in

Kekuatan Latar di Cerpen Satu Hari dalam Hidup Santiago Karya Iin Farliani

Ngadem.com – Judul merupakan salah satu sarana cerita yang paling pertama dilihat pembaca, judul juga menjadi elemen lapisan paling luar dari sebuah karya fiksi. Cerpen Satu Hari dalam Hidup Santiago karya Iin Farliani pun demikian, cerpen ini secara keseluruhan berkisah mengenai kehidupan seorang Santiago yang merasa penat akan pekerjaannya dan ingin mendapatkan satu hal baru.

Cerpen ini memiliki kekuatan diskriptif yang baik, terutama dalam hal diskripsi latar. Pengarang cerpen berhasil menerapkan salah satu fungsi latar yaitu latar sebagai atomsfer fiksi, misalnya  saja pada suasana latar kantor di bagian eksposisi yang berhasil membuat pembaca merasa gerah dan merasakan suasana kantor yang panas dan membuat gelisah. Contoh lain yaitu pada deskripsi latar di tempat pesta, latar tempat pesta pada bagian klimaks menjadi titik dimana cerpen ini semakin “memeluk” pembacanya, suasana tegang satu kalimat dengan kalimat lain pada bagian klimaks dipercantik dengan penggambaran latar yang pas dan tidak berlebih-lebihan. Pada akhirnya latar sebagai salah satu unsur pembangun plot menjadi kekuatan dari pengarang cerpen ini untuk memikat pembacanya.

Kelemahan cerpen ini terdapat pada bagian akhir, sebelumnya pembaca dirangkul dengan klimaks yang memikat namun seketika dihancurkan dengan akhir yang menggantung. Namun hal tersebut berlaku untuk pembaca awam. Pembaca dengan tipe lanjut (kritikus misalnya) mungkin akan mengapresiasinya, hal tersebut dapat dipahami karena sebuah plot  cerpen  dapat memiliki suspense, yaitu ketidakmenentuan harapan terhadap hasil akhir sebuah cerpen.

Suspense berawal ketika pembaca menyadari bahwa Mulo memiliki niat untuk menembak Rafles dikarenakan dendam pribadinya, namun oleh pengarang suspense itu diruntuhkan ketika psitol berpindah ketempat Santiago. Suspense kedua terjadi ketika pembaca mengira Santiago-lah yang akan menembak Rafles, dan suspense kedua diruntuhkan kembali dengan tertembaknya Marie oleh Rafles. Pengarang dengan cerdik membuat dua suspense yang berdekatan sehingga membuat klimaks menjadi aduhai. Tentu saja pembaca awam akan mengumpat atau sekedar jengkel dengan akhir klimaks cerita ini, namun tentu saja pula seorang pengarang memiliki caranya sendiri untuk menggandeng pembacanya, entah itu dengan cara membuat cerita sesuai keinginan pembaca ataupun dengan cara mengejutkan pembaca.

(Apresiasi ini sempat dibacakan pada diskusi kelas Bahasa dan Sastra Indonesia, UNY)

Written by Arga F. Yunansyah

Kontributor Ngadem.com - Pemuda Magelang tulen. Suka menyanyi bukan di kamar mandi. Tengah serius menyelesaikan skirpsi demi terciptanya harmonisasi alam semesta yang ciamik.