in

Menyelami Hingga Ujung Waktu-nya Sheila On 7 Dari Perspektif Anak SMP

Ngadem.com – Hingga Ujung Waktu-nya Sheila semakin membuat saya jatuh cinta pada Band yang lahir di Kota teristimewa di Indonesia ini. Rasanya lagu ciptaan abang Eros ini bikin pikiran saya meledak-ledak. Blow up! Tak tentu arah. Ya, kalau bahasa anak gaul sekarang seperti ingin garuk-garuk aspal, lah.

Sebenarnya lagu Hingga Ujung Waktu-nya Sheila ini sudah sering saya dengar ketika harga Djarum Super masih limaratus perak sebatang, namun karena tak sengaja mendengarnya ketika suasana di kos sedang mendayu-dayu, jadi dapatlah feel-nya. Di beberapa radio nasional pun, lagu ini mendapatkan tempat teratas dalam chart di tahun 2000-an awal. Apa yang membuat lagu ini –yang dimata saya begitu istimewa?

The Fault in Our Stars (2014)

Pertama, dari judul

Bagi beberapa orang, judul dalam sebuah lagu memang tak begitu dipentingkan. Yang penting adalah nadanya bagus, yang penting arasemennya bisa bikin happy, yang penting pas untuk dinyayikan pada sang pujaan hati dan yang penting ada buah dada digoyang-goyang atau lelaki berkacamata dengan baju V-nack sambil senyum-senyum gak jelas. Bagi saya pribadi, judul dalam sebuah lagu seperti pengatar; pengantar untuk bisa lebih masuk ke dalam arasemen dan tiap baris liriknya. Pemilihan frasa Hingga Ujung Waktu, saya rasa mampu membuat siapa pun yang membacanya akan tertarik untuk segera memutar lagu ini. Tentu saja, di beberapa lagu Sheila On 7, kebanyakan mengusung tema-tema percintaan, patah hati, bahkan baper! Inilah yang membuat frasa HIngga Ujung Waktu-nya Sheila pasti mengupas tentang hal yang romantis. Hingga Ujung Waktu. Sampai berakhrinya waktu, gw bakal terus sama elo! Njir!

Kedua, dari lirik

Fak! Lirik di lagu ini benar-benar setara dengan puisi-puisi milik Pablo Neruda atau bahkan Jalaluddin Rumi! Manis, tertata rapih, dan jos! Saya rasa, lirik semacam inilah yang membuat Sheila On 7 semakin liar memenuhi panggung konser di seluruh Indonesia. Ya, kita tahu ada begitu banyak lagu Sehila On 7 yang tiap liriknya sangat membekas di telinga orang-orang. Pemilihan diksi yang tak sembarang oleh Eros, memang membuatnya jadi pencipta lagu paling gokil sepanjang jaman. Eros lihai menyematkan diksi-diksi baru di lagu ini (yang pada saat lagu ini dirilis belum digunakan di band lain), seperti gontai, kelopak, tuan burung camar, bergelut dan lain sebagainya. Semua diksi tersebut menjadi satu kesatuan utuh yang semakin klimaks ketika digabung dengan paduan alat musik dan diksi lainnya. Ya, saya rasa Eros sengaja membuatnya seperti itu untuk bisa mendapatkan tempat di hari para pecinta musik tanah air. Selain itu, dengan melakukan hal tersebut, Eros menjadi pionir dari lirik-lirik bagus yang beberapa tahun kemudian muncul banyak band/solois dan mengusung tema lirik yang sama. Sebut saja ST12 (di album pertama), Beby Romeo, Last Child, Kotak (di single pertama) dan lain sabagainya.

Ketiga, dari arasemen

Pas! Udah itu aja; meski pun di lagu ini tak banyak menggunakan gebukan drum, hanya gitar, piano, dan beberapa efek tambahan dari keyboard.

Keempat, feel dari keseluruhan lagu

Men, kamu bakal bisa memungsikan otak kananmu lebih liar ketika mendengar lagu ini. Jujur, bagi saya pribadi, ketika mendengar lagu ini di moment yang tepat (sore hari), saya jadi ingin membuat sebuah cerpen dan memberikannya ke pacar saya. Lagu ini mellow, tapi malah membuat saya ingin menyuarakannya dengan lantang dan teriak! Ya, seperti tak cukup hanya dinyayikan saja. Mencermati tiap baris lirik dan arasemennya bikin saya gregetan. Ini lagu megang banget!

Wooiiii… gue cinta sama lo! Gue sayang sama lo! Gw gak mau kita jalan sendiri-sendiri! Plissss… jangan berenti saling memiliki sampe lu atau gue mati! Lo tu bener-bener biking gue terang! Lu ngelengkapin gue sampe ke ujung-ujungnya! Yuk merit aja yu lah!! Tapi janji pas lo jadi bini gue, jangan cape buat ngertiin gue, dan gue pun bakal kaya gitu ke lo! Ahhhhh…. anjirrrr!!! Gue sayang banget ma lo!

Nah, itu tu kalo lagu Hingga Ujung Waktu-nya Sheila dibuat paraphrase sama anak SMP.

Written by Reshie Fastriadi

Kontributor Ngadem.com - Pemuda beruntung yang lahir dan besar di lingkungan berbeda. Telanjur jatuh cinta pada dunia otak kanan dan Nasi Pecel khas Nganjuk. Sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah dan menata hati dari bisikan setan yang terkutuk.