. Lalu buat apa main sampan-sampanan ke tengah laut? Pertama, kamu bisa memfungsikan momen itu untuk mancing ikan. Kedua, menikmati pesona pantai Selatan dari tengah laut. Ketiga, kamu bisa menikmati pesona matahari surup atau memandang eloknya gugusan bintang di malam hari. Nah, untuk bisa mendapatkan sampan itu, kamu bisa menyewanya dengan kapasitas 5-10 orang.

Pusat pantai Selatan kini ada di kecamatan Dungkek, kecamatan terujung di Sumenep.

Untuk menikmati keindahan pantainya, kamu bisa datang ke daerah bernama Toraja. Nah, di sini kamu akan disambut oleh pantai kecil yang dipenuhi panorama alam yang syahdu, puitis dan religius. Mulanya, pantai Toraja kurang begitu terawat, hal ini membuat banyak pelancong yang datang hanya memanfaatkan kawasan batu-batuan sebagai objek foto-foto atau, pada menonton panorama laut dan sampan-sampan berjajaran di tengah laut kala sore hari.

Baca Juga: Ngadem di Air Terjun Silo Leter dan Watu Lumbung

Oleh para pemuda setempat, pantai Toraja kemudian dirawat cagar budayanya, dibabat belukarnya di tengah julangan pohon kornes. Bak hutan pinus di Imogiri Yogyakarta. Perpaduan antara pohon kornes tersebut, ditambah suasana pantai yang sejuk tampak seperti gadis perawan yang tak bisa disunting oleh siapapun sehingga akan menjadi perawan sepanjang keberadaannya. Begitulah kalau itu analogi sebuah pantai.

Pantai Toraja Suset

Di Pantai Toraja, kamu nggak akan dipungut biaya tiket masuk. Kamu cukup pesan makanan khas Toraja di sana, minuman khas daerah Toraja seperti kelapa muda, atau es buah lontar. Emmm… rasa buah lontar itu selain manis, juga menyehatkan, menambah stamina jika nggak terlampau kebanyakan. Kamu bisa melepas penat di sana sesuka hati. Pemesanan sampan untuk mancing atau sekadar main-main ke tengah laut juga tersedia di pusat pantai Toraja. Atau, mau pesan ikan bakar? Bisa, kok.

Baca Juga: Tempat Wisata Keren di Makassar ini Harus Masuk List Destinasimu!

Di pusat pantai Toraja juga melayani antarjemput dengan memakai sampan meluncur ke pulau Giliyang, pulau dengan oksigen terbaik nomor 2 se dunia. Pemesanan sampan untuk ke Giliyang bisa dikordinasikan ke petugas Barung Toraja—kafe kampung tempat segala pemesanan selama di pantai Toraja. Di pulau Giliyang kamu bisa memilih tempat penginapan di sana selama yang diinginkan.

Baca Juga: 10 Wisata Gunung Ikonik Yang Bisa Kamu Daki di Indonesia

Nah… tunggu apa lagi! So, nabung dari sekarang biar bisa jalan-jalan ke pulau Madura-Jawa Timur. Oh iya, jika kelak kamu diijinkan ortu main-main ke pantai Lombang atau ke pantai Toraja, atau ke pulau Giliyang, jangan lupa bawa uang cash. ATM di sana jarang, adanya di kota kalau nggak kecamatan.

Punya penglaman di Madura? Yuk share di kolom komentar…

Written by Mawaidi D. Mas

Kontributor Ngadem.com - Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Suka baca, menulis dan jalan-jalan. Menurut zodiak, lebih suka bekerja di dunia penerbitan.