in ,

Review Buku Pasung Jiwa: Adakah Kebebasan Yang Benar-benar Bebas?

Ngadem.com – Ini tentang kebebasan individual. Semua datang dari sudut pengalaman dan impian diri tokoh-tokoh. Berbenturan. Novel karya Okky Madasari pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012, memunculkan novel yang berjudul Pasung Jiwa. Hampir semua tulisannya menjurus pada perlawanan atas ketidakadilan dan perjuangan untuk kebebasan dan kemanusiaan.

Tak ada lagi musik dalam hidupku. Ayah dan ibu telah merampas kebahagiaanku bersama dangdut, maka aku pun tak akan memberikan kebahagiaan pada mereka lewat piano dan music yang jadi kekaguman mereka.

_Pasung Jiwa, Hal. 27.

Aah, musik. Hampir semua problema dalam novel ini berawal dari dunia permusikan. Seorang anak yang senang musik dangdut harus menurut dan manut pada orangtua yang lebih memilihkan music-musik klasik, “music Kuno!” kata tokoh yang bernama Sasana dalam novel Pasung Jiwa. Sasana sendiri adalah tokoh utama dalam novel tersebut. Tokoh yang mewakilkan perlawanan terhadap ketidakadilan, tapi sayang perjuangannya tak berjalan mulus dan membentur dinding ketidakmampuan menghadapi kungkungan tradisi dan keluarga.

Meski condong pada permasalahan keluarga, Novel Pasung Jiwa ini juga secara tidak langsung dengan gaya tulis yang ‘melabrak’, menghadirkan permasalahan lain juga. Permasalahan tentang pergulatan manusia dalam mencari kebebasan, melepaskan diri dari kungkungan norma dan agama hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

Setiap hari mereka melakukan hal yang sama. Membawaku keluar dari sel, menanyaiku sekali-dua kali, sisanya mereka gunakan tubuhku untuk melayani mereka. Aku sudah kehilangan harapan, sampai pada hari keempat belas, mereka membawaku keluar dari gedung itu. Baru aku tahu di mana sebenarnya aku berada selama ini. Kantor Koramil. Mereka melepaskanku.

_Pasung Jiwa, Hal. 100.

Pertama gara-gara musik, lalu mencari benar-benar kebebasan, setelah itu? Mari membaca.

Written by Bagus Fadli

Kontributor Ngadem.com - Pemuda riang asal NTB yang teramat sayang dengan Yogyakarta. Seorang penjalan kaki, penikmat kopi dan pemeras isi buku duadimensi. Sedang suntuk mengurus semua hal tentang kuliah di Faklutas Bahasa dan Seni, UNY.