in ,

Resolusi Penjara Buaya Pak Diso: Upaya Sederhana Membantu Jonesman Tanah Air

Ilustrasi by Erwan Susilo

Ngadem.com – Kemarin seyogyanya Pak Diso (Budi Waseno, Kepala Badan Narkotika Nasional) sudah tiba di Medan. Beliau datang bukan untuk terjun langsung menyaksikan kasus kebakaran asap seperti yang dilakukan Pak Joko atau pun Pakde Padlizonk. Kunjungan beliau ke Medan tidak lain dan tidak bukan yakni untuk berorientasi dengan buaya-buaya rawa yang konon hobi makan manusia. Nantinya kawanan buaya ini akan dikirim di suatu tempat terpencil dan jauh dari jangkauan orang-orang udik.

Wacana Pak Diso untuk mengekang terpidana narkoba dengan kawanan buaya tempo hari memang banyak menuai kontra dan pro (karena dinilai banyak yang kontra, jadi kontra ditaruh diawal) dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah  Regulus Johanli atau yang akrab disapa Kohli, mantan bandar narkoba yang kini telah insyaf dan menjalani sisa hidupnya sebagai padri. Menurut Kohli menghukum terpidana narkoba dengan menempatkannya di tengah-tengah kawanan buaya merupakan langkah yang kurang tepat.

“Kalau benar terealisasi, ini merupakan langkah kurang manusiawi, bagaimanapun, manusia tidak berhak menculik hak hidup manusia lainnya. Mereka-mereka itu (terpidana narkoba) berhak mendapatkan kesempatan kedua. Lebih baik beliau merehabilitasi terpidana dan menerapkan keamanan teknologi kekinian dengan sistem kendali pusat, seperti yang telah dilakukan oleh negara-negara bumi belahan barat”. Ujar Kohli yang saya temui disela-sela misa requiem.

Apa yang telah diutarakan Kohli merupakan tanggapan sensitif dari pernyataan Pak Diso yang menjelaskan bahwa jika bandar narkoba mati, yang akan dituduh membunuh adalah buaya. Nantinya yang ditutut dan diperiksa Bareskrim adalah buayanya.

Mengacu pada perspektif membuat jera dan takut, saya apresiasi wacana beliau, namun dalam perspektif tanggung jawab kematian terpidana narkoba, saya kurang sependapat. Menggunakan buaya sebagai penjaga sekaligus sebagai pengengsekusi terpidana yang kabur merupakan suatu kemunduran dalam langkah pemberantasan narkoba. Buaya tidak bisa dilayakkan seperti manusia. Binatang tetaplah binatang, agrsesifitasnya hanya akan muncul apabila lapar dan merasa terganggu. Beda jauh dan luas dengan manusia yang penuh dengan karunia Tuhan. Jadi akan sangat sulit untuk memanusiakan binatang, dalam hal ini binatang buaya.

Alangkah lebih baik jika gagasan Pak Diso ini direvisi terlebih dahulu. Dan kalaupun beliau berkenan, izinkan saya untuk turut serta ambil bagian merevisinya. Walaupun saya tidak pernah merasakan pengapnya atap ruangan di akpol dan akmil, walapun saya tidak suka narkoba dan menolak jika dikatakan tidak doyan narkoba, paling tidak gagasan dari buah pemikiran ini ada baiknya dipertimbangkan oleh Bapak.

Fasilitas dalam sel tahanan lebih diminimalisir. Tikar bisa menjadi alternatif untuk alas tidur para tahanan. Selain dioptimalkan sebagai alas tidur, tikar juga mampu menunjang perkembangbiakan kepinding. Ruang sel tahanan tidak perlu diterangi lampu, cukup dengan ventilasi secukupnya agar sinar matahari dan bulan bisa menembus. Untuk membuat jera, polesi terpidana dengan tungau di bagian area vitalnya sebelum masuk sel tahanan. Tentu Bapak tidak akan menemui kesulitan dalam mendapatkan tungau, mengingat peternakan ayam di Jawa sangat melimpah. Lha terus, buayanya? Tenang Pak, tak perlu mencemaskan buaya. Saya sarankan kawanan buaya tetap berada di penangkaran saja, justru nanti jikalau buaya ditenagakerjakan, khalayak ramai akan dilanda kemasyigulan, mengingat populasi buaya di Indonesia kini semakin menurun drastis.

Apabila nanti ada buaya yang mati membusuk, barulah bangkai itu dikirim ke Jawa, lumayan untuk disemur dengan irisan kecubung dan dihidangkan bagi para terpidana. Satu lagi, ambil seluruh kekayaan yang dimiliki terpidana maupun keluarga dan kerabat dekat yang menikmati uang haramnya. Uang hasil pemiskinan nantinya bisa dikembalikan ke Pemerintah. Lumayanlah buat nyicil hutang sama Pak BamBang.

Lantas bagaimana dengan terpidana yang telah berkeluarga? Justru ini menjadi terobosan sekaligus anugerah untuk para jones-jones di Indonesia. Jonesman yang selama ini menjadi pemuja wanita film biru (anda sebagai pembaca tentu tahu sendiri apa rutinitas keseharain jonesman), kini lebih mempunyai tendensi untuk belomba-lomba memamerkan dirinya pada sosok perempuan yang penuh pengalaman seperti yang didambakannya. Sebab dapat dipastikan para pendamping hidup terpidana narkoba mayoritas memiliki paras cantik dan penuh seksualitas. Soal bagaimana mencukupi kebutuhan anak-anaknya? Itu konsekuensi yang harus Jonesman tanggung. Gue ga mau mikirin.

Setuju atapun tidak setuju mungkin tidak begitu dihiraukan oleh sang empunya gagasan awal. Apalagi dalam waktu dekat beliau akan membahas grand desainnya dengan salah satu perwakilan presiden di Kementrian Hukum dan Ham. Tentu publik hanya dapat beropini sembari menunggu-nunggu Pak Diso menggelar konferensi pers di halaman kantornya.

10 November 2015
15.15

Written by Erwan Susilo

Kontributor Ngadem.com - Penikmat kopi, pengagum pagi, pengkaji mimpi, penerus Marley. Tengah sibuk skripsi di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY.